Keseruan Studi Banding BEM ITS 2010

BEM ITS Goes to Jakarta-Bandung

Untuk kesekian kalinya, Depertemen Hubungan Luar Negeri (Hublu) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS mengadakan program kerja terbesarnya, Study Comparative. Tahun ini, sasaran yang dituju adalah Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Institut Teknologi Bandung (ITB), Politeknik Bandung (Polban), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), dan Kantor Kementrian Pendidikan Nasional. Selain Studi Banding, kesempatan ini juga digunakan untuk mempererat tali silaturrahim dengan Ikatan Alumni (IKA) ITS di Bandung dan Jakarta.

Study Comparative yang diadakan Hublu kabinet Bersama Berkontribusi Untuk Bangsa ini dilaksanakan pada 10-15 Januari 2010. Cukup panjang, mengingat perguruan tinggi dan instansi yang akan dikunjungi juga tidak sedikit. Selain itu, tempat-tempat tersebut terletak di ujung barat Pulau Jawa, jauh dari kota Surabaya yang berada di ujung timurnya.

"Study Comparative ini bertujuan untuk belajar dari luar tentang apa saja, mulai dari politik kampus, permasalahan kampus, serta perkuliahan. Jadi, akan kami manfaatkan dengan sebaik-baiknya kesempatan emas ini," ungkap Muhammad Ersyad selaku Presiden BEM ITS.
Peserta yang diberangkatkan studi banding merupakan perwakilan dari setiap elemen KM ITS. Mereka terdiri dari staf Hublu selaku panitia penyelenggara, pengurus BEM ITS inti, serta perwakilan dari masing-masing tujuh departemen dan dua divisi BEM ITS, Lembaga Legislatif (LM) ITS, Lembaga Minat Bakat (LMB), serta masing-masing perwakilan dari lima BEM fakultas dan dua politeknik di ITS.

"Jumlah kursi untuk join event ini memang terbatas. Oleh sebab itu, saya harap masing-masing delegasi bisa menyerap ilmu seoptimal mungkin," ujar Muhammad Salim, Menteri Hublu BEM ITS.
Salim menambahkan, sepulangnya dari studi banding tersebut, setiap delegasi bisa menyalurkan ilmu yang didapatnya untuk membangun ITS yang lebih baik, khususnya dalam kemahasiswaan. "Dengan hal ini, mahasiswa ITS pasti bakalan lebih melek tentang isu nasional," jelas Salim.

Pemberangkatan rombongan KM ITS sangat tertib dan sesuai harapan. Berkumpul tepat pukul 12.00 dari sekretariat BEM ITS, 42 Mahasiswa tersebut langsung menuju stasiun Gubeng serentak, Minggu (10/1). Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 19 jam, mereka langsung bersiap untuk menimba ilmu di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Senin (11/1)

***

UNJ Optimis ITS Jadi Pusat Revolusi Industri

Universitas Negeri Jakarta (UNJ) adalah sasaran pertama rombongan Study Comparative (SC) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) ITS 2010. Universitas negeri di Jakarta Timur ini memang menjadi salah satu pelopor dalam pergerakan BEM Seluruh Indonesia (SI). Dengan motto Cerdas dan Bersahabat, rombongan SC BEM ITS pun disambut hangat oleh BEM UNJ, Senin (11/1).

BEM UNJ adalah organisasi kemahasiswaan intra kampus yang berdiri dalam kesatuan organisasi pemerintahan mahasiswa (OPMAWA) tingkat universitas. Dalam perjalanannya, BEM UNJ tidak hanya bergerak dalam tataran kampus saja, tetapi juga dalam bentuk wujud kepedulian, kepekaan sosial politik, dan kemasyarakatan.

“BEM UNJ mempunyai visi kedepan menjadi lembaga professional, melayani, dan terbuka di kalangan civitas akademika. Selain itu juga menjadi basis pergerakan mahasiswa dan rakyat.” Ungkap Ali Sibro Malisi selaku Ketua Umum BEM UNJ.

