OCEAN WEEK 5 2010

Tingkatkan Perekonomian Indonesia Melalui Kelautan Dan Perikanan

Ocean Week (OW) 5, sebuah rangkaian kegiatan kelautan yang sangat bermanfaat bagi semua. Tidak hanya peserta dan panitia, namun juga masyarakat luas pada umumnya. Setelah tiga hari mengadakan Bakti Bahari Nasional (BBN) di panyuran, Tuban, tibalah saatnya mereka di ujung kegiatan. Salah satu event tahunan terbesar BEM ITS ini pun ditutup dengan Seminar Nasional Kelautan, Senin (22/3).

Semnas OW 5 kali ini mengusung tema Pengembangan Inovasi Teknologi Perikanan Dan Kelautan Untuk Menjunjung Perekonomian Indonesia. “Indonesia lebih dikenal sebagai negara agraris daripada maritim,” Ungkap Andrew Pradana Putra selaku ketua panitia

Menurut Mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan ini, Tujuan utama Semnas ini adalah merubah pandangan umum tentang laut di indonesia, terutama dalam bidang ekonomi mengenai besar potensi laut kita. Selain itu, dia juga berharap bahwa masyarakat sadar dan turut serta untuk mengoptimalkan teknologi dalam pengembangan potensi kelautan di Indonesia.

“Visi kami adalah Indonesia menjadi penghasil produk kelautan dan perikanan pada tahun 2015,” ungkap Ir. Hartanta Tarigan, PhD. Dengan visi yang begitu besar, misi kami adalah mensejahterahkan masyarakat melalui sumber daya laut itu juga tentunya, imbuh Sekretaris Direktorat Jenderal Pengawasan dan Pengendalian Sumberdaya Kelautan dan Perikanan Indonesia ini.

Hartanta menjelaskan, untuk mencapai misi tersebut tentunya tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh sebab itu, pembangunan sektor kelautan dan perikanan memiliki peran penting. Salah satunya adalah dalam mendukung peningkatan kinerja ekspor nasional dan pencapaian ketahanan pangan. Pembangunan yang terlaksana secara terstruktur, tersistem dan terencana dapat ikut mendukung penguatan pasar domestik. “Dari 15 komoditas pokok pangan ada 2 komoditas perikanan yang masuk sebagai komoditas unggulan untuk ekspor, yaitu tuna dan udang,” ungkapnya bangga.

Selain itu, peran serta dan kerjasama masing-masing lembaga juga sangat dibutuhkan. Mulai dari pemerintah, mahasiswa, sampai masyarakat pada umumnya. “Pemerintah Pusat seharusnya mampu menciptakan lingkungan kebijakan yang melahirkan kepastian untuk berusaha.” Katanya. Sedangkan, Dia menambahkan, Pemerintah Daerah memberikan ruang melalui kebijakan yang memberi kemudahan bagi lulusan perguruan tinggi untuk lebih berperan. Untuk pengusaha, menciptakan lapangan kerja dan kesempatan berusaha melalui reinvestasi atas keuntungan yang diperolehnya adalah solusi terbaik. Selain itu, Perguruan tinggi memfasiltasi dan mendorong inovasi termasuk Inovasi teknologi mutakhir. “Saya harapkan akan muncul inovasi-inovasi terbaru dari Fakultas teknologi Kelautan (FTK) ITS nantinya,” harapnya.

Menurut Hartanta, peran perguruan tinggi sangatlah vital. “Perguruan Tinggi harus menjadi bagian dari sistem jejaring kelautan dan perikanan nasional dengan membangun kompetensi yang sinergistik dengan pengembangan sektor kelautan dan perikanan,” ujarnya. Perguruan tinggi juga diharapkan mampu mencetak kader-kader intelektual di bidang kelautan dan perikanan yang memiliki kompetnsi yang mampu bersaing dalam kanca global. Oleh sebab itu, institusi ini juga harus memunyai grand strategy pengembangan kompetensi mahasiswa melalui jalur pendidikan, riset (inovasi teknologi) , dan pengabdian masyarakat tentunya.

