SKEM dan Miniatur Kuliah Kehidupan

Seminggu lalu, ketika masih dalam masa perwalian dan pengisian Formulir Rencana Studi (FRS) Online, tampak fenomena langka yang baru saya temui selama dua tahun kuliah di kampus perjuangan. Ratusan mahasiswa berbondong-bondong pergi ke kampus dengan membawa bundelan sertifikat. Proses FRS pun semakin lama. Karena mereka harus mengantri untuk menyodorkan sertifikatnya satu-satu. Ada apa gerangan?

Satuan Kredit Ekstrakulikuler Mahasiswa (SKEM) merupakan salah satu inovasi baru Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) untuk melatih soft skill mahasiswanya. Sebenarnya, sistem ini sudah dicanangkan ketika status saya masih mahasiswa baru, dua tahun lalu. Penampakan gagasan baru tersebut tentunya menuai banyak kontroversi, baik di kalangan mahasiswa maupun staf pengajar.

Bagi mahasiswa yang memang sudah berjiwa aktivis dari sono-nya, pemberlakuan SKEM dirasa cukup efektif untuk merangsang soft skill mahasiswa ITS. Dengan sistem ini, secara tidak langsung mahasiswa angkatan 2008 ke bawah akan dipacu untuk berkompetisi dari berbagai macam lomba dan aktif dalam forum ilmiah. Selain itu, mereka akan semakin terampil dan tidak hanya berbekal hard skill untuk menapaki dunia nyata setelah dilantik lulus dari almamaternya.

Erik Sugianto, salah seorang sahabat saya berpendapat bahwa tuntutan mahasiswa untuk memenuhi SKEM itu sangatlah mudah. Bagaimana tidak, batas minimal untuk memenuhi standar hanyalah 1000 poin. Sedangkan, hanya dengan mengikuti sebuah seminar saja sudah mendapatkan secarik sertifikat yang bernilai 200 poin. Jadi hanya dengan mengikuti 5 seminar saja, sudah cukup untuk menutup kewajiban ber-SKEM ria.

Belum lagi kalau mengikuti pelatihan pengembangan diri seperti LKMM dan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). “Banyak jalan menuju standardisasi SKEM. Apapun kegiatan yang kita lakukan pasti bernilai SKEM. Kalau pihak birokrasi benar-benar berniat mengasah soft skill mahasiswanya, semoga standardisasi ini bisa lebih ditingkatkan,” ungkap Ketua Forum Silaturahmi Lembaga Dakwah Jurusan (FSLDJ) Jamaah Masjid Manarul Ilmi (JMMI).

Anggukan kepala juga dilontarkan oleh senior saya, Tyzha Inandia, salah seorang mahasiswi Desain Produk Industri angkatan 2007. Menurutnya, SKEM memang dibutuhkan oleh mahasiswa. Sayangnya, tidak banyak mahasiswa yang menyadarinya.

Oleh sebab itu, mungkin bagi aktivis sejati tak kan keberatan dengan hal tersebut, bahkan mungkin banyak yang menilai standardisasinya masih cukup rendah sebagaimana yang diungkapkan Erik Sugianto di atas. Tapi, bagi mahasiswa tipe kupu-kupu (kuliah pulang-kuliah pulang) mungkin SKEM bagaikan tas punggung berbobot 10 Kg yang harus dibawanya selama kuliah.

“Intinya, saya optimis SKEM akan mengoptimalkan soft skill mahasiswa. Semuanya pasti terbiasa karena terpaksa. Saya acungi jempol untuk inovasi birokrasi yang satu ini,” ujar Tyzha, Sekretaris Himpunan Mahasiswa Desain Produk Industri (HIMA IDE) 2009/2010 itu.

Sebagai seorang pelajar, sepatutnya tugas utama adalah belajar. Mulai dari sekolah tingkat dasar sampai perguruan tinggi sekalipun, belajar tetaplah harus diutamakan. Semakin tinggi jenjang pendidikan seseorang, semakin kompleks pula tingkatan yang harus dipelajarinya.

Apalagi kita di sini yang sudah menyandang status sebagai mahasiswa, pengetahuan berbagai bidang harus senantiasa di-upgrade. Dari kata-katanya saja sudah bisa ditebak, mahasiswa itu mengandung makna dan tanggung jawab jauh lebih besar dibandingkan dengan siswa. Sayangnya, tidak banyak mahasiswa yang menyadari akan peran dan fungsi utama mereka sebagai mahasiswa.

