Kursi Kereta Api Ergonomis Nan Ekonomi

Dunia desain bukanlah dunia yang statis. Seiring perkembangan zaman, desain dan gaya hidup manusia turut bertambah sesuai kebutuhan, termasuk sistem dan alat transportasi. Desain merupakan kunci utama pemecahan masalah pemenuhan kebutuhan dan membuat hidup manusia lebih mudah. Begitupun alat transportasi, inovasi tiada henti membuat Dr. Agus Windharto, DEA terus berkarya tak kenal lelah.

Saat ini, sistem transportasi dunia terus mengalami peningkatan, termasuk Indonesia. Salah satu faktor pendukung sistem yang bagus adalah alat transportasi yang mencukupi kebutuhan konsumen, kereta api misalnya. Di negara kita, para pengguna kereta api, khususnya kelas eksekutif berharap kenyamanan perjalanannya mampu bersaing dengan kualitas dunia. Dengan naiknya permintaan tersebut, desainer produk Indonesia pun lebih bergairah untuk memacu otak kanannya.

Untuk memperoleh hasil yang optimal, langkah pertama dalam berinovasi adalah dengan riset. Menurut Dosen Jurusan Desain Produk Industri ini, riset aktivitas adalah kunci awal dalam menemukan permasalahan. “Kami harus merekam semua aktivitas penumpang. Mulai dari cara duduk, mengisi waktu luang dengan membaca, sampai posisi tidur mereka,” ucap Direktur ITS Design Center tersebut.

Pria kelahiran 19 Agustus 1958 itu melanjutkan, apabila sudah menemukan permasalahan dari hasil riset, seorang desainer kemudian beranjak ke proses kreatif. Bersama timnya, Agus, sapaan akrabnya, menyimpulkan bahwa mayoritas kursi duduk penumpang kereta api di Indonesia ternyata kurang nyaman apabila dipakai oleh masyarakat kita.

Menurut pria asal kota kembang ini, salah satu faktor terkuat ketidaknyamanan kursi penumpang KA di Indonesia adalah karena pemerintah masih mengutamakan produk impor, termasuk kursi tersebut. Mayoritas kursi tersebut adalah barang impor asal Taiwan. “Lha bagaimana bisa nyaman, postur tubuh orang Indonesia kan tidak sama dengan orang taiwan,” celetuk Agus.

Berbekal permasalahan itulah, Agus beserta tim ITS Design Center mencoba mengembangkan kursi penumpang KA yang ergonomis untuk masyarakat Indonesia. Sesuai dengan harapan, ternyata tempat duduk tersebut mampu bersaing di pasar lokal dan menjadi pemasok utama untuk perusahaan kereta api nasional. “Kurang lebih dua tahun sudah desain kursi kami dipakai oleh PT INKA,” jelas mantan ketua Jurusan Desain Produk Industri tahun 1992-2003 itu.


Tak dapat dipungkiri, hasil riset Agus dkk ini mampu menumbuhkan gairah perekonomian lokal, khususnya di bidang industri kreatif. Kebutuhan kursi impor yang mencapai nilai US$ 3-4 juta itu mampu ditutupinya. Tentunya hal ini mampu menghemat devisa negara. Dan tak kalah pentingnya, industri lokal ini mampu menciptakan lapangan kerja yang sangat berguna bagi masyarakat sekitar.

“Alhamdulillah, desain kursi penumpang ini bermanfaat bagi sesama,” jelas pria yang sudah beberapa kali mendapat hibah dari DIKTI tersebut. Jadi, selain ergonomis, kursi ini juga terbilang cukup ekonomis untuk Indonesia.

Saat ini, kursi penumpang KA tersebut masih tetap dikembangkan. Tidak hanya desain, namun juga fitur-fitur sesuai dengan kebutuhan konsumen. Bahkan, setelah permintaan meledak, pesanan properti yang diharapkan pun tidak hanya kursi belaka. Agus dan tim ITS Design Center pun sekarang bergerak dalam bidang komponen-komponen KA, interior, driver cab, sampai lokomotif pun diembat.



Menurut Agus, sebuah desain itu umurnya relatif pendek. Apalagi, tambahnya, saat ini sudah memasuki era industri kreatif yang mana setiap orang berlomba-lomba untuk menciptakan trendsetter suatu produk. Oleh sebab itu, seorang desainer dituntut untuk peka terhadap perubahan zaman, update skill dan pengetahuan, serta terus berinovasi tiada henti.

“Kerja inovatif adalah kerja keras sepanjang sepanjang hiddup yang menyenangkan. Never ending story untuk dunia desain pokoknya,” papar Agus. Bedasarkan hal itulah, diabeserta timnya terus berupaya melakukan riset untuk menemukan inovasi dan berkontribusi untuk ITS dan Indonesia.

*) Dr. Agus Windharto, DEA
Dosen Jurusan Desain Produk Industri ITS