Internship Life: Dari Wartawan sampai Start-up di Scotland

The Expert in anything was once a beginner

Pepatah lama mengatakan; setiap orang yang ahli di suatu bidang pasti pernah menjadi pemula. Karena seribu langkah tidak akan pernah tercapai kalau langkah pertama tidak pernah ditapaki bukan? Begitu pula dalam kehidupan kerja, ada yang namanya internship. Menurut Career centre dari The University of Glasgow (ciye sudah resmi jadi alumni), rukun internship adalah:
  • Sebuah pengalaman kerja terstruktur yang berhubungan dengan mata kuliah seorang pelajar (mahasiswa) dan/atau tujuan karir di masa depan
  • Sebuah pengalaman yang akan meningkatkan tingkat akademik, karir, dan pengembangan personal seorang mahasiswa atau fresh graduate
  • Internship disupervisori oleh seorang profesional di lapangan
  • Mempunyai durasi yang bervariasi, bisa jadi dalam hitungan bulan, bahkan tahun. Mayoritas dilaksanakan selama liburan masa perkuliahan (libur semester, libur musim panas, musim semi, musim gugur, dll.
  • Ada yang di bayar maupun sukarela
  • Ada yang bersifat part-time maupun full-time
  • Sebuah pengalaman yang disepakati bersama oleh seorang pelajar, supervisor, dan/atau dari pihak akademik terkait.
Selama usia seperempat abad lebih sedikit, saya pribadi sudah mencoba empat kali internship program yang terdiri dari dua pengalaman di instansi pemerintah, satu kali dalam karir profesional, dan sekali di start-up asing.

Radar Surabaya, Jawa Pos Group (Jun-Jul 2009)

Kehidupan internship saya diawali dengan menjadi seorang jurnalis di salah satu surat kabar paling bergengsi nasional. Awal dari semua kisah yang entah dimulai dari mana itu ketika saya mendaftar sebagai staf ITS Media Centre (dulu bernama UPT Media, Informasi, dan Komunikasi), sebuah Unit Pelaksana Teknis (UPT) di kampus saya sebelumnya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Saya bergabung menjadi penulis konten website www.its.ac.id dan majalah ITS Point sejak semester kuliah, Desember 2008 (Buset, sudah satu dasawarsa saja). Untuk meningkatkan skill para jurnalis baru, pimpinan kami mewajibkan kami untuk melakukan magang di kantor surat kabar Surabaya. FYI, selama kuliah 4 tahun (plus satu semester bonus), saya juga mengambil kerja paruh waktu sebagai jurnalis untuk memenuhi kebutuhan perut dan material desain yang tidak murah. Huft, masih ingat sekali harga pulpen Rapido untuk gambar teknik mencapai setengah juta, belum lagi cat poster dan kebutuhan lainnya yang membuat saya sering cakar-cakar tanah sebagai pemuda yang sudah tidak pernah minta dukungan finansial orang tua sejak masuk SMA. Bersama tiga sahabat terbaik saya kala itu, Junaidi (Jun), Tika We (Taw), dan Nur Huda (Hoe), masa-masa internship tahun pertama kuliah sangat menyenangkan. Terimakasih ITS Online! Sebagai penulis muda dan berkesempatan internship di surat kabar bergengsi, tiga pembelajaran utama saya kala itu adalah:
  1. Menjadi wartawan itu berarti kamu harus tahu banyak hal, walau hanya di permukaan. Kala itu, saya memang bertugas menulis artikel berita di koran tentang isu pendidikan, khususnya di universitas yang ada di Surabaya. Terkadang, saya harus mengikuti kuliah umum dari enjiner terkemuka dunia sekelas Habibie sampai menghadiri jamuan pertemuan rektor dengan beberapa kementerian nasional, seperti kementerian Riset, Kementerian Lingkungan Hidup, sampai Kementerian Industri. Saya harus membaca banyak hal supaya mengetahui isu lokal sampai global sehingga selalu siap dalam setiap artikel penugasan! Terimakasih, sudah melatih saya untuk suka membaca, berdiskusi, dan menuliskan isi pikiran dalam artikel.
  2. Menjadi wartawan harus selalu siap bertugas kapan saja, di mana saja! Tidak jarang saya mendapat tugas meliput kegiatan di akhir pekan, atau mendapat panggilan untuk membuat laporan artikel di kala perkuliahan sedang berlangsung. That’s Okay! Saya sadar bisa jadi hal itu sangat melelahkan dan merepotkan awalnya, namun sangat berguna dalam meningkatkan kemampuan manajerial saya sekarang. Yang paling seru, ketika saya memilih untuk meliput kegiatan-kegiatan kesukaan saya, seperti seminar pendidikan dan pameran seni budaya! Hobi dan kerjaan dapat berjalan harmoni.
  3. Ternyata kemampuan menulis itu sangat berguna dan dibutuhkan dalam setiap bidang. Sebagai mahasiswa Desain, kala itu, tentu tugas-tugas saya lebih banyak berkubang dalam corat-coret cat dan portfolio desain. sangat minim dalam bermain kata. Benarkah demikian? Nyatanya, kemampuan menulis, berfikir kritis, dan menyampaikan dalam presentasi dapat menjadi poin tambahan untuk mahasiswa desain seperti saya. bahkan kemampuan ini sangat bermanfaat dalam pengerjaan beberapa proyek pribadi. Misal pembuatan e-magazine. Mulai dari konseptor, penulis, editor, sampai desainernya dapat saya kerjakan sendiri karena sudah mempunyai skill set tersebut.