Tidak sedikit mind set bahwa proses belajar seorang pelajar hanyalah sebatas upgrade kemampuan akademik saja. Sungguh ironis mahasiswa yang masih berpikiran seperti itu.
Di samping itu, masih banyak mahasiswa yang berpikiran sempit. Berpikir bahwa proses belajar mereka hanyalah terlaksana di dalam ruang kelas. Secara tidak langsung, mereka membatasi diri mereka sendiri dari dunia luar.

Mereka menutup mata, telinga dari permasalahan sekitarnya. Minimal mahasiswa itu mampu mengaktualisasikan dirinya di lingkungan. Dengan tidak membatasi proses belajar mereka, dengan mengorek info dari kampus sendiri ke kampus tetangga.

Sebenarnya, Belajar adalah sebuah proses yang sangat luas. Belajar itu tidak dapat dibatasi oleh dimensi waktu dan tempat. Kita bisa belajar dimanapun dan kapanpun kita mau. Bahkan siapapun itu, jika kita jeli pasti mampu mengambil pelajaran berharga dari semua orang.

Lucunya, mahasiswa kebanyakan hanya fokus pada akademik dan gencar dalam mengejar status sarjana. Apalah arti secarik ijazah dan sebuah gelar berjejer layaknya rangkaian kereta. Toh, pada akhirnya gelar kita nantinya tetaplah sama, yaitu almarhum (alm). Ijazah hanyalah selembar kertas, tapi esensi di balik itu semua adalah bagaimana kita mampu berkontribusi dan mengamalkannya. Jangan sampai menjadi sarjana mandul yang tidak mampu berbuah manis dan bermanfaat untuk sesama

Andai Softskill dan Hard skill Berjalan Bergandeng Tangan

Keahlian lunak ini di antaranya motivasi tinggi, kemampuan beradaptasi dengan perubahan, kompetensi interpersonal, dan orientasi nilai yang menunjukkan kinerja efektif. Fenomena ini sesuai dengan hasil penelitian National Association of Colleges and Employers (NACE) yang menyebutkan bahwa pada umumnya pengguna tenaga kerja membutuhkan keahlian kerja berupa 82 soft skills dan selebihnya 18 hard skills.

Hal tersebut bukan isapan jempol belaka. Dalam buku Lesson From The Top karya Neff dan Citrin, tersibak bahwa sebanyak 50 orang CEO dari berbagai perusahaan, menyebut pentingnya memiliki keterampilan lunak sebagai syarat sukses di dunia kerja. Beberapa orang CEO tersebut di antaranya Jack Welch (General Electric), Bill Gates (Microsoft), Andy Grove (Intel),dan Michael Dell (Dell).

Soft skill yang berperan penting dalam kesuksesan itu seperti gairah, kemampuan berkomunikasi, kesehatan dan energi tinggi, kecerdasan spiritual, kreatif, bersikap positif, dan fokus. Di samping tentunya unsur intellegence quotient (IQ) yang tak kalah berperan. Maka keberadaan materi soft skill di perguruan tinggi harus diadakan.

Tapi faktanya, kemampuan hard skill tetaplah penting. Kemampuan antara keduanya hendaklah berimbang, tidak berat sebelah. Karena tidak sedikit aktivis mahasiswa yang tersandung masalah akademik. Begitu juga sebaliknya, banyak para mahasiswa akademisi yang terlalu sibuk dengan mengejar akademik saja, akhirnya tidak peka terhadap keadaan lingkungan sekitar.

Sungguh luar biasa, apabila sudah banyak mahasiswa yang menyadari akan pentingnya kedua hal tersebut. Menyeimbangkan hard skill dan soft skill untuk menjadi aktivis prestatif sehingga menghasilkan bibit-bibit unggul pencetak sejarah. Indonesia hanya menunggu masa kejayaan kembali kalau hal itu sudah dicapai.

Banyak cara yang bisa diaplikasikan untuk mencapai keseimbangan dua keahlian tersebut. Salah satunya adalah dengan 3M: mulai dari yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. teori itu terasa simpel dalam pengucapan, namun buktinya cukup sulit dalam penerapan.

Ada pepatah mengatakan, seribu langkah besar pasti diawali dengan satu langkah kecil. Dengan satu langkah kecil yang dilakukan secara rutin dan berkesinambungan, seribu langkah besar pasti tercapai. Begitu pula dalam mengejar soft skill, kita bisa memupuknya dari hal-hal kecil juga. Misalnya dengan mengembangkan kerjasama tim dalam tugas kuliah maupun permainan olahraga.

