Urgensi Menuntut Ilmu

Ini bukanlah kali pertama penulis Ketika Cinta bertasbih tersebut berkunjung ke ITS. Kang Abik, panggilan akrabnya, sudah pernah sekali ke ITS ketika meledaknya novel Ayat-Ayat cinta beberapa tahun lalu. Dalam taujihnya, Kang Abik berpesan kepada peserta mentoring tentang pentingnya menuntut ilmu dalam Islam.

Rasulullah pernah bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib hukumnya bagi setiap muslim.”
“Jadilah kalian orang yang alim dan memahami tentang islam. Kalau tidak mampu, maka jadilah orang yang mau belajar Islam. Kalau belum mampu lagi, maka jadilah orang yang mau mendengarkan Islam. Kalau masih belum mampu, maka jadilah orang yang simpatik akan Islam. Kalau sama sekali tidak ada rasa simpatik, keterlaluan banget deh.” Ungkap penulis Pudarnya Pesona Cleopatra tersebut.

Selain itu, tingkat kepahaman tentang ilmu pengetahuan juga sangatlah penting. Apalagi pemahaman berdasarkan Islam. Tidak banyak orang yang memahami kalau Ilmu apapun yang ada di muka bumi ini adalah ilmu Allah. Dan ilmu di bumi ini hanya ibarat buih di lautan kalau dibandingkan dengan kuasa-Nya. “Oleh sebab itu, jadilah manusia yang tidak menyombongkan diri diatas bumi. Dan jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang kita miliki saat ini. Teruslah merasa kurang, kurang, dan kurang. Karena ilmu akan mengantarkan kita ke syurga,” tutur Kang Abik kepada peserta.
Barang siapa yang menuntut ilmu untuk mencari ridla allah, maka akan dimudahkan baginya untuk ke syurga.”
Kang Abik mengibaratkan, Setiap langkah mahasiswa ke kampus bagaikan langkah menuju syurga. Dia juga mengidentifikasikan ciri mahasiswa yang niat belajar lillahi ta’ala dengan gaya cool-nya. “Cirinya, kalau anak kuliahan ya selalu ceriah. Tak pernah tampak kusut mukanya. Walaupun diterpa berbagai macam tugas dan masalah. Dengan atau tanpa uang saku pun tetap bersemangat berangkat kuliah,” cetusnya yang disambut dengan gelak tawa peserta.

Dalam Islam, secara garis besar hukum dibagi menjadi dua. Hukum Syari’at dan Hukum Alam.
Hukum syari’at merupakan hukum-hukum islam yang terkait dengan muamalah, dan Hablumminallah (Hubungan vertikal dengan Allah) dan hablumminannas (Hubungan horizontal sesama manusia)

Hukum Alam adalah hukum-hukum Allah yang tersirat dalam alam semesta ciptaan-Nya. Misalnya saja hukum gravitasi bumi. Setiap benda yang dilempar keatas akan jatuh kebawah karena daya tarik bumi. Beberapa hukum alam lainnya misalnya hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai, dll.

“Jadi, Kalau hukum alam itu tergantung dengan sebab-akibat. Usaha manusia juga mengambil peran penting di dalamnya. Kalau mahasiswa itu rajin belajar, besar kemungkinan dia menjadi pintar. Walaupun ada beberapa kasus khusus seperti mahasiswa yang tidak rajin tetapi pintar, atau bahkan mahasiswa yang sangat rajin tapi tetap tidak bisa apa-apa.” Jelas kang Abik

Belajar Dari Imam Syafi’i

Imam Syafi’I merupakan salah satu imam besar yang tidak diragukan lagi kecerdasannya. Daya ingat beliau sangatlah tajam. Umur 7 tahun pun dia sudah hafal Al-Qur’an. Bahkan, karena kemampuan menghafalnya yang luar biasa, beliau selalu menutup telinga kalau melewati pasar dan keramaian. Khawatirnya beliau mendengar percakapan yang kurang baik dan syair-syair lagu yang tidak jelas.

Semua keistimewaan ini tidak didapatkannya dengan mudah. Sejak kecil beliau memang sudah rajin belajar dan menghafal. Beliau pun sempat mengungkapkan rahasia kecerdasan dan ketajaman hafalannya. Beliau membagi setiap malamnya menjadi tiga bagian

Sepertiga malam pertama digunakan untuk belajar dan mengajar. Sepertiga malam kedua untuk tidur dan istirahat. Sedangkan yang terakhir dimaksimalkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Untuk shalat tahajjud, I’tikaf, dan mengaji. Hal ini dilakukan dengan penuh keistiqomahan. Bahkan setiap hari beliau khatam Al-Qur’an.

