PEMIRA ITS 2010: Behind The Scene

Akhirnya datang juga, pesta demokrasi untuk wilayah Surabaya bagian Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). Pesta tahunan yang dilaksanakan selama dua hari, mulai Rabu (19/5), ini masih terlihat adem ayem saja sampai sekarang. Sepertinya tahun ini sedang nge-trend perang dingin. Lantas, apa kabar Pemilihan Umum Raya (PEMIRA) 2010 ?

PEMIRA 2010 hanya terdengar sayup-sayup di telinga mayoritas mahasiswa. Bagaimana tidak, tahun lalu ada empat mahasiswa yang berbondong-bondong melamar sebagai calon pemegang kursi tertinggi eksekutif Keluarga Mahasiswa (KM) ITS. Sedangkan, tahun ini hanya ada dua mahasiswa berskala super leader yang berani tampil ke depan. Dua calon yang sangat berbeda, baik dari latar belakang, kepemimpinan, pemikiran, ideologi, visi misi, dan masih banyak lagi.

Berbagai macam opini publik pun mencuat tentang mereka berdua. Berbagai pendapat dari A sampai Z bagaikan bumbu rujak. Manis, asam, asin, sampai pedas semuanya tumplek blek jadi satu. Hal ini terkait dengan nasib KM ITS setahun kedepan. Saya yakin, setiap mahasiswa ingin mendapat figur pemimpin yang mampu membawa KM ITS lebih baik. Oleh sebab itu, semua berhak menentukan pilihan dan mengeluarkan pendapatnya.

“Pilih mana Mel, 1 atau 2 ?” tanya Mawar. “Nggak tahu nih. Gue nggak kenal keduanya,” Jawab Melati dengan logat gaulnya. “Pilih 1 saja deh Mel. Orangnya cakep. Jauh lebih cakep dari nomor 2,” kata Mawar mempengaruhi. “Emangnya pemimpin tuh dinilai dari tampangnya ya?” celetukku dalam hati. “Yaiyalah. Kalau nggak cakep, malu-maluin kalau demo bareng mahasiswa lain di luar sana!” tegas Mawar. Saya jadi bingung, dia kok bisa membaca pikiran saya.

Di kesempatan lain, sempat juga terdengar percakapan seru mengenai kedua calon. “Aku bingung nih boy, mau pilih 1 atau 2,” kata Jono. Joni pun menjawab, “Pilih nomor 2 saja. Lebih jelas orangnya.” “Maksudnya?” Jono menimpali. “Kandidat 2 itu punya track record yang bagus. Setiap organisasi yang pernah dipegangnya selalu berkembang, berinovasi, bla bla bla,” Jelas Joni. Jono hanya duduk diam mendengarkan sambil menganggukkan kepala. “Memangnya kamu tahu track record masing-masing kandidat?,” tanyaku. Joni pun terdiam, terlihat dia hanya memandang satu kandidat tanpa mau mengenal yang lain lebih jauh.

Ya, inilah realita. Sebagian mindset mahasiswa ITS yang belum melek politik. Mereka hanya menilai sosok pemimpin dari luar. Parahnya, sebagian mahasiswa hanya menelan mentah-mentah celotehan para TSK yang punya kedekatan emosional. Tanpa ingin mengenal lebih dekat karakter oposisinya.

Tapi syukurlah, mahasiswa berjiwa besar yang ingin melihat KM ITS lebih baik tak kalah banyaknya. Mereka juga menginginkan sosok pemimpin ideal yang mampu mengayomi masyarakatnya. Pemimpin ideal yang cerdas, bijaksana, bertanggungjawab, pokoknya yang perfect lah. Tapi saya menyadari nobody’s perfect. Oleh sebab itu, saya lebih menghargai pemimpin yang selalu berusaha mendekati ideal. Pemimpin yang membuktikan dengan aksi, tidak hanya mengobral janji. Bahasa kerennya bukan NATO, No Action Talk Only.