Sebelum kita mengajak seseorang untuk melakukan perubahan, terlebih dahulu ubahlah diri kita. Mari kita buat diri kita menjadi lebih baik dan role model untuk orang-orang di sekitar kita. Tak peduli status dan tingkatan seseorang, apabila dia belum mampu mengatur diri sendiri, tidak mungkin dia mampu mengatur orang lain.

"M" terakhir, mulailah dari sekarang. Disinilah konsistensi seseorang diuji. Banyak orang mempunyai planning dan mimpi besar, tapi realisasi masih dipertanyakan. Salah satu penyakit pengganjalnya adalah rasa takut dan malas. Oleh sebab itu, kalau kita sudah berani bermimpi besar, maka mulailah menyusun planning dan strategi dari sekarang. Jangan ditunda-tunda lagi. Karena dengan terus menunda, otomatis hal itu akan menumpuk di belakang dan akhirnya jadi malas menjalankannya.

Universitas terbesar adalah kehidupan

Dari berbagai pemaparan di atas, mahasiswa memang memunyai peran strategis yang sangat luas. Peran tersebut akan sukses dalam pencapaian apabila soft skill dan hard skill mampu berjalan harmonis, beriringan, dan bergandengan tangan. Keduanya akan saling melengkapi dan menjadikan hidup lebih bermakna. Kalau hard skill bisa kita raih dalam kurikulum akademik perkuliahan, maka soft skill dapat kita raih dengan mengasah kemampuan di luar akademik.

Namun, mungkin belum banyak yang menyadari bahwa sebenarnya universitas terbesar di dunia adalah kehidupan itu sendiri. Kok bisa ? Tentu saja, semua kekompleksan dari kolaborasi soft skill dan hard skill tertuang di sana. Dengan mengenyam banyak pengalaman dan mencicipi gula-garam kehidupan, seseorang akan semakin bijaksana dalam pemikiran dan pengambilan keputusan.

4 prinsip kuliah kehidupan

Semua tempat adalah ruang kuliah

Namanya juga universitas kehidupan, tempatnya pun bisa dimanapun. Di dalam ruang kelas ber-AC bisa, di daerah tempat pembuangan sampah pun tidak masalah. Bahkan di kolong jembatan tempat perumahan kumuh pun kita bisa mengambil banyak pelajaran. Minimal kita mampu belajar untuk bersyukur jika mendatangi tempat-tempat seperti itu.

Semua orang bisa menjadi guru yang handal

Dalam universitas kehidupan, semua orang ternyata bisa menjdi pengajar. Apapun status dan latar belakangnya, semua makhluk ciptaan-Nya adalah unik dan menyimpan banyak potensi. Tidak peduli entah itu presiden maupun pelayan, semua adalah manusia yang masih mengalami proses belajar.

Semua permasalahan adalah mata kuliah kita

Poin ini terdengar lucu, namun itulah faktanya. Dengan mendapat masalah, seseorang dituntut untuk berpikir kritis dan mencari jalan keluar. Semua ini akan menjadikannya lebih dewasa dan bijaksana dari sebelumnya. Oleh sebab itu, bersyukurlah kalau kita mendapat masalah. Tetaplah tanamkan pemikiran positif bahwa masalah adalah berkah. Masalah itu bukti cinta Allah kepada kita. Itulah cara Allah untuk mendidik kita.

Kurikulum road map individu

Poin terakhir dalam universitas kehidupan adalah road map individu. Setiap manusia harus mempunyai tujuan hidup masing-masing. Mereka harus berusaha meraih mimpi-mimpi itu sekuat tenaga. Setelah memfokuskan pada tujuan yang ingin dicapai, hal yang tidak kalah penting adalah road map individu. Anthony Robbins pernah berpesan, In order to success, you must have a long term focus.

Road map individu adalah peta fokus yang membawa kita pada kesuksesan. Kalau Dora harus berteman dengan peta untuk mencapai tempat tujuan, Captain Jack Sparrow membutuhkan peta misterius untuk menuju harta karun, maka kita pun jangan mau kalah. Mari buat road map individu supaya jalan yang kita tempuh untuk meraih cita tidak nyasar.

(Opini ini terinspirasi dari Dialog Pasca Kampus dengan Prof. Dr. Imam Mustofa, Direktur Kemahasiswaan Uiversitas Airlangga)


tulisan ini juga pernah dimuat di web ITS Online www.its.ac.id pada Sabtu, 4 September 2010