Hallo World!

Hanif Azhar, Terlahir di sebuah desa kecil di utara Lamongan, Brangsi dan dibesarkan di lingkungan kelurga super sederhana. Aku bersyukur pada Allah yang maha indah atas semua nikmat. Setelah bersusah payah menggendong perutnya yang semakin hari kian membengkak, akhirnya ibu melahirkanku pada 12 Maret delapan belas tahun lalu. Kehidupanku memang tidak pernah datar. Menjadi anak ke-6 dari tujuh bersaudara memang tidaklah mudah. Apalagi sejak kecil aku diadopsi oleh orang lain, bukan keluarga. Sulit, Bagi orang yang belum bisa menerima memang sangat sulit. Tapi aku selalu berpikir positif atas apa yang telah dilakukan orang tuaku padaku. Aku yakin ini pasti memang jalan terbaik bagiku yang telah digariskan oleh-Nya.

Tak kan ada kata-kata yang mampu mengungkapkan keindahan masa kecilku. Hanif kecil sangat nakal dan cerdas, ungkap tetanggaku. Walaupun aku tumbuh kembang bersama teman sebayaku di kampung, aku menyadari ada sesuatu yang berbeda di dalam diriku. Di saat anak-anak itu sibuk dengan bermain laying-layang ataupun mencari ikan, aku malah sibuk dengan buku dan cat air. Yang paling aneh, sejak kecil aku sangat tertarik dengan bahasa asing semisal bahasa Inggris dan Arab. Jadi walaupun teman-teman sebayaku pada asyik dengan dangdut, aku lebih menikmati lagu-lagu barat. Memang biasa di daerahku, orang tua akan bangga pada anak-anaknya yang lebih bisa bermain gitar daripada pintar akademik. Tapi yang pasti aku tidak mau menjadi pengekor mereka. Aku ingin ada perubahan pada pola pikir mereka.

Masa remajaku juga tidak kalah serunya. Sibuk di organisasi dan kegiatan-kegiatan kepemudaan baik itu dari sekolah atupun dari luar. Walaupun begitu, aku juga tidak mau kalah dengan urusan sekolah dan cinta. Karena aku yakin bahwa softskill pasti akan sangat bermanfaat bagi kita kelak. Hal ini juga sudah kurasakan. Sebenarnya aku seorang pemalas yang selalu menginginkan kehidupan yang aman dan nyaman. Tapi tidak tahu kenapa, sang khaliq berkehendak lain. Sejak kecil, aku selalu diberi amanat yang besar untuk jadi pemimpin. Dari ketua kelas sampai ketua OSIS waktu SMP. Tercatat juga pernah menjadi ketua calon ekskul bahasa asing da juga wakil ketua sentral seni (Cakranida) waktu SMA. Selain itu juga waktu SMA, aku aktif di kegiatan PMR, karya tulis ilmiah, dan juga jurnalis sekolah.

Saat ini aku menimba ilmu di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Tepatnya di jurusan Desain Produk Industri yang rencananya akan dijadikan Fakultas baru tahun depan. Aku sangat optimis akan masa depanku. Dengan bermodalkan berjuta impian indah dan niat tulus ikhlas beribadah pada Allah yang maha cerdas, aku siap menyongsong hari esok yang cerah…

Kehidupan Kuliah

Saat ini aku menimba ilmu di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Tepatnya di jurusan Desain Produk Industri (DesPro) yang rencananya akan dijadikan Fakultas baru tahun depan. Aku sangat optimis akan masa depanku. Walaupun berasal dari keluarga sederhana, aku harus tetap survive di kehidupan liar alam DesPro. Jurusanku memang terkenal sebagai jurusan paling butuh modal di ITS. Khususnya program studiku, Desain Produk, yang paling membutuhkan kerja keras dibandingkan Desain Komunikasi Visual (DKV) maupun Interior. Dengan segala keterbatasan yang kupunya, aku yakin pasti sang Desainer alam semesta ini punya maksud lain yang terbaik bagiku.

Jurusan DesPro lebih dikenal dengan IPS-nya ITS. Hal ini tidak luput dari anggapan mahasiswa non-despro yang mengira dirinya paling sibuk sendiri. Padahal sebenarnya di ITS, DesPro sendiri paling memerlukan kerja keras dibandingkan dengan yang lain. aku bisa berkata demikian karena sudah merasakan bagaimana nikmatnya begadang semalaman untuk mengerjakan pramana (salah satu mata kuliah yang menjadi momok anak DesPro). Kalau anak Teknik punya momok Fisika Dasar dan Kalkulus, kami anak Despro punya Pramana dan gambar bentuk. Bahkan di semester-semester depan kami harus lebih bekerja keras untuk mata kuliah Desain Produk I-V dan juga modeling. Selain dituntut bekerja keras, kreativitas pun masih tetap diwajibkan. Sehingga otak kanan kami tidak akan tenggelam ditelan zaman.

