Kepemimpinan Profetik

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah...” [QS. ‘Ali Imran, 3: 110]
Ada sebuah hadits mengatakan bahwa setiap kita adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan diminta pertanggungjawaban atas orang-orang yang dipimpinnya di Hari Kiamat kelak. Seorang pemimpin merupakan ujung tombak dalam sebuah senjata. Apabila mata tombaknya tumpul, maka berkuranglah keakuratan dan fungsinya. Seorang pemimpin itu raja dalam permainan catur. Apabila sang raja sudah checkmate, berakhir pula permainannya. Begitu besar arti sebuah pemimpin, karena keputusannya akan menentukan langkah pergerakan pengikutnya.

Dalam Islam, disebutkan bahwa setiap manusia adalah pemimpin. Minimal mampu memimpin diri sendiri dan hawa nafsunya. Setiap manusia merupakan pemimpin dalam bidangnya masing-masing. Dengan setiap keunikan yang Allah ciptakan pada makhluknya, Setiap manusia hendaknya mampu mengoptimalkan keunikannya dan menjadi pemimpin di bidangnya. Itulah yang disebut kepemimpinan profetik.

Perlu diketahui, Kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membebaskan penghambaan kepada manusia hanya kepada Allah semata. Kepemimpinan yang akan menjadi rahmatan lil alamin. Dalam praktiknya, Kepemimpinan profetik dapat kita pelajari dan analisa dari kisah kepemimpinan Nabi-Nabi dalam Al Qur’an. Yang penting, seperti kata Bung Karno, jangan sampai kita hanya mendapat abu sejarah nya saja tetapi api sejarahnya kepemimpinan Nabi-Nabi lah yang harus kita dapat dan kita terapkan dalam proses membangun Indonesia yang lebih baik dan bermartabat ini.

Konsep Kepemimpinan Profetik

Alm. Prof. Dr. Kuntowijoyo pernah mengungkapkan konsep kepemimpinan profetiknya. Konsep ini berdasarkan pemahaman Al Qur’an Surat Ali-Imran ayat 110. Inti dari kepemimpinan profetik adalah kepemimpinan yang membawa misi humanisasi, liberasi, dan transendensi.

Misi Humanisasi

Yang dimaksud misi humanisasi disini adalah memanusiakan manusia. Karena pada dasarnya, humanisasi ini akan mengangkat harkat hidup manusia, dan akan menjadikan manusia bertanggung jawab atas apa yang telah dikerjakannya. Sesuai dengan “ta’muruna bil ma’ruf”, yaitu mengajak pada kebaikan.

Misi Liberasi

Kepemimpinan profetik yang kedua adalah “tanhauna ’anil munkar” yang berarti mencegah untuk yang mungkar. Maksudnya yaitu misi membebaskan manusia dari belenggu keterpurukan dan ketertindasan. Hal ini bisa disamakan dengan misi liberasi.

Misi Transendensi

Kepemimpinan profetik yang terakhir adalah “tu’minuna Billah” yang berarti beriman kepada Allah SWT. Hal ini disebut juga sebagai misi transendensi, yaitu manifestasi dari misi humanisasi dan liberasi yang diartikan sebagai kesadaran ilahiyah yang mampu menggerakkan hati dan bersikap ikhlas terhadap segala yang telah dilakukan.

Syarat Kepemimpinan Profetik

Syarat kepemimpinan profetik secara umum menyangkut tentang ilmu pengetahuan, kekuatan, amanah, daya regeneratif, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Hal ini diungkapkanNya dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang tergambar dalam berbagai kisah-kisah nabi-nabi terdahulu.

Ilmu

Seorang pemimpin profetik haruslah berilmu tinggi, khususnya ilmu pengetahuan dan hikmah. Dua hal tersebut yang menjadikan dirinya mampu memutuskan kebijakan yang tepat, serta sejalan dengan akal sehat dan syari’at Islam. Seorang yang lemah akalnya, pasti tidak akan mampu menyelesaikan urusan-urusan rakyatnya. Lebih dari itu, ia akan kesulitan untuk memutuskan perkara-perkara pelik yang membutuhkan tindakan cepat. Pemimpin yang memiliki kekuatan akal akan mampu menciptakan kebijakan-kebijakan cerdas dan bijaksana, yang melindungi dan mensejahterakan rakyatnya. Dan yang paling penting, Ilmu yang dalam akan mencegah seorang pemimpin dari tindakan tergesa-gesa, sikap emosional, dan tidak sabar.