Secara Umum, peran dan fungsi BEM UNJ dengan ITS tidak jauh beda. Yaitu mempunyai fungsi control pemerintahan dan penyalur aspirasi rakyat. Namun, di dalam fungsi umum itu pasti terdapat program-program kreatif masing-masing mahasiswanya. Ibarat kata pepatah, banyak jalan menuju Roma.

“Salah satu keunikan BEM UNJ adalah, adanya sebuah agen khusus yang disebut Green Force,” ungkap Ali. Dia melanjutkan, Green Force merupakan tim militant yang langsung bekerja dibawah Departemen Sosial Politik. Bidang kerjanya secara umum dibagi menjadi tiga, yaitu di bidang propaganda, pos aksi, dan permasalahan intern.

“yang paling menarik adalah sebagai pos aksi,” ungkap Mahasiswa Kimia FMIPA ini. Ali menjelaskan, sisi menarik dari pos aksi ini adalah pengadaan kajian-kajian tentang isu politik nasional sebelum mengadakan aksi. “Jadi kami harus benar-benar mengerti permasalahannya sebelum pasang aksi turun ke jalan.” Tambahnya.

Tidak jarang pula Green Force mengundang orang-orang penting dalam dunia politik nasional. Misalnya saja, beberapa waktu lalu BEM UNJ sempat mengundang Bibit Candra dalam diskusi tentang kinerja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). “Alhamdulillah, posisi yang strategis UNJ di ibukota sangatlah membantu dalam penjaringan isu-isu nasional.” Ucapnya syukur.

Muhammad Ersyad juga sependapat dengan Ketua BEM UNJ, bahwa letaknya yang strategis itu sangat menguntungkan. “Oleh sebab itu, saya sangat berharap komunikasi intensif antar mahasiswa dari berbagai kampus yang tersebar dari Sabang sampai Merauke terus dijaga. Hal ini untuk menghindari adanya miskomunikasi.” Ujar Presiden BEM ITS tersebut.
Study Comparative selama empat jam itu benar-benar dimanfaatkan rombongan BEM ITS dengan optimal. Bahkan, untuk memaksimalkannya, sempat dibagi-bagi diskusi antar departemen yang bergerak sesuai bidangnya.

Selain diskusi tentang politik social masyarakat saat ini, kedua delegasi tersebut juga saling menyampaikan harapannya. “ITS memang sebuah institut yang berbasis teknologi. Namun bukan berarti mahasiswa teknik itu menutup mata dengan permasalahan social politik yang terjadi di masyarakat. “ jelas ketua BEM UNJ. Dia juga optimis, kalau ITS terus diasah kemampuannya baik itu di bidang teknologi maupun social, sangatlah mungkin di masa depan ITS bakal menjadi pusat revolusi teknologi sebagaimana revolusi industri, khususnya di Indonesia belahan timur

***

Sharing Bersama KM ITB : Susah-Senangnya Status BHP

Setelah Universitas Negeri Jakarta (UNJ), tempat tujuan kedua rombongan Study Comparative (SC) Badan eksekutif mahasiswa (BEM) ITS Bersama Berkontribusi Untuk Bangsa ini adalah Institut Teknologi Bandung (ITB), Selasa (12/1). Perguruan tinggi berlambangkan Ganesha ini memang menjadi salah satu tujuan utama studi banding kali ini. Karena ITB sendiri merupakan salah satu PTN terpandang di Indonesia, dan banyak informasi yang perlu digali di dalamnya.

Perjalanan panjang selama berjam-jam disertai kemacetan di kanan-kiri jalan tidaklah menyurutkan semangat tim SC BEM ITS. Agenda pertama di hari kedua ini adalah kunjungan ke keluarga mahasiswa (KM) ITB. Dengan guyuran hujan rintik-rintik, akhirnya mereka tiba di ITB pukul 10.30 WIB.