Mengutip sedikit kata-kata bijak saudara Ari Cipto Nugroho, Mahasiswa Teknik Perkapalan 2006 dalam buletin VIVAT BEM ITS edisi PEMIRA, “Pemimpin adalah orang yang tidak tenang hidupnya, tidak nyaman tidurnya, menetes air matanya, dan tak enak makannya jika masih mendengar ada rakyatnya yang terluka, tertindas, terpasung kemerdekaannya, terisolasi aspirasinya, terbengkalai kuliahnya, semakin tinggi apatisnya, rendah mentalnya, sedikit prestasinya, dan tidak didengar ide-ide serta masukannya.”

Fakta PEMIRA

Black Campaign

Saya percaya, kedua kandidat adalah orang bernyali besar dan luar biasa. Mereka adalah orang-orang hebat yang siap menanggung amanah besar dii pundaknya untuk membawa nama KM ITS. Sayangnya, pelanggaran demi pelanggaran marak ditemukan di hari tenang menjelang waktu penyoblosan. Saya selalu mencoba berpikir positif bahwa pelaku itu semua bukanlah sang kandidat. Mana mungkin orang-orang hebat itu menghalalkan segala cara untuk menunaikan ambisinya? Para fanatis dan simpatisanlah yang senantiasa melakukan dengan ikhlas.

Pelanggaran basi yang selalu ditemukan tiap tahunnya adalah perkara kampanye tulis, khususnya poster dan selebaran. Padahal, semua benda itu harus dibereskan H-2 sebelum waktu penyoblosan. Beberapa diantaranya ditemukan di mading jurusan. Menurut data yang diperoleh panitia pengawas pemilihan umum (Panwaslu), mayoritas para TSK mengaku khilaf. Ya, kalau khilaf selalu bisa ditebus dengan maaf, apa gunanya polisi. Kasihan dong, kandidat mereka yang harus menanggung denda.

Selain itu, maraknya SMS-SMS bernada kampanye sering bermunculan. Kebanyakan memang dari nomor-nomor yang tidak dikenal. Dan ini terjadi menjelang detik-detik penyoblosan. Panwaslu sendiri harus berhati-hati dengan hal ini karena syarat dengan pemfitnahan. Pernah sekali ada seseorang yang kepergok sebagai tersangka pengirim SMS. Dalihnya, hanya mengirim kepada para TSK kandidatnya. Salah satu penerima SMS adalah mahasiswa baru yang masih polos, sehingga dia menganggap sebagai jarkom dan disebarkan ke seluruh angkatan. Bisa aja nih orang.

Kasus paling ekstrim adalah para simpatisan dan TSK fanatik yang secara terang-terangan mempengaruhi mahasiswa sebelum mencoblos di tempat penyoblosan. Parah banget kan? Dan mayoritas korbannya adalah para maba polos yang tidak tahu apa-apa. “Pilih XXX dik, orangnya bla bla bla,” kata simpatisan. Beberapa maba pun meninggalkan mereka dengan tampang kesal. Mungkin dalam hati mereka menggerutu,” Emangnya iklan kecap, selalu saingan ingin jadi numero uno.”

Maraknya Golput

Kata teman saya, bukan rahasia lagi kalau mayoritas mahasiswa ITS itu gotik. “Lho, kok gotik?” tanya saya. “Gotik tuh singkatan dari Golput Mekithik. Itu tuh, orang-orang NATO. Padahal kalau mereka menyalonkan sebagai presiden BEM ITS juga belum tentu lebih baik dari orang yang diejek,” jelasnya. Hmmm, saya balas senyuman dengan sedikit anggukan mengiyakan.

Inilah realita kampus kita. Bayangkan saja, jumlah golput di ITS lebih tinggi dari jumlah mahasiswa yang ikut mengeluarkan aspirasi. Beberapa yang ikut memilih pun ada yang tidak menyoblos keduanya, alias golput juga. Tahun lalu, golput mencapai 60% dari jumlah seluruh mahasiswa. Angka yang fantastik.