Dinas Koperasi, Industri, dan Perdagangan (Kopindag) Kabupaten Lamongan (Jun-Jul 2011)

Pengalaman internship kedua saya adalah menjadi staf Dinas Kopindag Lamongan sebagai syarat untuk mengambil 2 SKS mata kuliah Kerja Praktik pada tahun ketiga saya sebagai Mahasiswa Desain Produk Industri ITS. What? Dinas Pemerintahan? Apakah saya sedang mabuk? Apakah saya tidak salah ambil tempat magang? Well, sebagai mahasiswa desain produk, pada umumnya akan mengambil magang di tempat-tempat pengembangan produk nasional sampai global yang cukup bergengsi untuk mengasah kemampuan mereka. Misalnya, perusahan otomotif sekelas Wim Cycle, Toyota, Yamaha dan Honda, perusahan elektronik seperti Samsung, Nokia, Sony dll, perusahaan furniture seperti IKEA, atau perusahan lainnya yang berhubungan dengan pengembangan produk. 

Well, saya tidak mabuk kok teman-teman. Saya memilih Dinas Kopindag Kabupaten Lamongan dengan penuh kesadaran dan berbagai macam pertimbangan. Setidaknya, ada beberapa motif kala itu yang membuat saya tergerak bermagang ria di pemda.
  1. Saya selalu tertarik dengan lika-liku isu sosial politik khususnya dunia pemerintahan, walaupun saya bukan mahasiswa Ilmu Politik dan Sosial Humaniora lho! Saya selalu berfikir bahwa pemerintah merupakan salah satu aktor kunci dalam membuat kebijakan yang mana kebijakan itu dapat bermanfaat bagi masyarakat, atau sebaliknya, sebagai musibah!
  2. Saya selalu tertarik dengan isu Industri Kreatif dan pengembangannya untuk Ekonomi Kreatif nasional. Hey ho! Saya sadar selalu tertarik dengan hal itu tanpa tahu pemicu jelasnya, alias mengandalkan insting saja. Syukurlah, tidak lama setelah itu, kementerian Pariwisata dan Industri Kreatif dibentuk dalam Kabinet Gotong Royong Jilid II, Bapak Yudhoyono. Puncaknya, pemerintah membentuk Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) pada tahun 2015 sebagai bentuk perhatian prioritas pada Kabinet Kerja, Bapak Jokowi.
  3. Lamongan! YEAY, kalian tidak salah baca. Lamongan, sebuah kabupaten kecil di Jawa Timur yang berbatasan langsung dengan Pantai Utara Jawa dan beberapa kabupaten tetangga seperti Gresik, Tuban, Bojonegoro, Jombang, dan Mojokerto. Pemilihan itu sesimpel Lamongan kota kelahiran saya. Cukup receh bukan?
Saya menganggap ketertarikan saya di dunia kebijakan pemerintahan dan industri kreatif akan lebih bermanfaat apabila diaplikasikan di tempat yang potensial seperti Lamongan. Selain itu, kedekatan emosi yang membuat saya ingin melakukan eksplorasi dan eksperimentasi di dalamnya membuat semangat ini tetep menyala sampai sekarang lho! Ada beberapa pembelajaran menarik selama saya magang di tepat tersebut:
  1. Opini masyarakat tentang kinerja Aparatur Sipil Negara (ASN) yang mengatakan banyak hal negatif seperti malas-malasan kerja, pulang dan datang seenaknya, kerja hanya sesuai arahan saja dll, tidak sepenuhnya benar! Hal ini berarti, tidak sepenuhnya salah juga LOL. Saya menganggap, hal itu sepenuhnya adalah kembali kepada kualitas induvidu masing-masing. Saya mengenal ada senior jenius di sana, bahkan mendapat beasiswa pengembangan diri sampai PhD di Jepang. Kebetulan, supervisor saya orang woles, dan hanya menyuruh saya untuk hal-hal remeh temeh semacam fotokopi dan mengantar kopi sebagaimana “magang” yang sering orang ceritakan. Ya nasib! HAHAHA