***

Tanam Mangrove, Wujud Bakti Bahari Nusantara

Rangkaian kegiatan Bakti Bahari Nasional Ocean Week 5 akhirnya mendekati puncaknya. Minggu (21/3) pagi, seluruh panitia dan peserta melakukan prosesi tanam mangrove di sekitar pantai. Dengan menggandeng Mangrove Center Tuban, para siswa SMA ini belajar banyak hal baru tentang lingkungan dan pertahanan alam.

“Mangrove itu sangatlah penting sebagai banteng hidup pantai dari abrasi air laut,” ungkap Ali mansyur. Namun, dia mengungkapkan sedikit kekecewaan terhadap masyarakat yang mengabaikannya. Tidak sedikit warga yang membuka lahan baru serta pembantaian hutan bakau tanpa reboisasi. Alhasil, populasi mangrove dari tahun ke tahun pun semakin menurun.

“Saya bangga sekali dengan anak muda yang peduli terhadap lingkungan,” ujar ketua mangrove center Tuban ini. Selama ini, mayoritas anak muda hanya bisa bersenang-senang tanpa ada pemikiran jauh terhadap nasib lingkungan di sekitarnya. Oleh sebab itu, guru agama sebuah SD swasta ini sangat mendukung kegiatan segelintir anak muda seperti penanaman mangrove pagi ini.

Seorang penjaga hutan pun tampil di depan semua peserta untuk menjelaskan cara menanam mangrove yang baik dan benar. Dengan penuh kesabaran, dia menerangkan apa saja yang harus dilakukan. Dari menarik polybag sampai menanamnya di persemaian. “Tapi perlu diingat, hati-hati dalam menarik mangrove kecil dari plastiknya,” Mansyur memberi peringatan. Hal ini bisa menyebabkan akarnya rusak. Selain itu, penarikan yang kurang hati-hati juga mampu merusak polybag. “kan sayang dek, walaupun hanya gopek, tapi Polybag juga bisa digunakan kembali untuk menghemat pengeluaran dan mengurangi sampah plastik,” terangnya.

Seorang relawan pecinta alam juga turut hadir dalam kegiatan ini. Adalah Agus Satriyono, alumni Biologi ITS yang masih konsentrasi terhadap lingkungan di tengah kesibukannya. “Saya sangat senang dan mendukung sekali terhadap kegiatan adik-adik disini.” Ungkap Agus. Bahkan dia mengaku, dia datang ke acara Ocean Week adalah inisistif diri sendiri, panggilan alam, serta kepedulian terhadap kegiatan positif para juniornya

Selama tiga hari juga dia turut meramaikan OW 5 di Panyuran, Tuban. “Kalau dibandingkan dengan masa saya mahasiswa dulu, OW 5 benar-benar mengalami kemajuan pesat,” jelasnya. Mantan ketua penanaman mangrove pada OW pertama ini juga sempat menitipkan pesan terhadap peserta, “Peduli lingkungan tidak hanya dengan penanaman mangrove. Namun mulailah dari hal-hal kecil dan dari kesadaran diri sendiri.”

***

Take Him Out Ala Ocean Week 5

Keceriaan Ocean Week 5 memang tidak ada matinya. Walaupun dipadati dengan berbagai aktivitas, semangat peserta dan panitia sepertinya terus membara. Dengan penuh kegembiraan, mereka berbaur dalam kebersamaan outbond pada sabtu sore (20/3) dan Malam Akrab (makrab) pada malam harinya.

Puluhan kantong plastik berisi air sudah tertata rapi di samping tenda induk. Beberapa kantong arang juga turut menyertainya. Sony Junianto, selaku Koordinator acara Bakti Bahari Nusantara (BBN) mulai mengambil mikropon kemudian mengumpulkan seluruh peserta dan panitia di lapangan tengah. Dengan pakaian santai, mereka siap berperang dalam kompetisi permainan air antar kelompok.

