Indonesia Mengajar X Mata Garuda

Setahun Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi
Indonesia Mengajar Goes to Community feat. Mata Garuda kali ini menunjuk saya dan Mas Idola, Fahmi Masdar, sebagai pemateri dalam WAminar yang diselenggarakan, Rabu (17/01) Malam pukul 20.00-22.00 WIB (saking antusiasnya, acara molor sampai 22.45 WIB, terimakasih para peserta). Nah, buat teman-teman yang ketinggalan kegiatan tersebut, saya bagi nih hasil catatan acara tersebut. Semoga dapat memberi inspirasi buat pembaca! Oia, jawaban-jawaban pertanyaan berikut ini hanya opini dari saya saja (tanpa jawaban Mas Fahmi). Kalau ingin membaca catatan lengkapnya, dapat di buka di sini ya! Selamat membaca! 

Apa sih titik balik/ momen dalam hidup Mas Hanif yang mendorong kamu waktu itu memutuskan untuk mendaftar sebagai Pengajar Muda (PM)?

Titik balik kehidupan yang mendorong daftar #jadiPM. Dari TK sampe S2 saya mendapatkan beasiswa pendidikan sehingga meringankan beban orang tua di kampung, sekitar pantura Lamongan. Dengan penghasilan di bawah sejuta perbulan, buat makan saja susah, apalagi ditambah kebutuhan sekolah. Oleh sebab itu, jadi Pengajar Muda hanyalah bentuk rasa syukur saya kepada Sang Maha Perencana atas segala rencana terbaik dalam hidup saya. Karena secara finansial dan intelektual masih belum dapat diandalkan, setidaknya tenaga saya berguna sebagai bentuk kontribusi nyata. Yup, sesimpel sebagai wujud rasa syukur saya kepada Allah SWT

Dulu yang Mas Hanif bayangin sebelum jadi PM apa sih? Dan realitanya setelah jadi PM gimana?

Sejujurnya, saya tidak punya ekspektasi apapun sebelum mendaftar. Hal ini karena tujuan awal #jadiPM sebagai wujud rasa syukur saja, terutama kontribusi dalam hal pendidikan yang kebetulan visi tersebut diakomodir dengan kehadiran gerakan Indonesia Mengajar. Bahkan, sebelum berangkat pun saya sudah ikhlas apabila nyawa saya jadi taruhannya, termasuk ditombak suku pedalaman demi mengaktifkan motivasi internal anak-anak di pedalaman. Serius Ini bukan drama! Alhamdulillah, tidak terjadi drama lempar tombak seperti dalam imajinasi saya!

Realitanya? Setelah #jadiPM, rasa syukur semakin bertambah! Gimana nggak coba, ketika kamu dapat menyaksikan drama-drama di layar kaca secara nyata tepat di depan mata, syukur itu tumbuh semakin nyata. Mulai dari drama anak usia 5 tahun yang harus berjalan kaki 5km tiap pagi ke sekolah, guru honorer yang mengabdi sampai lebih dari 40 tahun dengan gaji di bawah IDR 500K dan harus menghidupi 5 anggota keluarganya, 40an siswa SD yang sekolah di gedung sempit 4x9 meter persegi dan disekat 3 bagian yang lebih drama dari kisah Lasykar Pelangi (bahkan warga lokal saja menyebutnya seperti kandang ayam), anak jenius juara olimpiade sains tingkat provinsi yang harus putus sekolah karena disuruh bekerja oleh orang tua bermindset “persetan dengan sekolah”, dan drama-drama lainnya. Drama Korea aja lewat, apalagi drama Naga terbang di salah satu stasiun swasta. Tepat seperti firman-Nya, barang siapa yang bersyukur, maka ni’mat akan bertambah. Please note ya! Ni’mat ga melulu berupa materi! Belajar tentang arti kehidupan dari masyarakat pedalaman itu tak ternilai harganya.

Cerita sedikit dong tentang kebiasaan-kebiaasan (adat istiadat) yang berbeda dengan tempat asal Mas Hanif? Bagaimana cara untuk beradaptasi dengan baik sehingga bisa survive di sana?