  2. Jika nasi telah menjadi bubur, yuk sekalian membuat bubur ayam spesial! Tentu saya tidak menyerah dengan keadaan lho! Walaupun supervisor saya “hanya” melaksanakan tugasnya sebagai pengawas kegiatan “magang”, untungnya saya punya daya inisiatif tinggi (ih sombong). Buktinya, saya mengajukan beberapa projek penelitian untuk mengembangkan Usaha Kecil Menengah (UKM) dengan melakukan riset dan pembaruan data UKM di desa-desa tertentu serta menganalisa peluang pengembangan usaha dengan memenuhi kebutuhan. Well, hasilnya saya dapat memberi laporan rekomendasi pelatihan apa saja yang harus dilakukan serta trik pendampingan usaha. Alhamdulillah, supervisorku open minded! Tuh kan, pokoknya ga boleh nyerah dengan keadaan.
  3. Saya merupakan satu-satunya mahasiswa desain yang mengambil Kerja Praktik di bidang pemerintahan dengan fokus utama pengembangan UKM daerah. Hmmm, cukup aneh sih, ketika teman-teman kuliah saya mengumpulkan laporan dan portofolio desain yang bersisi gambar-gambar pengembangan produk yang mereka hasilkan selama magang, saya malah mengumpulkan laporan analisa kebutuhan dan pengembangan UKM daerah bersama pemerintah. Ya, ini bukan pertama kalinya kok saya memilih sesuatu yang “berbeda”. 

Salaambnb (Jan-Mar 2017)

Apakah kamu pernah mendengar bisnis Airbnb? Ya, Salaambnb itu ibarat Airbnb versi syar’i lah ya, kurang lebih seperti itu. Salaambnb itu sebuah start-up penyediaan jasa akomodasi global yang menyesuaikan kebutuhan dan budget traveller, khususnya memastikan akomodasi itu sesuai dengan syari’ah Islam. Misalnya, tempatnya bersih dari najis dan hadats, tempat ibadah, menyediakan atau dekat dengan makanan halal dll. Alhamdulillah, selama saya kuliah S2 di Skotlandia, saya dapat menyempatkan waktu magang di start-up global selama tiga bulan kontrak, walaupun tidak sampai selesai karena ada halangan. Setidaknya, saya belajar beberapa hal selama menjadi Brand Executive Intern di sana, diantaranya:
  1. Start-up di Britania Raya selalu berpikir terbuka, dan cenderung berpikir hal yang lebih besar. Termasuk dalam melihat permasalahan, peluang ke depan, sampai target pasar. Maksudnya, bisnis rintisan ini tidak hanya melihat masalah kecil dalam ruang lingkup lokal, tapi mengglobal. Misalnya, Salaambnb ini menargetkan pasarnya adalah para muslim traveler secara khusus, walaupun secara umum semua traveler dapat menjadi pelanggan. Muslim traveler dunia, tidak hanya di United Kingdom maupun Uni Eropa saja. Mereka menganalisa dan membuka peluang di beberapa negara di oseania, Asia, Australia, serta Amerika.
  2. Spesifikasi dan Diferensiasi adalah koentji! Kita semua tahu betapa suksesnya Airbnb dalam menyediakan akomodasi global di berbagai belahan dunia. Sayangnya, hal itu belum mengakomodir kebutuhan seorang muslim secara kaffah! Masih banyak keluhan-keluhan dengan dunia persyar’ian dari traveler muslim, misal kamar yang tak ada (bau) minuman beralkohol, tempat masak yang bebas dari babi, makanan halal, dan tersedianya tempat berwudhu dan beribadah. Hal ini sederhana tapi mengena. Hey dude, jumlah muslim di dunia itu besar lho! Mangsa pasar yang potensial!
  3. Profesionalitas. Well, Salaambnb adalah sebuah bisnis. Walaupun semua hal berhubungan dengan hukum Islam dalam penyediaan layanan, apakah pelaku usahanya harus sepenuhnya muslim? FYI, dalam keseharian selama magang, saya berkordinasi dengan supervisor saya di Glasgow Mr Yusaf, seorang Glaswegian tulen yang mualaf beberapa tahun lalu, serta rekan saya Asley, seorang programmer non-muslim di London. Tentu, tim lainnya ada juga yang bukan Islam. Inilah pembelajaran terbesar saya, KOLABORASI! Ketika melihat sebuah peluang bagus untuk kemaslahatan ummat (dan bisnis), Bagaimana kalian menempatkan ideologi partner bisnis? Haruskah semuanya seragam sebagai seorang muslim? Ataukah prioritas utamanya adalah profesionalitas? Silahkan teman-teman pikirkan jawabannya sendiri.

