PK dan Terorisme


Hei, apakah kamu penggemar film-film Bollywood yang dibintangi oleh Aamir Khan? Kalau saya sih iya! Setelah sukses dengan “All izz well”nya di film Three Idiots, PK merupakan film lain Aamir Khan yang wajib ditonton. Film yang dirilis 3 tahun lalu ini bercerita tentang alien yang ingin belajar tentang kehidupan makhluk bumi. Karena remote kontrol pemanggil pesawat UFOnya dicuri manusia, si alien kesulitan untuk pulang dan kisah pencarian barang bertuah dimulai. Bagi saya pribadi, ada dua hal paling menarik. Pertama, si alien digambarkan seperti mahkluk biasa, walaupun punya kecerdasan yang berbeda. Misalnya cara komunikasi, transfer informasi dan pengetahuan melalui pegangan tangan yang layaknya kabel USB. Sisi menariknya, dia tak digambarkan sebagai makhluk aneh berkepala lonjong, mata oval lebar, telinga panjang, seperti di fim ET, atau makhluk dengan kekuatan superpower seperti Superman maupun Drama Korea yang lagi hits, My Love from Another Star dengan aliennya yang mampu hidup ratusan tahun tanpa mengalami penuaan. Iya, seperti manusia biasa pada umumnya.

Hal menarik kedua adalah kisah pencarian remot kontrol itu sendiri yang membuat para penonton berefleksi tentang “salah sambung” kepercayaannya selama ini. Proses blusukan ini diwarnai dengan rasa ingin tahu PK yang besar dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan dari sudut padang yang berbeda dari manusia (ya iya, dia alien). Sehingga, dialog-dialog lucu penuh faedah akan sukses mengocok perut dan memutar otak besar kita. Misalnya, ketika PK menemukan kondom yang terjatuh dari saku pegawai, ia mengembalikannya namun tak seorangpun mau mengaku kalau itu barang miliknya. Pertanyaan lucu, “Jika manusia malu untuk melakukan hubungan seks, mengapa manusia merayakan pernikahan dengan kembang api dan pesta megah serta memberi tahu seluruh isi kota bahwa malam ini mereka akan melakukan hubungan seks?”. Menarique!

Nah, pembaca pasti bertanya, lalu apa hubungannya film PK dengan teroris dan bom bunuh diri? Refleksi “salah sambung”lah yang menjadi jembatan di film garapan Rajhkumar tersebut. Misalnya, Pendeta hindu Tapaska yang tidak menyukai umat Muslim dan menebarkan fitnah bahwa semua muslim itu munafik. Sehingga membuat ayah Jaggu, wanita Hindu sekaligus reporter TV (pemeran protagonis), tidak menyetujui hubungannya dengan Syarafaz, pemuda muslim asal Pakistan yang ia temui ketika studi di Belgia. Bahkan, sang pendeta meramalkan Syarafaz akan meninggalkan Jaggu pada hari Jumat (dalam film, bertepatan dengan hari pertunangan mereka). Karena salah paham, akhirnya pernikahan batal dan mereka tak bertemu di Gereja (Well, saya ga paham dan ga berani berkomentar kasus seorang pemuda muslim dan wanita Hindu akan menikah di tempat ibadah umat Katolik). di akhir cerita, kesalahpahaman itu dapat diselesaikan dan si pendeta diketahui sebagi penebar kebencian tersebut.