“Seratus peserta dibagi menjadi sepuluh kelompok dengan berbagai macam permainan yang berbeda,” ungkap Sony. Namun, tambahnya, setiap permainan itu berbasis kerjasama tim dan kepemimpinan. Selain itu, kepercayaan terhadap sesama tim juga dipertaruhkan disini.
Salah satu kelompok ada yang mendapat tantangan melewati jaring-jaring rafia yang dibuat diantara pepohonan kelapa. Jaring-jaring itu berdiameter berbeda pada tiap lubangnya. Seluruh anggota tim harus bersusah payah melewatinya. Ada yang harus merunduk, bahkan diangkat bersama-sama untuk memasukkan temannya. Ketika salah seorang peserta tersentuh rafia, rentetan tembakan bom air pun melayang di seluruh badannya. “Basah semua deh,” kata Ermaya Wulandari, salah satu peserta.

Semakin sore, suasana pun semakin memanas. Perang bom air antara panitia dan peserta tak terelakkan. Kejar-kejaran layaknya Tom And Jerry terlihat lucu di berbagai titik. Bahkan, beberapa menteri kabinet Berkontribusi Untuk Bangsa juga tidak ketinggalan. Muhammad Hendra P misalnya. Dengan bergaya ala anak kecil, Sekjen BEM ITS ini saling lempar bom air dengan Muhammad Salim, Menteri Hubungan Luar BEM. “Kadang mahasiswa juga butuh berprilaku layaknya anak-anak untuk menghilangkan penat,” katanya.

Malam harinya, seluruh peserta dan panitia dikumpulkan kembali dalam balutan Malam Akrab (Makrab). Dalam event ini, sepuluh tim peserta, panitia, dan Kabinet BEM ITS akan mengadakan battle kreativitas. Setelah api unggun dinyalakan, mereka semua melingkarinya dan bersiap untuk saling pamer kebolehan.

Salah satu penampilan unik disuguhkan oleh kelompok dua. Dengan sarana seadanya, meraka menampilkan teatrikal bertajuk Take Him Out ala Ocean Week 5. Seperti acara pada sebuah televisi swasta, mereka pun memajang para jomblowan di depan peserta. Kemudian ada seorang gadis cantik yang harus memilih satu diantara beberapa lampu yang masih menyala.

Ketika sesi terakhir, akhirnya sang gadis memilih lelaki gagah pecinta olahraga. Namun sayang, adegan ini tidak berakhir bahagia. Tiba-tiba datang seorang waria menghampiri sang lelaki dann mengaku pacarnya. Dia pun mengiyakan kalau waria itu benar-benar kekasihnya. Sang gadis hanya bisa kecawa dan pulang dengan tangan kosong. Seluruh penonton tak mampu menahan tawa dibuatnya.

“Ajang ini memang dimaksudkan untuk mengakrabkan seluruh panitia dan peserta,” ujar Samsu Dlukha. Selain itu, ketua umum OW 5 ini juga menjelaskan, refreshing di tengah padatnya kesibukan dan agenda OW sangat diperlukan. “Alhamdulillah, sampai saat ini acara masih berjalan lancar. Peserta juga masih terlihat penuh semangat,” ungkapnya bersyukur.

***

Seratus Ide pembersihan Sampah Laut

Rangkaian kegiatan Ocean Week 5 yang ditunggu-tunggu peserta akhirnya tiba juga. Sabtu (20/3) pagi, tujuh dari seratus essay terpilih akan dipresentasikan di depan para juri. Kompetisi sehat ini diharapkan mampu memberi kontribusi bangsa tentang permasalahan sampah yang menumpuk di perairan nusantara.

Mengusung tema Bersihkan Laut Dari Sampah, presentasi ini berlangsung ceria. Puluhan gagasan unik lahir dari pikiran siswa putih abu-abu ini. Ide-ide menarik dan aplikatif tersebut membuat kagum dan bangga bagi kita semua, tidak hanya dari panitia dan juri, namun juga warga setempat.

Menurut Ir Hasan Ikhwani MSc, salah satu juri kompetisi essay ini, ide kreatif itu sangat penting ditumbuhkan sedini mungkin. Apalagi ide yang mampu diaplikasikan untuk mengurangi permasalahan global, yaitu sampah perairan. “Kalau masih SMA saja punya pikiran keren seperti ini, tidak mustahil saya berharap lebih di masa depan,” ungkapnya.