Kantor Staf Presiden (Nop 2017-Mar 2018)


Apakah kamu pernah membayangkan kalau penulis yang notabenenya anak kampung terbelakang yang merasa sangat beruntung hanya dengan dapat mengenyam pendidikan masternya sampai UK dengan beasiswa penuh sejak SD, akhirnya menjadi anak istana kepresidenan? Yup, saya sendiri juga terkadang masih tidak percaya dengan semua drama kehidupan yang naik turun tak terkira. Namun kembali lagi kepada keyakinan, Kun Fayakun! Apapun akan terjadi jika Tuhan menghendaki, itu mah perkara receh bagi sang Pencipta! Long story short, sepulang saya belajar dari tanah Celtic, kurang dari sebulan saya mendapat kesempatan menjadi seorang Public Policy Specialist dalam inisiatif pemerintah, Satu Data Indonesia, di bawah Deputi 1 Kantor Staf Presiden (KSP). Sebagai seorang analis kebijakan pemerintah untuk aplikasi Satu Data menuju Good Governance Indonesia yang terbuka, tentu banyak drama ya! Insyaallah nanti saya share dalam artikel yang berbeda. Selama sekitar 5 bulan di Jakarta, tiga pelajaran yang saya dapatkan:
  1. Harapan menjadikan Indonesia yang lebih baik dan bermartabat itu masih ada! Sulit? Tentu saja. Tapi tidak mustahil negeri ini berevolusi menjadi negara terbuka khususnya dalam bidang pemerintahan. Saya melihat banyak sekali profesional muda dan para ahli di bidangnya bekerja keras untuk mewujudkan mimpi "Indonesia lebih baik” tersebut. Alhamdulillah, bekerja di KSP semakin membuka mata bahwa orang-orang ahli di bidangnya masih sangat dibutuhkan untuk membuat transformasi birokrasi. 
  2. Apa yang anda fikirkan ketika mendengar istilah Satu Data atau Data Terbuka? Well, mengintegrasikan data nasional supaya transparan sehingga dapat dimanfaatkan oleh pemerintah sebagai evidence based policy dan masyarakat umum dengan optimal itu tidak mudah. Karena pada faktanya, sebuah sistem pemerintah ketika mendengar kata “Data Terbuka” ibarat ancaman lho! Bisa jadi, ancaman datanya akan di salah gunakan, atau bahkan, takut ketahuan dengan segala kebohongan dan tindak korupsi selama ini? Who knows! Yang pasti, good governance Indonesia memunya tantangan nyata di depan mata.
  3. Konsep Kota Kreatif! Alhamdulillah, saya menemukan kembali passion di bidang pengembangan kota kreatif khususnya setelah menjadi asisten program menuju 100 Smart City Indonesia 2019. Banyak sekali insight dan pembelajaran yang di dapat selama melakukan assasement nominasi kota cerdas Indonesia dari berbagai Indonesia. Semoga tidak lama akan saya angkat menjadi topik proposal tesis saya ke depan. Amin! (spoiler alert! Good Luck menuju PhDnya)

Apa yang Kamu Dapat dari Internship?

