Ramadan di Talang

Tidak terasa ya, sudah tiga tahun berlalu sejak saya pulang dari penempatan Indonesia Mengajar. Itu berarti, Tepat empat tahun lalu, saya menginjakkan kaki pertama kali di Talang Airguci, Ds Sugihan, Kec Rambang, Muara Enim. Mungkin selama ini saya sering menceritakan betapa menantangnya perjuangan menjadi seorang relawan yang ingin meningkatkan social awareness di bidang pendidikan. Namun, pernahkah kamu berpikir bahwa ternyata tinggal di hutan juga sebuah tantangan untuk hidup harmonis dan berdampingan dengan semua makhluk ciptaan-Nya? Tidak hanya manusia, namun juga hewan, tumbuhan, alam, dan para penghuni “tak kasat mata” lainnya. Nah, sampai di sini, kalau kamu tak suka cerita horor, silahkan ditutup halaman ini ya!

***
(siang hari)
“Wah, talangmu ramai banget ya sampai sudah terdengar suara keramaian penduduknya dari sini.”
“Ngawur kamu, talang penempatanku masih jauh keleus, masih belasan kilo masuk kebon karet dan hutan. Kita kan baru beberapa kilo cabut dari dusun induk”.
“Oia? Maaf aku lupa kalau tidak semua orang dapat merasakannya,”
Seketika itu hening, obrolanku bersama PM pendahuluku yang mengantar ke penempatan. Dia membuka obrolan pertama dengan cerita supranatural. Sungguh keheningan yang haqiqi.

(Sore hari)
anak-anak sudah berkumpul di depan rumah gadang khas Sumatera tempatku tinggal untuk setahun ke depan. Mereka mengajak mandi berjamaah di sungai berjarak kurang dari sekilo. Sebagai seorang yang baru, kucoba ramah dan ingin mengenal warga. Selesai mandi, sepertinya ada yang ganjil. Kubertanya pada seorang anak kelas 3 SD.
“Edo, anak yang rambutnya cepak dan lebih pendek dari kamu tadi mana? Kok ga ada?”
“Budak mane Pak? Ndak kinakan.” (Anak yang mana Pak? Kok tidak kelihatan)
Aku coba bertanya lebih spesifik, “Tadi yang mengantar Bapak mandi ada 10 orang kan? Kok sekarang tinggal 9?”
“Dekde Pak. La cuma sembilan uhang” (tidak ada Pak, dari tadi cuma sembilan orang).
Hening. BRB ngajak mereka balik.

(malam hari)
*dok dok dok* *dok dok dok*
Tiba-tiba ada suara ketukan dinding kayu rumah di tengah malam. Kulihat Ponsel tak bersinyalku yg sudah beralih fungsi menjadi senter dan alarm, “Ah, ternyata masih jam 12 malam”. Tak kuhiraukanlah suara iseng itu dan kulanjutkan tidur.
Tak lama kemudian, suara berganti menjadi garukan tangan di dinding. Kolaborasi kuku bertemu permukaan kayu menghasilkan paduan suara yang super menjengkelkan “Krrrrrrkkkk krrrkkkkkk”. Akhirnya kubangun, dan kulihat sudah jam 3 pagi. Pas banget waktunya makan sahur.
Pada hari-hari berikutnya, suara ketukan pintu dan garukan dinding masih sering terdengar. Aku bersyukur, ada alarm alami untuk sholat malam. Terimakasih untuk siapapun itu yang suka membangunkan tengah malam di hutan untuk beribadah dan bermuhasabah.

***
“Zero expectation” merupakan modal utama ketika kita memutuskan ingin menjadi relawan Pengajar Muda. Ramadan pertama di hutan yang penuh kejutan tidak hanya kaget dibangunkan oleh suara garukan kuku misterius dan “anak pendiam” yang tiba-tiba menghilang. Saya juga dikagetkan dengan atmosfir talang yang hening, tak ada suara azan, tak ada jamaah sholat fardu (apalagi tarawih), tak ada bunyi tadarus Al-Quran, tak ada suara anak membangunkan sahur. Saya masih penasaran ada apa gerangan karena menurut data seluruh warganya Muslim.