Sesampainya di ITB, sambutan hangat dari KM ITB atas kedatangan tim SC ITS. Seluruh anggota SC ITS kemudian dibawa menuju ruang BEM yang terlihat sederhana, namun dikelilingi oleh gedung-gedung kampus yang megah. “Selamat datang saudaraku di kota kembang. Hidup Mahasiswa!” Tukas Ridwansah Yusuf Achmad, Presiden KM ITB.

Seperti agenda sebelumnya di UNJ, ketika di ITB pun diawali dengan perkenalan masing-masing KM. Setelah itu, dilanjutkan dengan diskusi antar departemen. Sayangnya, diskusi kali ini tidak seefektif ketika di UNJ. “Saya mewakili KM ITB mohon maaf kalau kurang optimal, karena hari ini bertepatan dengan pengkaderan pusat. Jadi, kami harus membagi fungsionaris KM ITB.” Ungkap Ridwan. Beberapa menteri kabinet pun tidak tampak dalam diskusi itu. Mayoritas sedang menjadi panitia dalam pengkaderan terpusat

Untuk menyiasatinya, Ridwan membagi fungisonaris menjadi dua bagian, yaitu internal dan eksternal. Untuk bagian eksternal adalah Departemen Hubungan Luar dan Kebijakan Publik. Sedangkan yang lainnya masuk dalam internal.

Dalam diskusi tersebut, banyak hal yang dapat diambil manfaatnya. Salah satunya adalah tentang susah-senangnya status kampus yang sudah menjadi Badan Hukum Pendidikan (BHP). BHP sendiri menempatkan satuan pendidikan sebagai subjek hukum yang memiliki otonomi luas, akademik maupun non akademik, tanpa khawatir lagi dengan kooptasi birokrasi. “sampai saat ini pun masih banyak pro dan kontra di kalangan KM ITB mengenai hal ini,” ungkap Mahasiswa Perencanaan wilayah dan Kota tersebut.

Ridwan menyebutkan, beberapa sisi positif status BHP adalah fasilitas kampus yang jauh lebih baik. Hal ini disebabkan dana yang tersedia bisa langsung turun ke institut. Secara kuantitas juga jauh lebih besar.

Selain itu, beasiswa untuk mahasiswa pun lebih banyak. “Karena dananya langsung turun dan langsung bisa cair kalau tidak ada penghambat diatasnya,” imbuhnya.

Ridwan menambahkan, sisi positifnya memang bisa dirasakan bersama. Namun, sisi negatifnya akan sangat terasa bagi mahasiswa yang ekonominya menengah ke bawah. “Overall, biaya belajar di kampus BHP memang tidaklah murah,” cetusnya.

“Karena biaya yang tidak sedikit itu, maka kami (KM ITB) mencetuskan program ITB Peduli bersama.” ungkap mahasiswa angkatan 2005 ini. Program tersebut adalah program beasiswa secara penuh bagi mahasiswa baru yang berprestasi. Beasiswa ini termasuk SPP, uang saku, tempat tinggal, bahkan kendaraan. Semua fasilitas tersebut bisa dinikmati sampai lulus kuliah. Program yang sudah terlaksana selama dua tahun ini banyak mendapat respon positif dari masyarakat.

“ya, karena fasilitas yang luar biasa, maka seleksinya pun sangat kompleks untuk mendapatkan mahasiswa yang luar biasa pula,” tuturnya.
Selain BHP, sorotan pokok lainnya adalah tentang program pendidikan oleh KM ITB. “Kami memang belum ada program sekolah pelopor. Namun, kami sangat gencar dalam pengadaan wacana yang mencerdaskan mahasiswa,” terang Ridwan.

Dia menjelaskan, sistem yang dipakai dalam pewacanaan adalah sistem terpusat. Yaitu, mengundang senator-senator untuk mengkaji isu-isu terbaru, kemudian disebarkan ke masing-masing Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ). “Cara ini sangat cocok diterapkan disini,” ungkapnya.

