Qurban atau Adu Gengsi?

Hari Raya Idul Adha 1430 H yang jatuh pada Jumat (27/11) kemarin terasa begitu special. Rasa ini tentunya tidak didapat begitu saja. Rasa ini sangat kental terasa, apalagi dengan balutan pengalaman spiritual dan kejadian-kejadian unik menggelitik beberapa hari terakhir. Lucu, menarik, dan sayang kalau dilewatkan begitu saja.

Kisah Sebutir Semangka

Siang itu terasa terik. Matahari berada tepat diatas kepala. Rasa panas itu pun semakin menjadi-jadi bagi dua petani Kediri yang baru pulang menyangkul ladangnya. Keringat hangat terus berceceran dari wajah mereka yang nampak lelah. Seluruh pakaian dan tubuh mereka pun basah kuyup diguyur keringat yang tanpa henti mengalir deras. Lelah, letih dan lesuh, tak dapat mereka sembunyikan dari ekspresinya.

“Bazar, kita istirahat dulu yuk ! Disana ada gubuk tuh,” Ajak kholil
“Okey, kita istirahat sebentar ya. Menghimpun tenaga supaya tidak meleleh di perjalanan.” Jawab bazaar mengiyakan.

Mereka berdua pun beristirahat sejenak dalam gubuk jerami sederhana di tengah sawah. Spontan mereka berdua merebahkan punggungnya tanpa permisi. Sambil mengambil nafas panjang, mereka mengistirahatkan mata sejenak. Semilir angin berdesis tenang. Suara kicauan burung pun menemani Kholil dan bazaar yang tampak kepayahan.

Dengan mata setengah sadar, tampak sekotak kebun semangka di depan mereka. Kebun yang cukup luas di daerah itu. Puluhan semangka sebesar bola basket tersebar di penjuru titik kebun. Warna hijau tua dengan garis-garis kuning semakin menambah keelokannya.
“Zar, bazaar, ada kebun semangka yang mau panen tuh !” Ungkap Kholil sambil membangunkan sahabatnya.
“Oiya, kelihatannya seger banget kalo dimakan siang bolong begini.” Jawabnya.
“Gimana kalo kita ngambil satu buat ngilangin rasa haus ?” Ajak Kholil menawarkan.
“Wah jangan! Itu kan bukan milik kita. Gag baik Lil.” Tolak Baazaar.
“Halah, gag usah sok suci deh zaar. Toh Cuma satu kan? Paling-paling pemiliknya juga merelakan” jawab Kholil menenangkan.

Setelah terjadi perbincangan dan konflik internal, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk mengambil sebutir semangka di pojok kebun. Besar dan menggiurkan, memang. Apalagi dengan keadaan musim kemarau dan kepayahan mereka, pasti semakin menambah kenikmatannya.

Sayangnya, sebelum mereka berhasil mencapai klimaks kenikmatan, tampak sesosok lelaki kekar dari kejauhan. Sambil menodongkan kepalannya, dia mendekat kepada mereka berdua. Semakin dekat, semakin cepat pula detak jantung mereka. Sesampainya di sana, lelaki ini langsung melayangkan kepalannya ke wajah mereka.

Lelaki ini ternyata adik sang pemilik kebun yang notabenenya seorang polisi di daerah tersebut. Sehingga dengan mudah meyikat dua petani kelelahan ini. Tanpa rasa kasihan, dia terus melontarkan pukulannya. Tanpa kesusahan, dia pun membawa mereka berdua ke kantor polisi setempat.

Naas memang, nasib mereka. Hanya karena sebutir semangka, mereka harus mendekam di penjara dengan ancaman hukuman maksimal lima tahun penjara. Dan perlu pembaca ketahui, ini bukanlah fiktif. Namun fakta yang terungkap dan menjadi fenomena di Indonesia. Ironis. Mencuri semangka senilai Rp 2.500,- saja diancam lima tahun penjara, sedangkan tidak sedikit koruptor milliaran rupiah terbebas dengan mudahnya. Menyapa dan melempar senyum termanis mereka di depan layar kaca. Sungguh ironis.

