Kehidupan Pasca Pengabdian di Pedalaman

Mau ngapain sepulang jadi PM?
Apakah lebih mudah diterima seleksi beasiswa?
Apakah ada jaminan diterima kerja?
Mau berkarya di ranah profesional, NGO, Pemerintah?
Bagi para pengajar Muda maupun beberapa program relawan serupa yang mengharuskan para relawannya untuk absen selama beberapa waktu di tempat yang sulit terjangkau, tentu ada sebuah pertanyaan besar ketika kelar penugasan, MAU APA KALAU SUDAH PULANG? Tema ini akan selalu hangat karena dalam lingkaran pertemanan saya, Indonesia Mengajar, akan ada dua kali gelombang kepulangan para Pengajar Muda setiap tahun. Begitu pun untuk kepulangan Indonesia Mengajar batch XIV, Mei 2018. Nah, kali ini saya berkesempatan untuk bercerita kepada para pemuda terbaik bangsa ini, mau ngapain pasca penugasan?

Gambar di atas adalah kelompok saya dari Pengajar Muda penempatan Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan Batch VIII tahun pengabdian 2014-2015. Itu artinya, kami sudah pulang dari penempatan tepat tiga tahun lalu. Wah, sudah lama juga ya! Dari enam orang tersebut, empat di antaranya melanjutkan studi masternya dengan tiga orang mendapat beasiswa pajak pemerintah, LPDP. Sedangkan satu orang melanjutkan pekerjaan yang sempat tertinggal, dan seorang lainnya melanjutkan mimpi berpetualang ke benua seberang. Saya sendiri termasuk penerima beasiswa studi ke luar negeri pasca penugasan. Nah, supaya lebih mudah dalam ajang sharing kali ini, saya bagi menjadi tiga penjelasan.


Saya pribadi sudah membuat rencana saya sebelum mendaftar menjadi pengajar muda, sampai mau ngapain sepulang penugasan. Roadmap saya adalah ingin berkarya di ranah pemerintah ataupun riset akademisi, dan melanjutkan studi ke luar negeri dulu sebelum ke arah situ. Nah, saya tak dapat mengarahkan setiap relawan mau ngapain. Saya hanya mencoba melemparkan pertanyaan refleksi supaya mereka kembali ke career path yang mereka impikan sejak awal. Kebanyakan pasca penempatan, pikiran PM isinya kegiatan sosial mulu, pengen gabung di NGO mulu. Well, itu bukan hal yang salah juga sih, tapi ada baiknya direnungkan lagi, apakah dunia NGO benar-benar ranah yang kita inginkan? Bukankah ladang kontribusi itu sangat luas?
Tahun pertama saya dipenuhi dengan semangat belajar dan berjuang. Tiga bulan pasca penempatan, saya memutuskan untuk belajar Bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare, Kediri, tepatnya di tempat kursus TEST English International School. Dulu rencananya sih ingin fokus belajar tiga bulan kemudian langsung mengambil tes IELTS sebagai salah satu persyaratan mutlak beasiswa dan pendaftaran kampus. Nyatanya? belum penuh tiga bulan saya dicium nyamuk wqwqwq. Akhirnya rencana itu kandas sampai akhir tahun.

Semangat itu muncul lagi di tahun 2016. Saya membuat Quick win 6 bulan road to UK. Bisa dilihat pada phase 3, saya benar-benar berusaha keras untuk survive memburu nilai IELTS, Letter of Acceptence (LoA) beberapa kampus impian, dan memenuhi berbagai persyaratan beasiswa. Oia, saya juga mengikuti program mentorship Education USA selama dua bulan dengan intensitas pertemuan sekali seminggu. Hvft, what a life! Pertempuran berlajut di phase 4, Akhirnya saya mendaftar beasiswa LPDP dan melakukan prosesnya selama beberapa bulan. Hal yang paling menantang adalah, saya mengerjakannya bersamaan menjadi tim training intensif Pengajar Muda XII. Sungguh, kala itu berasa menjadi zombie yang sebenar-benarnya zombie. Tidur hanya 3-4 jam sehari dalam beberapa bulan.
Nah, Tahun kedua pasca penugasan adalah masa-masa panen dari kerja keras tahun pertama. Alhamdulillah, saya mendapatkan beasiswa LPDP untuk mengambil studi master di University of Glasgow, United Kingdom. Menariknya, Allah selalu memberi kemudahan dalam setiap prosesnya, termasuk keberangkatan. Idealnya, disyaratkan untuk menunggu selama satu semester (bahkan sekarang peraturan baru minimal masa tunggu adalah setahun). Namun saya mendapat beasiswa bulan Juni, kemudia Juli awal saya sudah mengikuti PK (sebuah program pra-keberangkatan awardee LPDP) sehingga saya sudah dapat terbang ke Inggris bulan Agustus. What a life!

Setelah belajar dari UK, berangkat Agustus 2016 dan pulang Oktober 2017, saya mendapat kesempatan mencicipi pekerjaan sebagai public policy specialist di Satu Data Indonesia, Kantor Staf Presiden. Sungguh tak terduga ya! Hahahaha