Bidang seni budaya dan minat bakat juga tidak kalah pentingnya dalam bahasan diskusi. Untuk KM ITB periode 2009-2010 ini bahkan punya program kerja akbar. “Kami akan mengadakan semacam pekan ekspo yang menunjukkan khasanah budaya nusantara.” ungkap Ridwan. Mahasiswa yang heterogen memang syarat dengan kebudayaan. Dan KM ITB sangat jeli dalam melihat peluang tersebut. “ekspo itu semacam Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang benar-benar mini lah.” tandasnya.

Presiden BEM ITS 2009-2010, Muhammad Ersyad bersama Ridwansyah, presiden KM ITB
Tidak terasa, tiga jam sudah diskusi tersebut dilaksanakan. Waktu yang sangat singkat tersebut sangatlah terasa kurang bagi rombongan SC BEM ITS untuk mengkaji informasi. setelah dari KM ITB, rombongan pun bersiap-siap untuk kunjungan selanjutnya, Politeknik Bandung.

***

Departemen Pendidikan Nasional : Dari Ujian Nasional sampai Status BHP Kampus

Usai kunjungan ke Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), tujuan berikutnya adalah Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, Rabu (13/1). Walaupun Menteri Pendidikan Nasional, Muh Nuh DEA, sedang tidak berada di tempat, rombongan Study Comparative (SC) BEM ITS tidak patah semangat. Disambut oleh Staf Khusus Menteri, Son Kuswadi, Dr. Eng, kunjungan singkat tersebut pun sempat berdiskusi tentang pendidikan nasional, mulai dari masalah Ujian Akhir Nasional (UAN) sampai status kampus Badan Hukum Pemerintah (BHP).

Sesampainya di depan kantor Departemen Pendidikan Nasional, rombongan SC BEM ITS pun segera disambut memasuki ruang sidang. Tampak puluhan mahasiswa kampus perkuangan yang penuh semangat, walau dari pagi hujan terus mengguyur ibu kota.

“Saya sampaikan banyak terimaksih atas kesempatan emasnya, dapat berkunjung ke kantor pusat Depdiknas RI. Besar harapan kami untuk menimbah pengetahuan sebanyak-banyaknya dalam diskusi singkat ini” Ucap Muhammad Ersyad , Presiden BEM ITS ketika menyampaikan sambutan.

Menurut Ersyad, tujuan utama kunjungan ke Depdiknas adalah untuk mengkaji ulang tentang kasak-kusuk UAN yang belum ada kejelasan dan status kampus BHP. Masing-masing peserta SC pun sudah menyiapkan pertanyaan cerdas. Dengan semangat, beberapa peserta berlomba adu cepat angkat tangan supaya mampu berdiskusi langsung dengan staf khusus mendiknas dalam diskusi singkat itu.

Menanggapi brondongan pertanyaan kreatif peserta dan masyarakat pada umumnya, Staf Khusus Menteri, Son Kuswadi, Dr. Eng pun mulai angkat bicara. “Sebelum menyatakan pro dan kontra tentang UAN, hendaknya dikaji ulang dulu tentang tujuan dan plus-minus UAN.” Ujarnya.

Dia menjelaskan, tujuan utama pelaksanaan UAN adalah sebagai tolak ukur kemampuan siswa secara nasional. “Kalau tidak ada standardisasi kemampuan lulusan, baik SMP maupun SMA, lalu bagaimana kita bisa membenahi pendidikan di Negara kita?.” Ungkap Son. Pemerintah juga sudah berupaya keras untuk menanganinya. “Kami pasti akan melakukan yang terbaik bagi bangsa ini” imbuhnya.

Mengenai pelaksanaan UAN yang masih banyak kecurangan dimana-mana, Dosen Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS)ini pun mengeluarkan pernyataan cerdas, “yang salah bukan sistemnya, tapi pelaksanaannya.” Dia menambahkan, sebagus apapun suatu metode, pasti bisa melenceng dari tujuan kalau pelakssanaannya banyak kecurangan. Tidak hanya untuk UAN, tapi semua metode di setiap aspek kehidupan.