“Memancing Ide kreatif itu memang misi kami,” ungkap Sony Junianto. Mahasiswa Teknik kelautan angkatan 2009 ini mengaku sangat prihatin dengan permasalahan sampah kelautan di negeri ini. Mayoritas masyarakat branggapan dengan membuang sampah di laut maka semua permasalahan akan selesai. Faktanya, hal itu malah menambah permasalahan baru yang membawa efek domino terhadap ekosistem laut.

Salah satu ide menarik itu datang dari siswa SMA N 1 Bojonegoro. Adalah Abdullah Al-Azmy yang menggagaskan konsep pembersihan sampah karbon di laut dengan memanfaatkan mikroba. “Psedomonas sp adalah salah satu jenis mikroba yang mampu menguraikan ikatan kimia karbon. Dalam aplikasinya, organisme ini bisa digunakan untuk mereduksi plastik dan minyak di lautan,” terang siswa kelas XI tersebut.

“Sebenarnya, ide ini sudah diaplikasikan di luar negeri. Saya berharap ide ini mampu diaplikasikan di indonesia dengan pengoptimalan dan penyesuaian dengan keadaan negara kita,” harap Azmy. Dengan gayanya yang santai, Penghobi sepak bola ini mampu meyakinkan juri dan peserta lainnya. Dia sangat optimis hal ini mampu diterapkan disini.

Selama tiga jam, pertarungan presentasi dan argumen ini berlangsung sengit. Rentetan pertanyaan mematikan juga terlontar dari mulut para juri. Dengan berbagai macam cara, tujuh peserta ini pun berupaya mati-matian meyakinkan mereka akan aplikatif idenya. Rencananya, pemenang dari kompetisi ini akan diumumkan malam harinya pada acara Malam Akrab (Makrab) dan pentas seni Ocean Week 5.

***

Optimisme Masyarakat Pesisir Terhadap FTK ITS

Di dalam padatnya agenda Ocean Week 5, panitia juga menyisipkan acara Open Talk kemaritiman. Kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi peserta saja, namun juga mengundang segenap warga pesisir di Panyuran, Tuban. Dengan tangan terbuka, masyarakat pun berbaur dengan mahasiswa dalam maraknya OW 5, Sabtu (20/3) sore.

Nenek Moyangku Seorang Pelaut, itulah salah satu lagu yang dibawakan Muhammad Hendra P dalam membuka Open Talk tersebut. Bait demi bait pun dilantunkannya dengan semangat. Lagu ini memang memunyai filosofi yang amat dalam, khususnya dengan keadaan geografis Indonesia yang terkenal bahari.

Anthon Tri Laswono menyebutkan bahwa sah-sah saja memanfaatkan sumber daya alam bahari. Namun perlu diingat juga, bahwa SDA itu ada yang bisa diperbaharui dan ada yang tidak dapat. Oleh sebab itu, KASI eksploitasi dan eksplorasi Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Wilayah Tuban ini sangat mendukung dengan kegiatan positif seperti ini.

“Menangkap ikan di laut itu boleh-boleh saja, asal tidak merusak habitat yang dapat mengganggu ekosistem perairan,” ujar Anthon diikuti anggukan warga. Menurutnya, masih banyak warga yang belum sadar akan hal ini. Bahkan, tidak sedikit yang menggunakan bom dan ranjau dalam penangkapan ikan masal.

Selain itu, kekecawaan terhadap rusaknya terumbu karang dan hutan mangrove juga sempat dilontarkannya. Padahal, jelasnya, terumbu karang hidup itu sangat bermanfaat untuk mengurangi abrasi dan destruksi akibat air laut. Bukti nyatanya adalah bencana tsunmi aceh 2004. “Daerah dengan mangrove dan penuh karang, rusaknya tidak separah pantai gundul,” terangnya. Oleh sebab itu, Anthon menghimbau Wilayah Tuban yang masih dikenal dengan benteng mangrove serta banyak terdapat karang hidup tersebut untuk menjaga dan melestarikannya.