Selain itu, beberapa kisah minor dari pelaku teroris bom bunuh diri juga diperlihatkan ketika Sanjai Duth (berperan sebagai kakak-kakakan si PK) akan ke Delhi membawa pencuri remot kontrol sebagai saksi PK dalam dialog bersama Tapaska dalam memperebutkan remot kontrol yang diakui pendeta tersebut diperolehnya dari Dewa Vishnu di bukit Himalaya. Anehnya, dialog tersebut menjelaskan kalau bom terorisnya adalah muslim yang sedang jihad. Hei, dari mana mereka tahu kalau pengebomnya adalah Muslim? kalaupun di KTP pengebom benar-benar Islam, apakah yakin dia beneran penganut Islam dan menjalankan perintah agamanya? Adakah perintah jigah ngebom untuk saling menumpahkan darah dll dalam Islam maupun agama lainnya? Sungguh sebuah deduksi yang prematur. Satu lagi, kok bisa ya aksi teroris itu bertepatan dengan kunjungan kakaknya PK dan meledak di stasiun Delhi? Padahal, saat itu saya menyaksikan wajah si pendeta cukup mencurigakan seolah-olah dialah dalang dibalik semuanya untuk menghilangkan bukti “salah sambung”nya yang akan terbongkan di seluruh umatnya?
Well, poin yang mau saya sampaikan adalah:
  1. Teroris itu personal disorder, bukan ajaran agama. Kalaupun ada teroris mengatasnamakan agama, yuk dianalisa ulang, benarkah agama tersebut mengajarkan saling menumpahkan darah antar penghuni bumi? Adakah ajaran agama yang memperbolehkan umatnya bunuh diri? Kalau kita tidak dapat menyayangi orang lain karena perbedaan agama, bisakah setidaknya kita menyayangi mereka atas dasar “sesama manusia” yang sama-sama diciptakan oleh sang pencipta? Sebagai muslim, yuk pelajari lagi hakikat basmalah (Allah maha pengasih penyayang) serta Surat Al-Kafirun (Bagimu agamu, bagiku agamaku).
  2. Pangkal dari kasus teroris itu “salah sambung”. Maksudnya, salah sambung ketika seorang manusia menuhankan egonya untuk memeperoleh sesuatu yang diinginkannya, ia akan menghalalkan segala cara. Kasus teror itu tentang kemanusiaan. apabila ada ikut andil urusan agama dan lainnya, itu hanyalah tameng untuk menutupi kasus “salah sambung” pelaku, baik disadari atau tidak.
  3. Isu agama masih menjadi isu paling sensitif di dunia. Coba kita hitung, berapa banyak kasus-kasus “salah sambung” yang mengatasnamakan agama di dunia ini? di dunia lho ya, bukan hanya di Indoensia. film PK itu hanyalah deskripsi sosial budaya masyarakat India yang mayoritas Hindu dan Islam sebagai minoritas. Dari dulu kasus pertikaian dua kelompok masyarakat (yang tersulut karena isu agama) ini tak kunjung selesai. Bahkan, perebutan tanah Kashmir pun menjadi perang antara Muslim Pakistan dan Hindu India sampai sekarang. Apakah kamu melihat persamaannya dengan Indonesia? bedanya, di negara kita kebalikannya. Islam sebagai mayoritas. Kemudian segala aksi teror bom kebanyakan di tempat ibadah umat Kristen. Masih belum mencium aroma konspirasi juga? Hvft!
Ini adalah ketiga kalinya saya memutar film PK. Pertama, awal tahun 2016 ketika otak saya meledak belajar bahasa Inggris di Pare kemudia nonton bareng teman-teman grup belajar ma ndiri. Salah satu teman alumni Al-Azhar Kairo menawarkan film ini, katanya bakal sukses meredam bom. Dan yeah, benar adanya! kali kedua, saya tonton tahun lalu ketika saya masih studi di Britania Raya. Kala itu, ada beberapa teror bom di London yang menyudutkan umat Islam. Film ini masih berhasil meredamkan ledakan di otak saya. ketika, Dua hari ini terjadi peristiwa bom bunuh diri oleh para teroris di berbagai tempat dan khususnya beberapa gereja Surabaya. Minggu (13/5) pagi sekitar pukul 07.30 WIB bom pertama meledak di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Surabaya. Selang sekitar lima menit kemudian bom kedua meledak di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno dan tidak lama kemudian bom meledak di gereja GKI di jalan Diponegoro. Total korban jiwa (masih) 18 orang dengan 41 terluka parah. Bom selanjutnya diledakkan di Rusunawa Sidoarjo. Hari ini, Senin (14/5) pukul 08.30 pagi pun bom meledak lagi di polrestabes Surabaya. Apakah besok akan terjadi bom bunuh diri lagi? Sadis! 5 tahun saya tinggal di Kota Pahlawan sejak 2008 aman-aman saja! Ingat ya para teroris, Suroboyo Ga Wedi!

“Idiologi itu ibarat sikat gigi. Setiap manusia punya dan melakukan aktivitas tersebut setiap hari. Namun, apakah kamu mau memakai sikat gigi orang lain untuk membersihkan gigimu? Yuk, kita rajin gosok gigi dan hindari menyabotase sikat gigi orang lain”