“Dulu ketika pemerintahan bung Karno pernah menerapkan UAN saja, yang lulus bisa dihitung jari dalam setiap kabupaten. Ini masalah besar. Pernah juga hanya menerapkan Ujian Akhir Sekolah (UAS) saja, kemudian semua siswa lulus, serentak senasional.” Ceritanya singkat. Dia menjelaskan, kalau banyak yang tidak lulus, tentu hal ini masalah besar. Kalau semua siswa lulus, apakah permasalahan beres ? Belum tentu juga.

“Intinya, Ujian Nasional hanyalah sebuah metode hasil pikiran manusia, bukan hukum ketetapn tuhan yang universal. Jadi, kami pun akan selalu berusaha menerapkan metode terbaik untuk bangsaa ini.” Cetusnya.

Dengan waktu yang teramat singkat, diskusi pun segera dilanjutkan dengan status BHP kampus. BHP sendiri menempatkan satuan pendidikan sebagai subjek hukum yang memiliki otonomi luas, akademik maupun non akademik, tanpa khawatir lagi dengan kooptasi birokrasi. Sebagaimana UAN, BHP juga hanya suatu kebijakan hasil pikiran manusia.

“Segala kebijakan pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Oleh sebab itu, disini lah fungsi mahasiswa sebagai fungsi kontrol terhadap kebijakan pemerintah.”ujarnya. Son Kuswadi juga menghimbau seluruh mahasiswa supaya tidak mudah terpancing isu miring tentang sebuah kebijakan baru. “Hendaknya dikaji ulang secara mendalam. Buka juga wawasan kalian. biasakanlah melihat segala sesuatu secara luas, tidak hanya satu sisi.” Imbuhnya.


***

Melawan Korupsi, Belajar Dari Sang Ahli

Seiring dengan banyaknya kasus korupsi di Indonesia, nama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah pasti sangat familiar di telinga kita. Oleh sebab itu, untuk mengenal KPK lebih dekat, maka rombongan Study Comparative (SC) BEM ITS pun memasukkannya dalam daftar kunjungan selama lima hari di ibu kota, Rabu (13/1).

“Dalam kehidupan sehari-hari, seringkali kita mendengar kata ‘korupsi’. Mulai dari pejabat, PNS, mahasiswa, ibu-ibu, sampai anak-anak mengucapkan kata itu. Sayangnya tidak banyak yang memahami arti korupsi yang hakiki.” Ungkap Wuryono Prakoso, salah seorang fungsional pendidikan dan pelayanan masyarakat KPK. Hal ini tentu sangat disayangkan oleh pihak KPK.
Saat ini, kualitas Tindakan Pidana Korupsi (TPK) semakin sistematis dan sudah merasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat. Semakin lama semakin parah, sehingga membawa bencana terhadap kehidupan perekonomian nasional, serta moral masyarakat pada umumnya. Untuk menanggulangi kasus korupsi yang semakin menjadi-jadi, maka dibentuklah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

“KPK merupakan sebuah badan independen di bawah presiden yang bertanggung kepada masyarakat luas.” Ujar Yoyo, panggilan akrab fungsionaris KPK itu.

Mencuatnya kasus-kasus korupsi besar beberapa waktu terakhir memang spontan mengangkat nama KPK di mata masyarakat. Sebut saja kasus korupsi Bank Century yang selalu setia menghiasi headline baik di layar kaca maupun di media cetak.

“Sebenarnya, banyak kasus yang kami tangani. Namun hanya sedikit saja yang terkover oleh media” cetusnya. Menurut Yoyo, media memang memilah-milah dalam reportase. Karena, mayoritas kasus korupsi yang punya nilai berita adalah kasus-kasus yang menimpa orang-orang terkenal di negeri ini, mulai dari pejabat sampai artis. “pokoknya yang bikin sensasi lah.” Imbuhnya.

