Indonesia Bersinar : Satu Status, Sejuta Inspirasi


Optimisme merupakan kunci untuk melakukan sebuah perubahan. Sebelum berubah, kita harus yakin untuk dapat berubah terlebih dahulu. Begitu juga sebuah perubahan pada bangsa . Tidak mungkin suatu bangsa dapat mengubah nasibnya jika masyarakatnya masih menganggap bangsa tersebut tidak dapat berubah.

Mari belajar dari fenomena menjelang Revolusi Industri di Inggris. Saat itu, Thomas Robert Malthus meramalkan bahwa Sumber Daya Alam di Bumi sudah tidak cukup. Masyarakat setempat beragam dalam menyikapinya. Ada yang optimis dan ada pula yang  pesimis. Kaum pesimis disibukkan dengan ketakutan serta maki-makian terhadap pemerintah. Bebeda dengan kaum optimis. Mereka gigih melakukan penelitian guna menyelamatkan kehidupan. Alhasil, tercetuslah sebuah perubahan besar yang terkenal dengan sebutan Revolusi Industri. Kaum optimis membuktikan bahwa ramalan itu tidak berlaku di negara mereka.

Fenomena tersebut persis dengan apa yang terjadi di negeri ini. Banyak masyarakat yang sibuk memperbincangkan masalah. Mereka menguras energi untuk mengutuk kesalahan pemerintah. Mereka terlalu fokus pada masalah. Sampai – sampai, mereka tidak sempat untuk memikirkan jalan keluarnya.

Obrolan mereka tidak berhenti di dunia nyata. Teknologi Komunikasi dan Informasi yang mutakhir memungkinkan mereka bebas berbincang di dunia maya. Forum online dan jejaring sosial  menjadi media alternatif untuk berdiskusi dan berbagi hujatan kepada Pemerintah. Padahal, pengunjung yang mayoritas generasi muda bisa secara mudah membacanya. Bisa jadi generasi muda tersebut akan tertular virus pesimisme.

Ternyata benar. Saat ini pemikiran pemuda akan masa depan bangsa Indonesia cenderung semakin pesimis. Mayoritas pemuda hanya bisa menuntut perubahan. Merekahanya bisa tidak terima dengan kebijakan pemerintah, tanpa melakukan gerakan untuk menciptakan perubahan.

Aura pesimistis diperkuat oleh banyaknya pemberitaan negatif oleh media yang dapat memperpuruk citra bangsa. Kemiskinan, korupsi, pornoaksi dan pornografi, kebobrokan moral tokoh masyarakat, dan anarkisme ormas merupakan beberapa topik populer yang diberitakan oleh media. Seakan – akan pihak media menganggap berita – berita negatif itu yang paling laku untuk dikonsumsi oleh publik.

Sudah penat masyarakat Indonesia menerima berita – berita negatif mengenai kebobrokan bangsa. Hal itu tidak akan berdampak positif terhadap pemikiran masyarakat, malahan sebaliknya. Masyarakat cenderung akan selalu membicarakan masalah, masalah, dan masalah. Masyarakat cenderung pesimis. Sikap pesimis itu akan menjadi penyebab utama dari kemandulan masyarakat Indonesia dalam berkarya.

Padahal, Indonesia diprediksi akan menyaingi Brazil, Rusia, India, dan Cina sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi global. Untuk itu, pemerintah membuat Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi (MP3EI). Salah satu strategi pada MP3EI adalah penguatan kemampuan Sumber Daya Manusia (SDM) dan Ristek nasional. Pemuda merupakan SDM strategis dalam pembangunan bangsa. Dengan demikian, pemuda wajib berkarya untuk bangsa



Berawal dari keperihatinan itu, Keluarga Mahasiswa ITS menggagas Gerakan Indonesia Bersinar. Gerakan ini bertujuan untuk mengkampanyekan wacana positif agar masyarakat, khususnya generasi muda, bisa bersikap optimis. Dengan demikian, mereka akan lebih bersemangat dalam berkarya untuk bangsa.


Gong besar dari gerakan ini adalah rentetan acara menjelang Hari Kebangkitan Nasional. Rentetan acara ini bertemakan “Gerakan Penebar Optimisme Bangsa”. Dipilih momen Hari Kebangkitan Nasional karena saat itulah bangsa Indonesia mengenang sejarah bangkitnya perjuangan bangsa. Diharapkan saat itu pulalah, bangsa Indonesia tersadar, bahwasanya kita sangat berpeluang untuk bisa bangkit lagi.

Gerakan Indonesia Bersinar memiliki mindmap jangka panjang : Fase Pengawalan, Fase Klimaks, dan Fase Foloow-Up Gerakan. Fase Pengawalan berupa kampanye secara masif mengenai wacana positif dan semangat optimisme dalam berkarya untuk bangsa. Akan digencarkan pewacanaan dalam bentuk update status, tulisan, opini, dsb yang bertujuan untuk menghangatkan semangat optimisme para pemuda.





Fase Klimaks atau Gong Besar dari Gerakan Indonesia Bersinar berupa kegiatan – kegiatan yang diselenggarakan mendekati Hari Kebangkitan Nasional. Urgensitas diadakannya fase ini adalah agar gerakan ini mampu memberikan dentuman optimisme yang besar terhadap bangsa.

Momen utama dari gong besar Gerakan Indonesia Bersinar adalah gerakan menyebarkan ribuan balon optimis. Balon – balon yang akan diterbangkan diisi kertas yang berisi harapan optimis terhadap Indonesia ke depan. Secara filosofis, harapan – harapan itu akan disebar ke seluruh pelosok negeri melalui ribuan balon udara.

Follow-up atau bentuk tindak lanjut dari gerakan ini berupa PKM Development Project, Young Engineer Summit, dan Penerbitan Buku Indonesia Bersinar, dan kegiatan – kegiatan minor lainnya. Tujuan dari ditinjaklanjutinya gerakan ini adalah agar sinar optimisme dalam berkarya yang kita sebar tidak begitu saja redup, akan tetapi bisa diteruskan oleh sumber – sumber sinar lainnya.

Indonesia membutuhkan perubahan yang paling krusial, yakni perubahan mindset masyarakatnya. Gerakan Indonesia Bersinar mampu memberi sumbangsi terhadap perubahan positif mindset masyarakat Indonesia.

See more info : http://www.indonesiabersinar.org