Mentoring, Cara Efektif Dalam Belajar Dan Mengajar

Menurut Kang Aby, Sistem Mentoring sangat bagus kalau diterapkan di ITS. Walaupun ITS adalah sebuah institut yang berbasis teknologi, namun tidak menutup kemungkinan ITS menjadi kampus dakwah. Apalagi melihat antusiasme peserta mentoring tadi, Dia benar-benar optimis akan hal itu. JMMI sendiri juga merupakan kiblat mentoring di Indonesia. (hanza)

Banyak Jalan menuju Dakwah

Siapa sih yang tidak kenal dengan Habiburrahman El-Shirazy? Nama Ulama sekaligus penulis novel yang satu ini memang cukup familiar di telinga kita. Apalagi setelah meledaknya film yang bertajuk Ayat-Ayat Cinta. Sabtu (6/2) pagi, penulis Ketika Cinta bertasbih itu berkunjung ke kampus perjuangan dalam rangka Grand Opening Mentoring (GOM) yang digelar oleh Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI) ITS. Spontan, banyak peserta yang menghadirinya. Walaupun sebenarnya hanya diwajibkan bagi mahasiswa baru angkatan 2009 saja.
Dalam wawancara singkat bersama Habiburrahman El-Shirazy, dia sempat berbagi pengalaman emasnya. Mulai dari pahit-manisnya selama menuntut ilmu di Mesir, sampai pesan moral novel-novel cinta islaminya. Kang Abik, panggilan akrabnya, memulai dengan kegemarannya menulis.
“Saya suka menulis, terutama novel. Kita bisa menuangkan semua ide yang ada ke dalam tulisan,” ujarnya teduh. Kang Abik sendiri sudah gemar menulis sejak masih pelajar. Karya-karyanya pun sudah banyak yang menjadi best seller. Sebut saja Ayat-Ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih, Pudarnya Pesona Cleopatra, dan masih banyak lagi yang lainnya. Bahkan, beberapa novel yang syarat dengan syari’at Islam itu sudah divisualisasikan dalam film layar lebar.
Tidak terbantahkan, karya-karya Kang abik memang sukses di pasaran. Bioskop-bioskop Indonesia yang dipenuhi film horor pun semakin bersinar dengan datangnya film religi. Nuansa Islami layaknya sebuah oase dalam gurun perfilman Indonesia. “Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat besar. Minimal, pesan-pesan moral itu mampu diterima oleh masyarakat,” ungkapnya.

“Pesan moral yang ingin saya sampaikan tidaklah terlalu muluk. Saya ingin sekali membudayakan pergaulan remaja Islam yang sehat,” cetus lulusan Universitas Al-Azhar Mesir itu. Dia menjelaskan, tema cinta islami memang menjadi konsentrasinya. Hal ini karena keprihatinannya terhadap pergaulan remaja yang mulai bebas dan keluar dari norma, khususnya norma agama.

Menurut Kang Abik, menyampaikan pesan moral kepada masyarakat dengan cara yang menyenangkan sangatlah penting. Berdakwah lewat media tulis dan visual misalnya. “Dengan hal-hal menyenangkan, secara tidak langsung masyarakat akan mengambil hikmah dan esensinya. Mereka juga tidak akan merasa digurui dengan cara ini. Jadi, sejak awal saya optimis bakal mudah diterima.”

Mengenai setting karya-karyanya, mayoritas memang mengambil latar belakang tempat di Mesir. Karena selain terkenal dengan peradaban muslim yang menakjubkan, Kang abik juga mempunyai segudang pengalaman di Negara piramid ini. Bahkan tidak sedikit masyarakat yang mengira kalau karya-karyanya itu merupakan pengalaman pribadinya.


“Kehidupan Fahri di Ayat-Ayat Cinta memang mirip dengan saya. Kehidupan kampusnya juga seperti pengalaman kuliah saya. Jus buah favorit Fahri juga sama dengan saya. Namun, pengalaman ta’aruf dengan Aisyah masih kalah dahsyat dengan pengalaman pribadi saya,” ungkap Kang Abik disambut dengan senyum manisnya.