Adat istiadat di penempatan (Muara Enim) jelas beda dengan saya di Jawa ya! cara nikmati cukup enjoy every moment aja sih dan bersyukur apapun itu :)
  1. Suku Rambang, masyarakat tempat saya tinggal, sangat jago bermain pantun, untuk anak SD sekalipun. Jadi bukan sebuah kebetulan, ketika anak SD dipoles sedikit saja, sampai ada yang jadi duta dongeng Sumatera Selatan di Jakarta. Bahkan, ketika prosesi pernikahan pun ada sesi berbalas pantun antar pasangan. So, pandai-pandailah berpantun kalau hendak mencari orang Muara Enim.
  2. Sebagaimana orang Melayu kebanyakan, mereka juga suka berdendang. Banyak penyanyi lokal dengan bahasa daerah. Beberapa yang saya suka, Muara Enim Kota serasa, dan Bujang Sare. 
  3. Upacara pernikahan yang sangat mevvah! Walaupun orang miskin dan harus pinjam duit ke tetangga, nikahan anaknya harus heboh! Mereka harus menanggung makan semua tamu dan orang sekampung sampai seminggu, dan berbagai prosesi yang cukup melelahkan serta mengeluarkan biaya yang tak murah. Nah, kebetulan saya menemukan uraian yang lebih detail di blog ini, http://goresantinta-anakrimba.blogspot.co.id/2014/11/adat-pernikahan-budaya-rambang.html Saya seneng sih kalau ada yang nikah, artinya makan enak untuk beberapa hari

Apa sih yang Mas Hanif dapatkan selama satu tahun di Muara Enim yang tidak Mas Hanif dapatkan ketika menuntut ilmu ke luar negeri?

Hmmm... pertanyaan yang berat... yang di dapat di Muara Enim dan tidak ada di Luar Negeri. Saya yakin bahwa harmonisasi antara teori dan praktik itu diperlukan untuk mengoptimalkan pemahaman. Dari kecil selalu dijejali dengan materi Kewarganegaraan, bahkan seminar-seminar kepemudaan dan bela negara untuk menumbuhkan nasionalisme. Saya merasa selama ini terlalu banyak menerima teori dan minim aksi. Oleh sebab itu, rencana aksi saya kala itu untuk menumbuhkan hal tersebut adalah dengan metode melihat Indonesia lebih dekat. Mengikuti program-program blusukan ke pelosok. Sebelum saya gabung di IM juga sempat menjadi tim surveyor untuk pengembangan potensi daerah sehingga bertugas di tempat-tempat yang jauh. Saya jadi mengenal Indonesia lebih dekat, merasakan secara langsung perbedaan budayanya, sehingga semakin bangga akan kekayaan Indonesia. 
Please note! saya tidak menyebutkan kalau untuk mendalami pelajaran KWN harus ke pelosok negeri ya! Tapi memang itu salah satu rencana aksi saya pribadi. Silahkan teman-teman membuat konsep yang sesuai kebutuhan masing-masing.

Bagaimana caranya mendorong adanya kebiasaan-kebiasaan positif yang baru baik di desa maupun kabupaten penempatan? Bagaimana mengembangkan potensi masyarakat di sana?

Cara mendorong entitas positif masyarakat yang paling powerfull adalah dengan memberikan contoh langsung :D misal, ketika gedung seringkali kotor karena setiap malam diserbu babi hutan, kita ngajak anak-anak bawa kayu masing2 untuk dibuat pagar, serta bawa peralatan. orang tua wali jg diperbolehkan membantu. akhirnya rame deh yg mmbantu :)
Saran untuk pengembangan potensi daerah adalah peningkatan kualitas SDM berbasis keberlanjutan. Maksudnya, ketika kita mau mengembangkan daerah tersebut, setidaknya ada rencana jangka pendek dengan outputnya, sampe rencana jangka panjang dan outcomenya. Memberi pelatihan dg kurikulum yang jelas, sehingga ada masa ketika sudah ditinggalkan, mereka tetap berlanjut. Ibarat pepatah Cina: *Beri ikan, maka kamu menolongnya makan sehari Beri kail, maka kamu menolongnya untuk mencari makan seumur hidup *

Jadi penasaran juga, gimana sih masyarakat di penempatan melihat Mas Hanif, seseorang yang berpendidikan tinggi tapi mau datang jauh-jauh dari kota untuk jadi guru di sana?

Pandangan masyarakat terhadap pengajar Muda itu unik2 lho, beberapa di antaranya:
  • Mayoritas berpendapat kami adalah dewa yang dapat menyelesaikan segala masalah. Mulai dari jari anak-anak yang hampir putus karena kejepit pintu, membenarkan TV rusak, sampai menjadi ustaz dadakan dalam pengajian. Bahkan, ada anak warga yang dinamai seperti nama saya untuk penghormatan.
  • Beberapa masyarakat menganggap saya adalah orang berpendidikan tinggi yang tak dapat berkompetisi di kota besar sehingga mencari pekerjaan sampai ke pelosok negeri. Ketika selesai penugasan dan akan kembali ke kota, ada yang ngasih pesangon karena kasihan. “Pak, nanti kalau ga dapat kerjaan di Jakarta, ngajar lagi aja di sini. Kami sangat senang dengan kehadiran bapak,” ungkapnya. ngenes banget ya? Hhahaha. Kalau diingat-ingat lucu sih. Bisa jadi karena penampilan yang kurus kering kucel selama di penempatan.
  • Mereka juga menganggap hadirnya IM adalah sebuah harapan baru untuk kemajuan desanya. Bagaimana tidak, mayoritas desa-desa penempatan ini awalnya sangat pelosok, tertinggal, dan sama sekali tak terkenal. Ketika ada PM, mendadak hits dengan berbagai macam prestasi anak sekolah, kemauan masyarakat untuk berubah, sampai seringkali kedatangan tamu baik dari bapak-bapak dinas di kota sampai anak-anak muda relawan yang ringan tangan.  

