Konsep Tauhid, Syirik, Ihlas

Kata Tauhid berasal dari kata wahid yang berarti satu. Dengan kata lain Tauhid dapat diartikan sebagai keesaan Tuhan. Ilmu tauhid turun dari Al Quran dan hadits. Buku Kualiah Tauhid karya Muhammad 'Imaduddin 'AbdulRahim Ph.D., ini pada dasarnya merupakan kumpulan ceramah-ceramah dari penulis. Dan karena banyaknya peminat dan pembaca tulisan beliau, sehingga kumpulan tulisan itu dijadikan buku. Bahkan, konten tulisan ustadz tersebut dimuat dalam kuliah tauhid media online (http://media.isnet.org/islam/Tauhid1/) dan beberapa blog muslim.
Kata syirik ini berasal dari kata "syaraka" yang berarti "mencampurkan dua atau lebih benda/hal yang tidak sama menjadi seolah-olah sama", misalnya mencampurkan tepung kelas dua ke dalam tepung kelas satu. Campuran itu dinamakan tepung isyrak. Orang yang mencampurkannya disebut musyrik.

Lawan "syaraka" ialah "khalasha" artinya memurnikan. Tepung kelas satu yang masih murni, tidak bercampur sebutir pun dengan tepung jenis lain disebut beras yang "Khalish". Jadi orang yang ikhlash bertuhankan hanya Allah ialah orang bertauhid dengan sebenar-benarnya. konsep yang paling sentral di dalam ajaran Islam.

Mengesakan Allah tidak cukup dengan percaya wujudnya benar-benar ada. Namun lebih dari itu, mengesakan Allah dengan ihlas berarti rela berjuang di jalanNya dengan ikhlas. Apapun tantangan dan resikonya. Perjuangan ini merupakan perjuangan terbesar dalam hidup manusia.
Sayangnya, sekali lagi perjuangan itu memang tidak semudah membalik telapak tangan. Faktanya, umat muslim merupakan umat terbesar dan tersebar di seluruh dunia. Dan orang yang mengaku muslim pun, bahkan yang rajin menunaikan shalat, mengeluarkan zakat, serta ibadah-ibadah yang lain pun, masih gemar berlaku syirik. Masih mencapuradukkan ketaatan kepada Allah dengan “ilah” lainnya. Padahal Sudah jelas Allah sangat membeci perlakuan syirik tersebut. Sebagaimana firman Allah Q.4:48 dan 116 :

Artinya: "Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang-orang yang mensyirikkan-Nya, tapi Ia akan mengampuni kesalahan lain bagi siapa yang diperkenankan-Nya. Barangsiapa yang mensyirikkan Allah, sesungguhnyalah ia telah berdosa yang sangat besar."

Bahkan, Rasulullah pernah bersabda bahwa pangkal setiap dosa adalah syirik. Peringatan yang sejalan, antara Hadits utusan dan firmanNya. Karena Allah tahu, memang tidak mudah bagi seorang hambanya mencapai tingkatan tauhid ihlas seperti yang digambarkan ustadz Muhammad 'Imaduddin 'AbdulRahim Ph.D dalam resume buku ini. Begitu banyak kendala yang menyumbat hati nurani ini untuk menghindari syirik dan memperoleh hikmah Tauhid murni yang ihlas.

HAL-HAL YANG MENGURANGI ATAU MERUSAK SIKAP TAUHID

"Wahai Pembolak-balik hati, tetapkanlah hatiku atas agama-Mu, dan atas ta'at akan Dikau, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku ini termasuk orang yang menzhalimi diriku." Demikianlah doa yang sangat dianjurkan untuk diamalkan tiap harinya. Karena tauhid merupakan sebuah sikap mental (hati). Sedangkan apapun yang berhubungan dengan hati tersebut selalu mengalami fase yang fluktuatif. Berikut ini adalah beberapa penyakit hati yang dapat bermuara untuk mengikis ketauhidan seseorang.

Riya

"Sesungguhnya proses terjadinya manusia (membuatnya) tak stabil. Bila mendapat kegagalan lekas berputus asa. Bila mendapat kemenangan cepat menepuk dada." (Q.70:19.21)
Sebagaimana disebutkan dalam ayat diatas, kondisi psikis manusia memang fluktuatif. Gampang down dan berbangga sesuai keadaan hatinya. Begitu juga sikap riya tersebut. Riya’ merupakan perbuatan manusia yang mengharapkan pujian dan perhatian dari orang lain. Dengan adanya sifat ini, otomatis sifat tauhid akan terkikis karena orang jenis ini tidak lagi lillahi ta’ala dalam ibadahnya.