Salah satu tema bahasan yang selalu hangat diperbincangkan dalam pencari lowongan kerja entry level yang masih minim pengalaman adalah: “Di mana saya akan mendapat pengalaman kerja jika tidak ada satu perusahaan yang ingin menerima saya bekerja?”. Ini seperti pertanyaan, duluan mana antara telur dan ayam? Logikanya, Seorang fresh graduate tidak diterima kerja yang bagus karena minim pengalaman, sedangkan ia minim pengalaman karena memang belum di terima bekerja kan? Jawabannya satu, INTERNSHIP!

Sebuah program internship yang bagus menawarkan sebuah kesempatan untuk belajar banyak hal bagi para pemagangnya, langsung di bawah supervisor yang mengawasinya dengan penuh tanggung jawab. Internship juga melengkapi persiapan akademik dalam berbagai pengalaman seperti bekerja di perusahaan, pengembangan masyarakat, pengalaman menjadi asisten peneliti, partisipasi dalam berbagai organisasi kepemudaan dan pemerintah, menjadi memper organisasi profesional, dan masih banyak lagi. Tentu, tawaran-tawaran yang saya sebutkan berikut adalah imbalan non-materi yang pasti di dapatkan, karena tidak semua program magang itu dibayar. Berikut hal yang dapat kalian bawa pulang dari program magang menurut Busines Insider UK 2015

Memantapkan kemampuan

Satu hal yang paling penting dalam program internship adalah mmembawa pengetahuan baru. Belajar skill baru atau mengembangkan skill yang sudah ada, itu pilihan. Tentunya, apa pun pilihan kita sebaiknya relevan dengan jalur karir yang kita inginkan. Kita dapat menghabiskan waktu yang lebih bermanfaat dengan menajamkan pisau pengetahuan dan mengasah kemampuan kita. Misalnya, sebagai mahasiswa Desain, tentu kita sudah terbiasa dalam mengerjakan tugas desain. Namun, menghadapi klien di dunia nyata itu adalah dia hal yang berbeda. Dibutuhkan pengalaman. 

Resume lebih berkilau

Poin ini agak sedikit oportunis, tapi memang begitulah adanya. Satu hal yang menarik dari program internship adalah kita dapat menyunting CV terbaru yang lebih lengkap dan menarik. Jangan hanya menyertakan posisi, nama perusahaan, serta deskripsi pekerjaan kita, namun juga garis bawahi (kalau perlu dikasih stabilo) kontribusi kita dalam perusahaan tersebut sebagai nilai tambah. Karena hal itulah yang kebanyakan akan ditanyakan manajer masa depan yang akan menerimamu bekerja. Mereka tidak terlalu memperhatikan nama besar sebuah fancy company. Mereka ingin tahu projek apa saja yang sudah kita lakukan, bagaimana kita menyelesaikan tugas dan tanggung jawab, dampak positif apa yang sudah kita torehkan, dan masalah apa yang sudah kita selesaikan.

Rekomendasi

Jika kita sudah mengerjakan pekerjaan yang luang biasa bagus dan sesuai dengan permintaan manajer,  kita tidak akan kesulitan untuk mendapatkan surat rekomendasi untuk pekerjaan di masa depan. Pastikan bertanya kepada bos kita dengan sopan dan meminta rekomendasi kepada mereka apabila suatu saat diperlukan. Jangan pernah berasumsi kalau mereka bakal memberi referensi tanpa kita tanyakan dahulu lho! Itu tidak sopan, dan mereka juga belum tentu mau LOL. Apabila waktunya sudah tiba, hubungi kembali mereka dan mintalah permisi untuk memberikan rekomendasi.

PS:  Jagalah hubungan yang baik dengan orang-orang tersebut, khususnya manajer atau supervisormu. Jangan hanya menggunakan mereka sebagai referensi saja. Pastikan mereka menjadi bagian dari koneksi masa depan, syukur-syukur kalau mereka mau menjadi mentor karirmu lho!