Menurut Mas Hanif, apakah kurikulum pendidikan Indonesia sesuai jika diterapkan di penempatan?

Kurikulum 2013 (ketika saya mengabdi), saya kira cukup mengakomodir kebutuhan setiap daerah di mana fokus kurikulum tsb adalah student-centre learning. Pendidik (guru) hanya sebagai fasilitator untuk mempercepat proses KBM. Apalagi, sistem ini juga dapat diadaptasi dg local culture masing-masing, misalnya tematik dg kebudayaan lokal. Namun, karena guru dituntut kreatif dan inovatis, ini juga bisa menjadi boomerang karena tidak semua guru di daerah punya kapasitas tersebut. Singkatnya, kurikulum tersebut akan jadi sebuah tool yg powerfull apabila diimbangi dg peningkatan kualitas SDM pengajar :)

Apa sih yang berubah dari cara pandang mas mas berdua terhadap Indonesia setelah satu tahun tinggal intensif di desa penempatan?

  1. Saya lebih memahami makna kontribusi untuk bangsa jauh lebih luas. Bahkan menjadi sosok pendidik anak bangsa di pedalaman yang jauh dari tepuk tangan dan sorotan kamera itu punya peran yang besar. Kontribusi tidak melulu harus bisa mendirikan start-up hits kekinian seperti anak muda zaman now saja. LUAS!
  2. Statement bahwa Indonesia kaya, ITU NYATA! Mulai dari suku, bahasa, budaya, sampai makanan tradisional. Dari sini saya melihat langsung betapa potensialnya Indonesia dengan segala kekayaan alamnya
  3. Anak-anak daerah itu punya potensi yang sama dengan anak-anak ibukota kalau mereka dapat akses informasi dan kesempatan yang sama. Apabila bonus demografi itu nyata adanya dan pembangunan SDM merata tanpa ketimpangan, saya melihat dengan jelas potensi bonus demografi Indonesia di masa depan dengan kualitas SDM terbaiknya
  4. Nah, karena saya yakin ladang kontribusi itu luas, kekayaan indonesia itu nyata, dan bonus demografi melimpah, Hal ini yang menguatkan saya untuk mengambil keputusan lanjut studi lagi. Saya punya alasan yang kuat kenapa saya harus meningkatkan kapasitas saya lagi melalui sekolah yang lebih tinggi

Gimana cara jitu dan mudah untuk mengambil Hati Anak2 didik dan masyarakat tempat mengajar?

Hadirnya kita di penempatan juga sudah sangat menarik minat anak-anak lucu nan menggemaskan. Strateginya bisa berbeda tiap PM tergantung talenta dan kondisi lapangan ya. kalau saya dulu, Ngajar dengan cara fun, nyanyi dan main-main, tenang aja yang ini akan dibekali saat pelatihan. Nah, karena saya suka bikin-bikin video, saya sering banget bawa kamera ke sekolahan untuk nge-shoot kebiasaan/kegiatan mereka. Mereka seneng banget dan nempel terus, setelah diedit, saya mengadakan nobar. kadang gak hanya sama siswa, sama mama-mama dan bapak-bapaknya juga diajak nobar. walau cuma lewat laptop. ini boleh lihat sedikit cuplikannya https://www.youtube.com/watch?v=FrjtUpUk0dU

Mas Hanif terima kasih atas Ilmunya. Saya mau menanyakan bagaimana cara mempersuasi atau meyakinkan orang lain agar ikut IM ini atau meyakinkan orang tua kita sendiri untuk memberi izin

Meyakinkan orang tua gampang-gampang susah. Berikut strategi saya:
  1. kita harus yakin dg diri kita dulu ya :), gimana kita mau meyakinkan org lain kalo kita aja masih ragu dalam hati. 
  2. kita harus punya tujuan yang jelas, serta alasan-alasan yg rasional sehingga ketika menyampaikan ke org lain/orang tua, argumen kita kuat.
  3. Sampaikan dengan cara yg baik :) Terkadang, sesuatu yang baik sulit diterima karena cara penyampaiannya yang tidak bagus.