Refleksi Sumpah Pemuda: Youth Jaman Now!

You are never too young to change the world!

PS: Artikel ini adalah materi sharing "Nyangkruk Pedjoang Heroes" edisi perdana yang diadakan oleh teman-teman Forum Indonesia Muda chapter Surabaya, FIM HEROES dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda tahun 2017

Soekarno pernah berkata, “Beri aku sepuluh pemuda, maka akan kuubah dunia”. Pernahkah kita merenungkan maknanya? Sebegitu powerful-kah kekuatan pemuda sampai Founding Father kita menaruh harapan sebegitu besarnya? Pernahkan kita berefleksi bahwa harapan kekuatan besar itu benar-benar ada dalam diri pemuda? 
Ada pribahasa mengatakan, “pemuda adalah pemimpin masa depan”. Saya pribadi tidak sepakat dengan ungkapan tersebut! Karena setiap pemuda hebat pada masanya, pasti akan tampak di permukaan. Okay, sebelum kita membahas #YouthJamanNow, mari kita coba telisik bagaimana peran pemuda dalam sejarah perjuangan di Indonesia, bahkan dunia.

Tahukah kamu, Soekarno mendirikan Partai Nasional Indonesia (PNI) dan menjadi ketua umum pertamanya ketika berumur 26 tahun? Atau pernahkah kamu membaca sejarah kemerdekaan bahwa desakan golongan mudalah yang membuat Indonesia segera mengumandangkan kemerdekaan 17 Agustus 1945?
Apakah pernah membaca biografi Mohammad Hatta, kalau beliau sudah mendirikan Perhimpunan Pelajar Indonesia Dunia pada usia 25 tahun?
Tahukah kamu bahwa Sutan Syahrir menjadi perdana menteri termuda di dunia serta merangkap Menlu & Mendagri pada usia 36 tahun?
Tapi, tapi, tapi, aku kan masih belasan kak? Aku masih dua puluhan tahun awal kak? Okay, mari kita telusuri jejak pemuda yang lebih muda. Jangan baper ya!
Tahukah kamu bahwa Muhammad Al-Fatih masih berusia 21 tahun ketika memimpin kekhalifahan Turki menaklukkan Konstantinopel?
Kamu pasti pernah membaca kisah Nabi Sulaiman sebagai raja di kerajaan jin, manusia, dan binatang. Tahukah kamu, Beliau mulai memimpin di usia 13 tahun?
Apakah masih ada kata “tapi” lagi? youth lives on hope, old age on memories. Coba kita tanamkan ke diri kita dulu ya, selama ada excuse (apapun itu), diri ini akan selalu mencari pembenaran, tak pernah salah, dan tentunya tak akan berkembang. Yuk, kita terima kenyataan dulu, kalau pemuda memang punya kekuatan untuk mengubah dunia dan taka da alasan terlalu muda untuk membuat perubahan. Okay? Udah itu dulu 
We cannot always build the future for our youth, 

but we can build our youth for the future 

(Franklin D Roosevelt)

Youth is the gift of nature, but age is a work of art!

Pernahkan kamu mendengar istilah kalau masa muda itu tidak melulu perkara usia? Bahkan, Pasal 1 ayat 1 UU kepemudaan menyebutkan bahwa “Pemuda adalah Warga Negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 sampai 30 tahun.” Saya pribadi kurang sepaham dengan mengklasifikasikan pemuda berdasarkan usia. Bukan karena polemik kalau usia 16 tahun itu masih tergolong anak, atau pembatasan usia 30 dalam perekrutan berbagai program kepemudaan. Tapi, saya cukup terhipnotis teori Anies Baswedan ketika mengucapkan selamat datang kepada kami, para Pengajar Muda, bahwa pemuda itu tentang visi ke depan. Selama kita punya mimpi dan cita untuk menggapai visi tersebut, seseorang masih bisa dikatakan pemuda. Karena pemuda itu menjanjikan masa depan, yang membicarakan masa lalu hanya golongan tua. Terlepas berapa usiamu sekarang, apakah kamu masih tergolongan muda? #eeh
Enjoy your youth, you’ll never be younger than you are at this moment.

Refleksi #YouthJamanNow

Apakah kamu cukup familiar dengan hadits shahih yang hits menjadi lagu religi, “Ingat lima perkara, sebelum lima perkara” kan? Salah satunya adalah memanfaatkan masa muda sebelum masa tuamu. Sungguh, masa muda adalah nikmat luar biasa tiada tara. Berkaca dari sejarah pergerakan pemuda Indonesia mulai dari peristiwa Sumpah Pemuda sampai Masa Kemerdekaan, ternyata gen itu tak pernah bohong lho! Banyak karya #YouthJamanNow! Membanggakan! Well, tentu setiap orang berhak memilih kacamata dan lingkaran pertemanan ya! Dan saya memilih berteman dalam lingkaran pemuda progresif dan produktif. Saya coba deh, mendaftar teman-teman saya yang hits dengan karyanya!
Pernahkan kamu mendengar KITABISA.com? sebuah platform crowdfunding terbesar di Indonesia? Foundernya tu alumni FIM lho, Alfatih Timur.

Pernah mendengar platform RUANGGURU? Sebuah platform pendidikan hits milenial dengan co-founder teman saya yang masih sangat muda, Iman Usman dan Belva Devara. Pernah mendengar Gerakan Melukis Harapan yang berhasil mengubah wajah Dolly, sebuah tempat prostitusi terbesar se-ASEAN di Surabaya? Foundernya masih sangat muda, kakak tingkat saya, Dalu Nuzlul Qirom.