Salah seorang warga pesisir, Hasan, juga sempat melontarkan pendapatnya terhadap pembicara. Selain itu, Hasan juga berharap lebih terhadap mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh nopember (ITS) khususnya Fakultas Teknologi Kelautan (FTK). “Kami menunggu inovasi teknologi aplikatif dari mereka untuk memajukan kemaritiman negara kita,” ungkapnya. Misalnya, imbuhnya, dengan pemanfaatan teknologi mampu menghasilkan tangkapan yang banyak tanpa merusak ekosistem.

Selain itu, dia juga berharap supaya kegiatan sosialisi semacam ini lebih digencarkan lagi. Mereka sadar kalau tingkat pendidikan dan akses informasi mereka sangatlah terbatas. “Kami yakin, sebenarnya banyak inovasi aplikatif kemaritiman yang belum tersosialisasikan. Oleh sebab itu, kami mohon bimbingan dan kerjasama kepada semua kalangan, khususnya mahasiswa dan orang-orang dinas,” cetusnya.


***

Kenalkan Kemaritiman Indonesia Melalui Ocean Week

Indonesia adalah negara yang terkenal dengan kemaritimannya. Sayangnya, anak muda jaman sekarang kurang memahaminya, bahkan terkesan menyepelehkan. Untuk menanamkan jiwa bahari kepada penerus bangsa, khususnya siswa SMA, BEM ITS pun menggelar Ocean Week 4 yang dimulai Jum’at (19/3) pagi.

Event tahunan ini dibuka langsung oleh Pembantu Rektor 3, Suasmoro. Dalam pidatonya, Suas berpesan pada seluruh panitia dan peserta untuk mengambil menfaat sebesar-besarnya dalam event tersebut. “Jadikan bakti bahari nasional ini sebagai ajang peduli dan belajar kemaritiman bangsa kita,” ujarnya.

Peserta Ocean Week adalah seratus siswa SMA terpilih se-Jawa Timur. Mereka adalah seratus dari jutaan siswa yang peduli terhadap lingkungan, khususnya kelautan Indonesia. Mereka adalah anak-anak harapan bangsa yang menulis essay inspiratif untuk kemajuan bahari kita.

Menurut Muhammad Hendra P, event semacam ini seharusnya terus dikembangkan dari tahun ke tahun. “Karena ini merupakan OW yang ke-4, semoga jauh lebih baik dan bermanfaat bagi semua,” ujar Sekretaris Jendral BEM ITS itu.

Hendra menjelaskan, manfaat utama event bahari ini ada tiga. Pertama, kita bisa mengenalkan keindahan maritim Indonesia kepada siswa SMA. “Tak kenal maka tak sayang. Semakin mengenal, semoga mereka merasa memiliki dan mampu menjaganya.” Kedua, kita mengajak siswa berseragam putih abu-abu itu untuk melakukan bakti sosial kepada masyarakat pesisir yang dituju. Terakhir, kita juga membawa misi untuk show off kepada masyarakat bahwa ITS juga memunyai Fakultas Teknologi Kelautan dan sangat peduli terhadap keadaan bahari Nusantara.

Antusias dan semangat peserta juga terlihat dari wajah polosnya. Abdullah T misalnya. Siswa SMA N 1 Bojonegoro itu mengaku prihatin terhadap keadaan kelautan di Indoonesia. Bahkan, dia sempat menulis karya ilmiah tentang pemanfaatan bakteri pereduksi plastik, sehingga mampu mengurangi emisi sampah di sekitar pantai.

“Saya juga mengemasnya dalam bentuk essay menarik yang mengantarkan saya menjadi salah satu dari 100 siswa terpilih,”ujar Abdullah. Selain itu, dia juga mengaku kalau pihak sekolahnya sangat apresiatif terhadap event inisiatif mahasiswa ITS ini. “Guru Bahasa Indonesia saya mewajibkan semua siswanya untuk mengirim essay seleksi peserta OW. Dengan iming-iming tambahan nilai, teman-teman pun jadi bersemangat,” ujarnya bangga. Sehingga tidak mengherankan, SMA N 1 Bojonegoro menjadi peserta terbanyak dalam event tersebut.