Yudi Purnomo, fungsional pendidikan dan pelayanan masyarakat yang lain, mengaku sependapat dengan Yoyo. Yudi kemudian menjelaskan tentang rasio kasus korupsi dengan fungionaris KPK. “KPK terdiri dari 13 fungsionaris inti yang benar-benar sudah teruji. Sedikit memang, tapi kuantitas itu tidak akan mengurangi kinerja kami.” Ungkapnya.

Yudi menambahkan, rata-rata satu kasus bisa memakan waktu tiga sampai enam bulan sejak fase penyelidikan. “Jika penanganan satu kasus terhitung enam bulan, maka dalam setahun KPK mampu memberantas minimal 26 koruptor .”

“Kenapa cuma segitu ? bukankah banyak kasus korupsi yang perlu ditangani di negeri ini !.” banyak mahasiswa bertanya demikian. Yudi pun menjelaskan lebih lanjut, kasus yang ditangani KPK adalah kasus-kasus korupsi besar dengan criteria yang cukup kompleks mengingat Indonesia masuk dalam daftar 10 besar negara terkorup di dunia.

Syarat-syarat kasus yang bisa langsung ditangani KPK minimal menyangkut dana 1 Miliar. Dana itu bisa berhubungan dengan masyarakat ataupun pemerintah. Kasus tersebut akan diutamakan apabila cukup meresahkan masyarakat luas. Dan akan lebih diprioritaskan lagi kalau menyangkut orang-orang penting di negeri ini. Kasus Bank Century misalnya.

Adapun proses penyelidikan yang pertama adalah mencari target. Data-data tersebut bisa diperoleh dari masyarakat, LSM, perusahaan, dan lain-lain. Beberapa kasus juga timbul dari inisiatif dan kecurigaan fungsionaris KPK terhadap target. Selain itu, ada juga penyelidikan kasus atas permintaan hakim pengadilan. “kategori yang terakhir ini biasanya berlaku untuk kasus berantai. Misal si A korupsi melibatkan B, si B melibatkan C, dan begitu seterusnya.” Ungkap Yudi.

Kedepannya, KPK akan lebih memaksimalkan kinerjanya. “Awal Januari saja sudah tertangkap dua koruptor lagi.” Jelas Yudi. Menanggapi beberapa pertanyaan kasus Bank Century yang melibatkan korupsi dana lebih dari 6,7 Triliun, Yudi mengeluarkan beberapa pernyataan. “Saat ini, kami masih dalam tahap penyelidikan dan mencari barang bukti. Beberapa hasil masih belum bisa dipublikasi terkait masalah bukti. Selain itu, kami juga harus berhati-hati terhadap praduga tak bersalah, karena sangat berbahaya. Oleh sebab itu, kami sangat berharap dukungan dan kepercayaan penuh dari masyarakat”


Setelah diskusi singkat itu berakhir, dua fungsional KPK tersebut sempat memberi pesan kepada rombongan SC BEM ITS. “Untuk mengubah moral bangsa memang sulit, tapi bukan berarti mustahil. Minimal kita mulai dari hal-hal kecil di sekitar kita. Apalagi kalian adalah calon-calon eksekutif muda di masa depan. Tongkat estafet ini nanti juga akan kalian pegang.”


Catatan:
  1. Artikel-artikel di atas adalah kumpulan artikel yang saya tulis di website resmi ITS (www.its.ac.id)
  2. Posisi saya adalah sebagai jurnalis website kampus sekaligus salah satu delegasi Study Comparative BEM ITS Jakarta-Bandung 2010 sebagai perwakilan dari Divisi Media dan Informasi, saat itu saya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi pada tahun ke-2 kuliah
  3. Jadi, sambil menikmati sharing dan menimba ilmu bersama teman-teman BEM ITS, saya juga melaksanakan pekerjaan, laporan berita online untuk website sekaligus publikasi kegiatan BEM ITS :D