Banyak pula gerakan-gerakan perubahan dari sahabat-sahabat saya di asrama Rumah kepemimpinan, diantaranya: Nur Agis Aulia, dengan Gerakan Banten Bangun Desa, Reza Zaki, Pendiri Rumah Imperium dan Forum Putra Daerah Membangun, Toton Siplho, pendiri Gerakan Madura Madani, Ghoris Mustaqim dengan Ashgar Muda. Tentu masih banyak produk-produk inovatif lainnya.

Saya coba melihat lebih dekat sahabat-sahabat FIM Heroes saja penuh dengan inspirasi. Tyas Nastiti dan Alifta dengan produk sepatu Klastiknya, Mahendra Ega Higuitta dengan Sego Njamoernya, Lutfi Ramadhani dengan usaha es dawetnya, Mukhlis Said dengan mahakarya Buku Metamorfosanya!

Sungguh, apabila saya sebutkan semua karya-karya #YouthJamanNow ga ada habisnya halaman ini. Artinya apa? Harapan itu masih ada! Contoh-contoh di atas hanya sebagian kecil dari lingkaran pertemanan saya, belum lagi ditambah lingkaran kawan-kawan lainnya. So, masih ada keraguan kalau #YouthJamanNow itu menye-menye, tidak seperti pendahulunya? 

Menjadi #YouthJamanNow (Refleksi Pribadi)

Saya sering merenung dalam hening, apakah peran saya dalam kehidupan sekarang? Apakah eksistensi saya ini mampu membawa perubahan dalam lingkungan sekitar saya? Sebagai makhluk Tuhan, apakah saya dapat menjadi rahmat bagi seluruh alam? Sebagai anak, mampukah saya menjadi kebanggan orangtua? Sebagai pemuda Indonesia, kontribusi apa yang saya berikan untuk ibu pertiwi? Sebagai warga dunia, apakah eksistensi saya memberi sedikit cahaya?

Saya pernah mencoba berkarya dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), walaupun mendapat dana, ternyata operasional tidak jalan. Begitupun ketika saya lolos dalam Program Mahasiswa Wirausaha (PMW), dapat belasan juta dan program ga jalan. Huft! Ternyata saya memang tak berbakat dalam karya ilmiah dan kewirausahaan. Pinter presentasi doang, tapi ga bisa menjalankannya!

Saya sempat menjadi Mahasiswa Berprestasi di Jurusan Desain Produk Industri ITS tahun 2011 walaupun saya merasa biasa-biasa saja. IPK ngepres, karya nihil, tiap hari kerjaannya jadi wartawan sama ngurusin himpunan mahasiswa doang. Saya sempat frustasi karena teman-teman saya dalam forum mawapres local dan nasional penuh dengan karya ini-itu, termasuk sahabat-sahabat saya di berbagai forum pemuda nasional seperti Forum Indonesia Muda (FIM), Young Leaders Indonesia(YLI), Program Pertukaran Pemuda Antar Negara (PPAN) dan Model United Nations (MUN). Belum lagi kalau melihat capaian-capaian saudara-saudara saya di asrama Rumah Kepemimpinan (RK) nasional dan Yayasan Karya Salemba Empat (KSE). Hvft! Apalah saya, hanya serbuk koya dalam soto Lamongan. Saya penasaran tentang potensi pribadi yang belum saya lihat, namun berbagai komunitas memberi saya kesempatan untuk bertumbuh bersama mereka. 

Dari sana saya menyadari, potensi saya adalah pengembangan diri dalam organisasi yang peka terhadap isu ekonomi kreatif, seni budaya, dan kemanusiaan. Setelah lulus S1, saya langsung dipercaya menjadi supervisor dalam berbagai projek Pusat Studi Potensi Daerah dan Pengembangan Masyarakat (PDPM) 2013 kemudian berlanjut menjadi Pengajar Muda 2014-2015, serta menjadi officer tim Training Indonesia Mengajar 2016 sebelum saya berangkat ke Britania Raya untuk melanjutkan studi di bidang Industri Kreatif dan Kebijakan Kebudayaan. Kira-kira, poin apa yang kalian dapat dari cerita pribadi saya?

Poin yang ingin saya sampaikan adalah:
  1. Kenali potensi diri sejak dini dan kembangkanlah untuk mengoptimalkan kontribusi sebagai #YouthJamanNow. Biar tidak terbawa angin, lagi hits bikin gerakan, ikutan bikin! Lagi hits bikin start-up, ikut-ikutan lagi!
  2. Kontribusi dan Prestasi itu tidak selamanya berupa posisi tinggi dalam sebuah organisasi/instansi, mendapat penghargaan dari berbagai macam penemuan karya tulis ilmiah, mendapat piala dalam beragam kompetisi olahraga, seni, dan budaya, atau sukses membuat bikin gerakan-gerakan ala ala atau digital start-up ala ala bocah kekinian. Pencapaian itu luas sekali guys! Banyak lho, yang berkontribusi dalam diam. Misal memilih menjadi dosen di Papua serta menyuarakan kesetaraan hak mahasiswa di sana! Ada pula yang mengajar dan mendistribusikan buku-buku ke tempat terpencil. Ada yang menyepi di sebuah pulau dan melakukan pemberdayaan masyarakat di bidang agribisnis, seni dan budaya, serta lainnya.
  3. Setelah mengenali potensi diri (dan mengembangkannya) serta memperbaiki mindset terkait makna kontribusi, perluas jaringan untuk memperbesar kesempatan, apapun. Saya tipe orang yang tidak percaya dengan yang namanya keberuntunga. Karena keberuntungan itu hanyalah kata lain dari kompetensi yang bertemu dengan kesempatan! 
Siapkah kita menjadi #YouthJamanNow yang produktif dan kontributif? Buktikan!