Membangun Desa, Membangun Indonesia

Apakah yang ada di pikiran kalau mendengar kata “desa”?
“katrok” kah? “ndeso”? atau hal-hal rendahan lain semacam “low education”? atau “incompetent”?
Semoga kata-kata negatif itu terhindar jauh dari benak kita ya! Karena pada hakikatnya, Desa, atau dalam ilmu antropologi disebut sebagai “rural”, merupakan wilayah yang mempunyai kegiatan utama berupa pertanian, termasuk pengelolaan sumber daya alam dengan susunan fungsi kawasan sebagai pemukiman yang meliputi berbagai aktivitas seperti pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi.

Tahukah kamu tentang Undang-Undang Desa No.6 tahun 2014?
Yup, sebuah UU Desa yang mendukung pembangunan daerah dengan pengadaan APBD 1 desa 1M. Tentu, ini adalah bentuk dukungan nyata dari pemerintah untuk memajukan area rural sebagai tempat produksi pertanian dan pengelolaan sumber daya alam lainnya. Pertanyaan berikutnya, apakah dana desa tersebut mampu terserap dengan optimal? Apakah dana desa itu mampu dioptimalkan dengan program-program yang berkelanjutan? Bagaimana peran pemuda dalam pengawasan bantuan dana desa tersebut? 

Nah, untuk menjawab itu semua, maka kita harus tahu lebih dalam tentang makna desa itu sendiri lho. Termasuk potensi dan tantangan untuk memajukan desa untuk kebangkitan perekonomian bangsa ke depan. Salah satu artikel dari Mochammad Badowi tentang Outlook Ekonomi Desa 2016-2020 diulas dengan analisa sangat menarik yang berporos pada pengelolaan human capital dan natural capital. Dalam bedahannya, Badowi menggunakan pisau bedah pendekatan Ansoff (1987) tentang teori Strenght, Weakness, Opportunity, Challenges (SWOC).

Dilihat dari variabel human capital, Kekuatan desa terletak dari ketersediaan modal manusia yang low cost dan pekerja keras. Tentu hal ini sangat menguntungkan untuk meningkatkan efisiensi. Namun, kelemahan dari SDM ini adalah (mayoritas) uneducated yang dapat memakan training cost serta ketidak efektifan. Dari kekuatan dan kelemahan tersebut, SDM desa mempunya peluang untuk dimanfaatkan dengan membuat basis usaha bersifat manufaktur dan padat karya. Oleh sebab itu, tantangan utamanya adalah bagaimana meningkatkan kemampuan dan keterampilan masyarakat serta membentuk kerjasama sehingga dapat membentuk manufaktur yang efektif.

Analisa dari sisi Natural Capital juga menunjukkan bahwa kekuatan utama SDA desa adalah memunyai berbagai macam jenis barang baku produksi yang harganya relatif murah. Hal ini karena faktor kedekatan geografis tentunya. Namu, unsur geografis ini juga dapat menjadi kelemahan. Karena jauh dari pusat perkotaan sehingga harga transportasi meningkat. Oleh sebab itu, SDA desa berpeluang untuk menciptakan produk baru dengan kualitas yang bagus, serta membangun industri kreatif dengan kearifan lokal. Sedangkan tantangan terbesarnya adalah bagaimana membentuk industri kreatif itu supaya efektif serta pemasaran yang efisien.

Dengan mempertimbangan SWOC di atas, penulis menyimpulkan peningkatan perekonomian desa dapat dicapai dengan pembentukan usaha yang bersifat manufaktur dan ekonomi kreatif. Hal yang perlu dipertimbangkan lainnya adalah, manudaktur memunyai cakupan market yang luas, serta cost leadership yang relatif tinggi. Berbeda dengan ekonomi kreatif, cakupan pasarnya khusus, namun tantangan utamanya terletak pada diferensiasi. Menarik bukan, Outlook desa 2016-2020?

Nah, Buku Membangun Desa Membangun Indonesia ini juga menampilkan 18 Chapter pembahasan tentang ide bangun desa yang digagas Pustaka Saga melalui Diskusi Online Indonesia ini merupakan buku wajib bagi pemuda yang memunyai passion di bidang sosiopreneur, perkembangan desa, kepemudaan, serta gerakan. Ide-ide segar berupa pandangan baru dari berbagai macam latar belakang, diantaranya:
  1. Outlook Ekonomi Desa oleh  Moh Badowi (Ekonom Muda)
  2. UU Desa : Baca, Pahami & Gerak! oleh  Zulfahmi Wahab (Tenaga Ahli Kemensos RI)
  3. Strategi Pengembangan Ketrampilan Pemuda Desa oleh  Reza Zaki (Founder Rumah Imperium)
  4. Membangun Ketokohan Pemuda di Masyarakat oleh Yudha Permana Putra (Founder UMKM Sugih Bareng Bojonegoro)
  5. Menumbuhkan Wirausaha Kreatif Pemuda Desa oleh Hanif Azhar (Master of Creative Economy University of Glasgow)
  6. Desa Sehat Indonesia Kuat oleh M.D Arifi (Perencana Kesehatan Masyarakat di BAPPENAS)
  7. Membangun Jejaring Desa dengan Stakeholder oleh Musafa Ahmad (Sosmas KAMMI JATIM)
  8. Membangun Desa dengan Pengembangan Sektor Pertanian oleh Nur Agis Aulia (Founder Banten Bangun Desa)
  9. Pendidikan Politik Untuk Desa yang Demokratis oleh Robi Setyanegara (Pengamat Politik)
  10. Mengaplikasikan Keprofesian dalam Gerakan Bangun Desa oleh Ichwan Rosyidi (CEO Pantura Feed)
  11. Strategi Membangun Basis Gerakan di Desa oleh Suharyono (Direktur Desa Wisata Atas Angin Bojonegoro)
  12. Optimalisasi Zakat untuk Pembangunan Desa oleh Amin Sudarsono (Sekretaris Eksekutif Forum Zakat Nasional)
  13. Pentingnya Akses Internet untuk Kemajuan Desa oleh Muhammad Musa (Direktur CV Lumbung Usaha)
  14. Demokrasi Desa Demokrasi Asli Indonesia oleh Gading E.A (Redaktur Pustaka SAGA)
  15. Mendekatkan Mahasiswa dengan Desa oleh Yuliyanto Agung Prabowo (Ketua KAMMI JATIM)
  16. Saatnya Gerakan Mahasiswa Turun ke Desa oleh Kartika Nur Rakhman (Ketua Umum PP KAMMI)
  17. Optimalisasi Peran Pariwisata Desa oleh Nilzam Aly (Dosen Pariwisata UNAIR)
  18. Desa pun Harus Profesional oleh Ristianto Putro (Wakil Sekretaris HIPMI Jatim)
Karya ini dipersembahkan untuk desa kita tercinta, dan untuk anda yang peduli dan beraksi untuk membangun desa kita! Harga: Rp 50.000,- (belum termasuk ongkos kirim)
Pemesanan : Ketik Bangun Desa_Nama_Jumlah Buku yang dipesan_Alamat Pengiriman_No HP
Via SMS/WA ke 085645159628 (Jilul)
Website: www.pustakasaga.id
PUSTAKA SAGA, Menggelorakan Semangat Intelektual!