***
Setelah makan hati dengan melihat keadaan social Indonesia di layar kaca, Saya sudah tidak sabar menanti hari esok. Hari special yang dinanti umat muslim sedunia, Idul Adha 1430 H telah tiba. Seruan takbir menggema dimana-mana. Mengagungkan nama Allah yang Esa.

Sesaat, Saya teringat kajian keistimewaan bulan Dzulhijjah rabu (25/11)kemarin. Rangkaian keutamaan bulan Dzulhijjah sangatlah banyak. Sebut saja rangkaian amalan haji. Haji merupakan rukun Islam yang kelima. Ibadah haji juga mengandung dimensi ritual, spiritual dan sosial. Selain itu, haji dapat dijadikan sebagai ajang napak tilas sejarah perjuangan nabi Ibrahim dan Ismail. Fantastik. Tidak ketinggalan juga puasa hari arafah pada 9 Dzulhijjah yang sangat besar pahalanya

Tidak terasa, hari raya kurban telah tiba.
Kalau diliat dari segi bahasa, kurban berasal dari kata Qarraba-Yuqarribu-Qurbaanan, yang berarti dekat atau mendekatkan diri. Hal ini tidak lain adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah. Lucunya, banyak orang yang mengartikan kurban adalah sebagai “penumbalan” untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik atau yang diinginkan. Dan mindset itu masih nampak jelas di seluruh lapisan masyarakat kita. Parahnya, tidak jarang orang yang menjadikannya sebagai ajang adu gengsi. Sungguh parah.

Saya bisa mengatakan demikian karena melihat langsung ke lapangan. Idul Adha tahun ini seperti biasa, saya habiskan di kampug halaman. Tepatnya di desa Brangsi, Kecamatan Laren, Lamongan utara. Seperti biasa pula, kampung saya selalu surplus daging setiap hari raya. Bahkan selalu meningkat tiap tahunnya.

Untuk tahun ini saja, terdapat 86 kambing dan 18 sapi yang akan dikurbankan. Ini belum termasuk hewan kurban yang disumbangkan keluar kampung. Padahal, kampung saya tidak lebih dari 500 kepala keluarga (KK). Sungguh menarik memang. Sampai dua reporter dari majalah Suara Muhammadiayah dan yang lain saya lupa namanya menyasar ke kampung saya untuk liputan beritanya. Tidak sedikit pula warga desa tetangga yang memasang wajah melas di sekitar TKP hanya untuk mendapatkan beberapa kilo daging kurban.

Saya sempat mendengar percakapan beberapa bapak di sekitar TKP. Sebut saja mereka A, B, dan C.
A : Tahun ini saya bisa kurban lho pak, walaupun Cuma seekor kambing.
B : wah, bagus tuh. Kalau saya sih sudah mampu menyembelih dua kambing untuk dikurbankan.
C : Alhamdulillah, kalau saya sudah mampu kurban sapi, pak.
A & B :Hebat. Tahun depan saya tidak akan kalah pak C.
C : Tunggu, itu baru kurban di kampung ini, belum yang di galangan luar. (sambil senyum sinis)

Hmmmm. Itulah sosok masyarakat kita. Bagus memang, kalau mereka benar-benar berkurban lillahi ta’ala. Tapi atmosfir adu gengsi dan kekayaan kental terasa di sekitar mereka. Padahal, Jangan sekali-kali ibadah kurban dijadikan sebagai ajang adu gengsi. Karena yang dinilai oleh Allah hanyalah ketakwaan kita, bukan sekedar dari banyak-sedikitnya jumlah kurban. Sebagaimana firman Allah berikut :
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya“ ( QS:Al Hajj[22]:37)

Sungguh ironis memang. Di satu sisi ada sekelompok orang yang sulit untuk berbagi. Sedangkan di sisi lain, saking semangatnya berbagi sampai-sampai dijadikan ajang adu gengsi. Subhanallah. Menjadi pribadi yang baik atau buruk itu suatu pilihan. Semoga kita semua mampu mengambil hikmah dari kejadian idul kurban tahun ini supaya menjadii lebih baik di masa depan. Amiin.