Selain kuliah, saat ini aku juga sedang disibukkan oleh On Job Training (OJT) sebagai jurnalis baru di kampusku tercinta. Walaupun sangat menyita waktu, aku senang menjalaninya. Ini adalah pilihanku sendiri dan aku harus mempertanggung-jawabkannya. Jadi ketika teman-temanku tidak jelas mau melakukan apa di waktu senggang, aku sudah punya agenda yang menarik. Disini aku bisa mendapat pengalaman baru, bertemu dengan orang baru, bahkan bertamu orang penting sekelas rector dan menteri. Pastinya tak semua orang punya kesempatan emas sepertiku :-D. Aku sangat berharap ini akan meningkatkan softskill yang kupunya.

Selain jadi reporter, aku juga diamanati teman-teman angkatan sebagai ketua kelas program studi Desain Produk Industri angkatan 2008. Belum puas dengan hal tersebut, semester depan aku berencana ingin join di Uereka TV, yakni sebagai insan broadcaster televisi lokal di kampusku ITS. Angan-angan yang masih melayang-layang di pikiranku masih banyak dan harus kugapai semua. Untuk jangka pendek, aku ingin nilai kuliahku dapat perfect, lalu jadi jurnalis tetap ITS online, dan semester depan diterima sebagai kru Eureka TV. Amien….

Aku dan Despro

Kadang masih terniang di pirkanku, apakah aku tersesat masuk DesPro? :# Apakah ini yang ku inginkan? Aneh memang, tapi ini realita. Sebelum masuk DesPro juga sempat terjadi konflik batin. Bagaimana tidak, sejak kelas XI SMA aku sudah punya keinginan masuk Teknik Kimia ITS. Berbagai juruspun sudah kupersiapkan untuk menggapai keinginanku tersebut. :yProgram Bimbel Intensif di Primagama yang sangat mahalpun kuambil. Sejak SMA aku memang sudah tidak pernah minta dibiayai orang tua. Karena banjir beasiswaku dan prestasi-prestasi yang melimpah pun mendatangkan uang. Aku juga menyadari bagaimana keaadaan ekonomi keluargaku.

Di akhir-akhir masa SMA, aku mulai mengenal dunia DesPro. Hal ini tidak luput dari prestasiku di bidang kesenian, khususnya seni rupa. Guru kesenianku pun dengan semangat ’45 memotivasiku untuk masuk DesPro. Sempat juga ikut program PMDK di Universitas nomor satu di Indonesia. Tapi aku gagal karena masalah basi, lagi-lagi faktor ekonomi. Sejak itu aku tidak berniat ingin ikut program PMDK lagi. Dimanapun dan kapanpun sama saja. Selain prestasi, financial juga memegang peranan penting. Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa Universitas tersebut pasti menyesal karena tidak menerimaku.

Dengan background yang asam-manis seperti itu, niatku tembus SNMPTN pun semakin membaja. Alhasil, aku diterima pada pilihan pertama, jurusan yang aku idam-idamkan sejak SMA, :d Teknik Kimia ITS Surabaya. Betapa bahagia dan bangganya aku beserta orang-orang terdekatku. Akhirnya impianku jadi kenyataan. Selang beberapa hari, hasil UMDES pun diumumkan. Tanpa kusangka, aku juga masuk di DesPro ITS yang notabene nya tidak ada persiapan sama sekali waktu tes. Bahkan aku mengerjakan semampuku dan tes gambarku juga bisa dikatakan standard. Hatiku pun berbunga untuk yang kedua kalinya.

Di tengah kegembiraanku yang dobel itu, aku tahu kalau aku harus mengambil keputusan yang tepat untuk masa depanku. Engineer atau Designer ? hal inilah yang selalu mengganggu pikiranku. Setelah melakukan pertimbangan dari berbagai segi, tidak lupa pula aku meminta ilham sang pemberi pilihan. Pada hari terakhir daftar ulang, akhirnya hatiku berlabuh di pelabuhan DesPro. Alhasil, nomor NRP pun tergolong buncit. Nomor 139 dari 150an pandaftar ulang. Mulai saat itu aku sudah memantapkan hati di dunia Desain. 3408100139 akan kujunjung tinggi sampai empat tahun kedepan. Misi jangka panjang di dunia perkuliahan adalah lulus tepat waktu dengan IPK maksimal. Syukur-syukur bisa lulus cumlaude, amien…