Koneksi baru

Sebagai tambahan yang berhubungan dengan poin sebelumnya, pastikan orang yang menjadi referensimu itu menjadi koneksi baru. Namun perlu diingat, koneksi baru itu luas, tidak hanya manajer maupun supervisor lho! Pekerja senior, bahkan rekan pemagang pun bisa menjadi koneksi strategis di masa depan. Orang-orang tersebut dapat memberi masukan dan panduan untuk membantumu mendapatkan pekerjaan impian. Kamu bisa tetap berinteraksi dengan mereka, namun itu semua pilihan. Yang pasti, masukkan mereka dalam circle koneksi strategis karirmu, serta tawarkan bantuan kepada mereka kapan pun kalau bisa. Oia, jangan lupa berterimakasih secara formal kepada orang-orang tersebut ketika masa internshipmu selesai ya!

Membangun Sense Profesionalisme

Bekerja di lingkungan perkantoran (atau apa saja dalam berbagai aturan profesional terkait) terkadang sedikit susah untuk beradaptasi. Apalagi kalau masih mahasiswa maupun fresh graduate, tentu butuh waktu dan proses. Nah, Internship bisa jadi sarana kita beradaptasi dengan dunia kerja lho. Setelah melakukan program magang, kita pasti punya pengalaman dan ide yang lebih bagus tentang bagaimana menjaga prilaku profesionalisme kerja sampai bagaimana ikutan bermain dalam dunia perpolitikan kantor hihihi. Yes! Politik kantor, kamu tidak salah baca! Jadi, persiapkan diri sebaik mungkin supaya kamu mampu berkolaborasi secara profesional dan mampu menelurkan kontribusi nyata.

Lebih faham dalam kiblat berkarir

Salah satu tujuan utama internship adalah sebuah kesempatan icip-icip karir sehingga kita tahu, ketertarikan karir seperti apa yang kita inginkan di masa depan. Setelah icip program, setidaknya kita faham, apakah bidang tersebut benar-benar bidang yang kita inginkan sehingga akan kita perjuangkan untuk memperolehnya di masa depan? Atau sebaliknya, ternyata bidang tersebut bukanlah kemauan kita yang sebenarnya. Please note, realizing it’s not really the appropiate job for us is not as terrible as it seems! Pikir ulang, akan lebih baik kita menyadarinya di awal daripada terlambat menyadari ketika kita sudah benar-benar berkubang dalam karir tersebut. Dunia belum berakhir lho! Masih banyak bidang karir yang patut untuk dieksplorasi untuk menemukan passion kita. Tapi tetap ya, kita harus intropeksi diri dan merefleksikannya. Coba tanya kepada diri sendiri: Mengapa kita tidak menikmati karir tersebut? Apa saja faktor yang membuat ketidaknyamanan tersebut? Apakah ada sesuatu yang dapat saya ubah supaya menjadi sesuatu yang berbeda? Jadikanlah hasil refleksi tersebut sebagai informasi tambahan untuk menyusun rencanamu ke depan!

Portofolio

Oia, FYI, di samping penggalangan pengetahuan dan keterampilan baru, program magang juga dapat dijadikan portfolio kerja lho! Kita pasti melakukan projek  atau hasil luaran selama program: bisa jadi presentasi yang kita buat, artikel yang kita tulis, konsep yang kita gagas, hasil desain grafis yang kita kembangkan, dll. Banyak lho jenis portfolio! 

PS: usahakan kita punya kopi fisik atau digital dari hasil kerja kita sebagai bukti portfolio kerja kita untuk orang yang potensial memberikan pekerjaan kita di masa depan. Portfolio dapat berupa website, contohnya, sebuah platform yang ideal di era digital.

Feedback

Salah satu hal terbaik dalam proses belajar adalah meminta umpan balik dari orang-orang yang pernah bekerja sama dengan kita. Ingat, jangan defensif! Selalu bersifat terbuka dari umpan balik yang diberikan. Apabila kita mendengarkan kritik membangun dengan hati yang paling dalam, kita akan menjadi orang yang lebih baik di masa depan. Itulah gunanya feedback improvement! Dan satu lagi, apabila ada umpan balik yang bersifat positif, hal itu dapat kita jadikan sebagai atribut untuk menjual diri kita sebagai kandidat kuat dalam pekerjaan kita berikutnya.

Wah! Tidak terasa, sudah menulis lebih dari 3000 karakter. Artikel ini sudah setara dengan esai tugas kuliah saya! Hahahaha. Sudah dulu deh untuk sharing edisi Internship life. Semoga memberikan manfaat ya buat pembaca. Bagi kalian yang sudah melaksanakan beberapa kali program internship, boleh banget lho memberikan pemikiran dan berbagi pengalaman di kolom komentar. Terimakasih