Kekuatan

Kekuatan memang diperlukan ketika seorang pemimpin profetik memegang amanah kepemimpinan. Jangan sampai amanah besar diserahkan kepada orang-orang yang lemah. Dalam sebuah riwayat dituturkan, bahwa Rasulullah Saw pernah menolak permintaan dari Abu Dzar al-Ghifariy yang menginginkan sebuah kekuasaan.
Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa Abu Dzar berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah Saw, “Ya Rasulullah tidakkah engkau mengangkatku sebagai penguasa (amil)?” Rasulullah Saw menjawab, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah. Padahal, kekuasaan itu adalah amanah yang kelak di hari akhir hanya akan menjadi kehinaan dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan hak, dan diserahkan kepada orang yang mampu memikulnya.”

Amanah

Seorang pemimpin profetik juga harus seorang yang amanah. Orang yang memiliki kredibilitas dan integritas yang tinggi, yang dapat dipercaya oleh masyarakatnya. Orang yang amanah tidak akan mudah goyah oleh godaan harta, tahta, dan wanita. Betapa banyak kita saksikan dalam sejarah kepemimpinan manusia, pemimpin-pemimpin yang akhirnya tidak amanah, hanya karena terbius oleh kehidupan yang mewah berlebihan, manisnya kekuasaan, dan akhirnya melakukan korupsi kolusi yang menyengsarakan bangsa dan negaranya.

Regeneratif

Daya regeneratif sangatlah diperlukan dalam segala bidang kepemimpinan. Bila kita gagal mewariskan kepemimpinan profetik kepada generasi penerus maka kita gagal mewariskan kondisi yang lebih baik. Jangan sampai anak cucu kita hanya menjadi anak cucu biologis saja. Tetapi jadikan anak-anak kita itu juga pewaris ideologis yang harus diperjuangkan.

Pemimpin profetik hanya puas ketika mereka dapat melahirkan generasi penerus yang lebih baik dibandingkan dengan era mereka. Oleh karenanya, mereka sangat serius dan memperhatikan pembinaan generasi penerus. Karena mereka sadar, pemimpin itu digembleng dan dibentuk, bukan ada dengan sendirinya. Bahasa kerennya pemimpin profetik itu dilakukan “by design not by accident”, terencana rapih, terstruktur, dan menjadi bagian dari rencana besar pembentukan peradaban.

Ketaqwaan

Ketaqwaan merupakan inti dari semua syarat-syarat sebelumnya. Ketaqwaan merupakan karakteristik penting yang harus dimiliki seorang pemimpin. Sebegitu penting sifat ini, tatkala mengangkat pemimpin perang maupun ekspedisi perang, Nabi Muhammad selalu menekankan aspek ini kepada para pemimpinnya. Dalam sebuah riwayat dituturkan bahwa tatkala Nabi Muhammad melantik seorang panglima pasukan atau ekspedisi perang Beliau berpesan kepada mereka, terutama pesan untuk selalu bertaqwa kepada Allah dan bersikap baik kepada kaum Muslim yang bersamanya. (Hadis Riwayat Muslim dan Ahmad).
Firman Allah SWT :
“Sesungguhnya pemimpin kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi pemimpinnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS Al-Maidah ayat 55-56)

Tujuan Utama : Membangun Peradaban

Dalam menciptakan seorang pemimpin profetik, diperlukan kesabaran dan istiqomah dalam pembetukannya. Sebagaimana yang telah disebutkan diatas, bahwa pemimpin itu ada karena tempaan, bukan ada dengan sendirinya. Mereka terbentuk “by design not by accident”, terencana rapih dan terstruktur. Goal utama dalam pembentukan pemimpin profetik ini adalah bagian dari rencana besar pembentukan peradaban baru yang lebih baik dan bermartabat, serta kebaikan dari Allah pencipta alam semesta.

Materi Teknik Pengembangan Diri

Bang Bachtiar Firdaus