Setelah Sholat Jumat tepat, ITS melepas keberangkat panitia dan peserta OW 4 ke Panyuran, Tuban. Agenda padat pun sudah menanti mereka. Mulai dari bakti bahari nusantara, presentasi essay yang dibuat peserta, sampai penanaman mangrove masal bersama masyarakat sekitar esok harinya.


***

Dari Pegalinu Hingga Epillepsi

Ocean Week (OW) memang menawarkan beragam rangkaian acara menarik. Salah satunya adalah pengobatan gratis. Bekerjasama dengan dinas kesehatan setempat, Event ini diramaikan oleh ratusan masyarakat pesisir yang kurang mampu di sekitar Panyuran, Tuban, Jumat (19/3) pagi.

Pengobatan gratis adalah salah satu kegiatan OW sebagai wujud bakti ITS kepada masyarakat. Oleh sebab itu, panitia tidak main-main dalam mempersiapkannya. Bahkan panitia inti sudah standby di tempat pelaksanan sejak rabu (17/3) siang. Selama itu pula, panitia menjalin kerjasama dengan kepala desa dan dinas kesehatan setempat. Mangrove Center pun turut berpartisipasi di dalamnya.

“Kegiatan ini nggak Cuma pengobatan gratis aja. Namun juga ada penyuluhan dan penyaluran sedikit sembako kepada masyarakat yang membutuhkan,” ungkap Bayu Adi Kuncahyo selaku kepala panitia pengobatan gratis. Menurut Bayu, penyuluhan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan, mengingat pola hidup masyarakat sekitar pesisir yang kurang sehat.

“Masih banyak masyarakat yang belum menggunakan toilet sebagaimana mestinya,” ungkap mahasiswa Teknik Sistem Perkapalan 2008 ini. Dia menambahkan, dengan membuang kotoran sembarangan, tentunya akan menimbulkan berbagai macam penyakit. Selain itu, pastinya akan mengganggu pemandangan sekitar pantai.

“Kami juga sempat kesulitan dalam mendistribusikan kupon pengobatan,” kata Bayu. Hal ini disebabkan terlalu banyak masyarakat berekonomi rendah disana. Bahkan, beberapa orang yang tidak mendapat kupon memberanikan diri hadir dalam event ini. “Kami berharap tahun depan event ini akan lebih dikembangkan, terutama masalah dana. Sehingga target masyarakat pun bisa diperluas,” cetusnya.

Berbagai pengalaman unik pun mereka dapatkan disana. Mulai dari cara bersosialisasi dengan masyarakat sampai melayani orang-orang dengan berbagai latar belakang umur dan penyakit yang diderita. “banyak kakek-nenek yang mengaku pegalinu dalam pengobatan itu,” kata Bayu. Dengan cara jalan yang sedikit gemetaran, beberapa diantaranya juga ada yang buang air di tempat pengobatan.

Selain itu, Bayu dan seluruh panitia juga sempat dihebohkan oleh seorang peserta. “Pemuda yang saya taksir berumur 25 itu epilepsinya kambuh di tengah kerumunan.” Kata Bayu bersemangat. Diduga penyakit itu kambuh karena keadaan sekitar tenda pengobatan yang potensial memancingnya. Menurut Bayu, matahari siang itu memang sangat terik. Didampingi dengan antrian panjang yang melelahkan, tidak heran kalau hal semacam itu bisa terjadi. “Alhamdulillah, walaupun datang berbagai rintangan, akhirnya acara ini berjalan dengan lancar,” tutupnya senang.


Catatan:

  1. Artikel-artikel di atas adalah kumpulan artikel yang saya tulis di website resmi ITS (www.its.ac.id)
  2. Posisi saya adalah sebagai jurnalis website kampus sekaligus salah satu panitia Ocean Week
  3. Jadi, sambil menikmati sharing dan menimba ilmu bersama teman-teman BEM FTK ITS, saya juga melaksanakan pekerjaan, laporan berita online untuk website sekaligus publikasi kegiatan mahasiswa ya :D