Sehingga tidak mengherankan, Komisi Pemilihan Umum (KPU) harus menyiapkan segalanya lebih baik. Ketua KPU, Wisnu Herlambang, bahkan menargetkan pemilih yang ikut menyoblos tahun ini sebesar 55%. (disadur dari artikel dalam buletin VIVAT BEM ITS edisi PEMIRA). Semoga hal ini bukan hanya isapan jempol belaka.

Kasus terparah adalah isu golput dijadikan sebagai ajang saling menjatuhkan. Beberapa mahasiswa tertangkap basah meyebarkan kabar burung itu. Untungnya, tim panwaslu segera menyidaknya dan dibawa ke Mahkamah Keadilan Mahasiswa (MKM). Alhasil, pada mading setiap jurusan pun terpampang surat permintaan maaf tersangka. Surat itu berisi nama terang yang menyatakan maaf karena telah memfitnah mahasiswa XXX melakukan isu penyebaran untuk menjadi golput. Rasain tuh, biar kapok nih orang sehingga lain kali bisa menjaga mulutnya.

Hasil PEMIRA sementara

Malam ini (20/5) adalah malam perhitungan suara PEMIRA 2010. Acara tahunan yang ditunggu seluruh mahasiswa ITS ini dilaksanakan mendekati tengah malam karena berbagai keterbatasan. Hujan deras pun setia menemani di tengah tegangnya acara.

Dari hasil perhitungan yang dilakukan, Kandidat 1 mendominasi suara terbanyak pada beberapa jurusan dibandingkan rivalnya. Uniknya, total jumlah suara terbanyak jatuh pada kandidat 2. Walau hanya beda tipis, tapi nomor 2 berhasil sedikit lebih unggul. 3338 banding 3724 untuk kandidat pertama.

Di tengah perhitungan, sang kandidat nomor 1 tampil ke depan untuk mengeluarkan unek-uneknya. Menurutnya, hasil perhitungan malam itu tidak bisa dijadikan patokan utama karena pemilu belum dilaksanakan secara optimal, khususnya di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS). Dari data yang diungkapkan, kedua politeknik tersebut terkendala waktu kuliah yang fulltime, peraturan kampus yang mengharuskan mengakhiri kegiatan sebelum jam 16.00 dan lain sebagainya. “Saya ingin mereka mendapat kesempatan yang sama seperti kita. Banyak yang ingin berpartisipasi dalam pesta demokrasi namun masih terkendala. Kalau kita tetap berlanjut tanpa menghiraukan mereka, berarti kita berkhianat. Mereka juga bagian dari ITS,” tegasnya.

Bagi saya, siapapun yang terpilih tidaklah masalah. Asal sang pemimpin benar-benar mampu menjalankan amanah besarnya. Kami mengharapkan sosok presiden BEM yang mampu menggiring KM ITS menuju perubahan lebih baik. Kami membutuhkan figur pemimpin yang sanggup dan siap merangkul seluruh elemen baik struktural maupun non struktural. Bersama-sama membangun KM ITS ke depan.

Saya yakin, Yaumil Fauzi, mahasiswa Planologi 2006 dengan restorasi cintanya, dan Dalu Nuzlul Kirom, mahasiswa Teknik Elektro 2007 dengan gagasan pahlawan peradaban adalah dua mahasiswa hebat yang mampu membawa perubahan. Siapapun yang terpilih, bawalah nama KM ITS yang mampu menjadi kebanggaan kita bersama.

Teringat status salah satu calon dalam facebooknya, “Menang bagaikan hujan. Kalah bagaikan panas. Keduanya sama-sama dibutuhkan untuk membentuk elemen pelangi yang indah.”
Semoga bermanfaat.

Hanif Azhar
Mahasiswa Desain Produk Industri 2008

Tim Panwaslu PEMIRA ITS 2010