Ananiah (Egoisme)

Orang yang belum stabil pribadinya, kemungkinan besar terserang penyakit hati sejenis ananiah. Cirinya adalah menempuh jalan pintas, dan untuk mengatasi rasa tidak pasti dalam dirinya, dia selalu mementingkan diri pribadi. Sebenarnya, sikap ananiah atau bahasa kerennya egoisme ini memang sudah ada pada benih setiap pribadi. Sikap ini tumbuh di dalam perjuangan "to be or not to be", atau perebutan hidup atau mati ketika manusia masih berbentuk spermatozoa yang memperebutkan satu-satunya ovum yang tersedia di dalam rahim ibu tadi. Disinilah perah tauhidullah untuk menekan egoisme seorang hamba Allah dalam beribadah kepadaNya.

Takut dan Bimbang

Ternyata, penyakit takut dan bimbang juga masuk dalam kategori penyakit hati yang mampu mengikis ketauhidan kita pada Allah. Kok bisa ? Simpel saja, penyakit ini biasanya timbul akibat rasa ketidak-pastian dan kurang yakinnya seseorang akan kemutlakan kekuasaan Allah SWT. Hal ini akan menyebabkan kurang pasrah dalam mewakilkan nasibnya kepada Allah, bahasa kerennya tawakkal.

Tawakkal 'ala Allah artinya mewakilkan nasib diri kepada Allah semata. Kelemahan diri manusia akibat telah menyebabkannya senantiasa merasa tergantung kepada sesuatu yang lain. Jika ia yakin akan kekuasaan mutlak Allah SWT, maka ia akan puas dengan ketergantungannya kepada Allah saja. Jika ia kurang yakin akan kemutlakan kekuasaan Allah SWT, maka kebimbangan segera timbul dan akan berkembang menjadi rasa takut.
"Katakanlah: 'Takkan ada apapun yang akan menimpa kami, kecuali yang telah ditetapkan Allah; Dialah Pelindung kami, maka hanya kepada-Nya-lah si Mu 'min mewakilkan urusan mereka' . " (Q. 9: 51).

Zhalim

Zhalim artinya tidak meletakkan sesuatu pada tempatnya, atau melakukan sesuatu tidak pada semestinya. Lawan dari zhalim merupakan ‘adil. Jadi, dari arti kata tersebut, orang-orang banyak yang salah kaprah kalau adil merupakan pembagian sama rata pada suatu hal. Jadi kalau seseorang membunuh ular karena ia akan membela nasib seekor tikus yang akan diterkam dan dimakan ular itu, maka tindakannya itu tidak bisa dikatakan 'adil, karena sudah taqdir Allah SWT, bahwa tikus itu memang makanan ular.

Contoh lain, para vegetarian yang tak mau makan daging. Katanya manusia tidak pantas berwatak kejam membunuh binatang yang akan dimakannya. Dengan bersikap demikian mereka menganggap kehidupan mereka penuh dengan kasih sayang sesama makhluk Tuhan. Padahal Allah SWT telah berfirman, bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini dan segala yang ada di langit diciptakan Allah untuk melayani kebutuhan manusia. Asalkan dengan cara yang baik dan benar.
"Dan Ia telah menyediakan bagi kamu segala sesuatu yang ada di langit dan apa yang di bumi seluruhnya dari pada-Nya, sesungguhnya dalam hal ini terdapat beberapa tanda bagi kaum yang mau berfikir." (Q. 45:13).

Hasad (Dengki)

Dengki merupakan penyakit hati yang tumbuh apabila seseorang tidak senang terhadap keberhasilan orang lain. Lucu memang, tapi inilah sikap manusia. Sikap ini memang disebabkan karena ia menganggap bahwa dirinya lah yang paling hebat. Oleh sebab itu, ia berpikiran berhak untuk mendapat segala sesuatu yang terbaik. Dan tidak senang kalau orang lain bisa melebihinya. Sebenarnya, inti dari sikap ini adalah sombong. Penyakit hati yang juga sangat dibenci Allah. Dengan mengetahui beberapa sikap yang mampu merusak hati dan mengikis ketauhidan kita kepada Allah ini, hendaknya kewaspadaan kita tingkatkan.