Saya ingin sekali merasakan atmosfir itu. Akhirnya saya mengajak anak-anak membersihkan musola kecil tak terawat yang sering dipakai para bujang untuk nongkrong begadang. Terdapat banyak lubang di genting dan puntung rokok. Toilet juga sangat bau dan selalu saja terdapat oknum yang memakai tanpa menyiram setelahnya. Ketika yang lain menyapu dan mengepel lantai, saya membersihkan toilet dibantu Rahdit, siswa SD kelas 3. Saya bagian bersih-bersih di dalam, ia membantu mengambil air dan memeras kain kotor. Kami tak berinteraksi, hanya tangan mungilnya yang keluar masuk lewat pintu toilet.

Setelah selesai membersihkan, saya berterimakasih dan meminta mereka datang terawih nanti malam. Tapi saya tidak melihat sosok Rahdit di kumpulan itu. Saya tanya temannya, ia menjawab “Rahdit tadi pagi diajak umaknya ke pasar dan belum pulang Pak”. Seketika itu saya menghela nafas lagi dalam-dalam.

Malam harinya, ternyata yang datang terawih bisa dihitung jari. Hanya ketiga saudara angkat dan dua rekan guruku. Kami berbagi peran. Ada yang jadi muadzin dan khatib, saya kebagian imam. Peran itu kami rolling setiap hari. Ketika selesai membaca Al-fatiha, ternyata terdengar suara “Amin” bergemuruh dari makmum di belakang saya. Padahal saya yakin makmumnya hanya 5 orang. Saya tak tahu apakah yg lain mendengar apa tidak. Namun Kejadian ini ternyata berulang pada hari-hari berikutnya.
Terimakasih untuk “tangan mungil” yang membantu membersihkan musola dan para “makmum tak kasat mata”. Kalian telah meramaikan atmosfir Ramadan di talang selama saya di penempatan.

***
Setelah memulai sholat terawih berjamaah, sedikit demi sedikit jumlah peserta bertambah. Tak mau melewatkan hal tersebut, segera saya follow up Relawan Peduli Pendidikan Palembang (RPP) yang berencana mengadakan pesantren kilat selama 3hari 2malam di talang.

Suatu sore, saya ijin ke orang tua angkat untuk pergi ke dusun membeli kebutuhan sekaligus koordinasi dg RPP. Maklum, ponsel saya ga jadi smart kalau di talang. Sebenarnya, orang tua memaksa diantarkan saudara angkat dg motor ninjanya. Karena masih baru, jaim saya ga ketulungan. Saya ga mau merepotkan dia yg bermain volly. Saya ke dusun berjarak belasan kilo melalui jalan tanah sempit dengan motor butut peninggalan PM sebelum saya, yang sejujurnya, motor itu sudah tak layak pakai hahaha.

Ketika pulang, tiba-tiba motornya mogok di tengah hutan. Waktu itu sudah jam 5 sore, menjelang maghrib. Ponsel tak bersinyal, tak bisa hubungi hostfam. Di tengah hutan, tiba-tiba muncul sesosok pemuda nyamperin saya. Menurut legenda lokal, tempat itu termasuk hutan terlarang. Apabila ada orang yang masuk, maka tak bisa keluar. Kalau mengambil kayu, bakal kena bala, Apabila ada yg mengambil ikan di suangainya, besoknya ia meninggal. Logika saya sih mitos itu bertujuan supaya tak ada penebangan pohon liar dan hutan tetap terjaga, who knows? Kembali ke cerita pemuda tadi, wajahnya asing, tapi ia mengaku warga talang yang mau pulang, jadi sekalian menemani saya jalan sambil mendorong motor butut saya. Sekali ada warga talang lewat naik motor dari dusun menawari untuk menarik motor mogok. Saya tolak dengan baik karena saya merasa sudah ditemani pemuda tadi, jadi tidak merepotkan orang banyak.

Setelah hampir sejam berjalan, akhirnya kami sampai di sungai batas masuk talang. Saya mengucapkan terimakasih kpd pemuda tersebut, kemudian dia berjalan berbalik arah. “Bukannya dia warga talang? Mau kemana dia?” Gumam saya dalam hati. Ketika saya tengok, ternyata dia sudah menghilang, entah kemana. Ah sudahlah, yang penting saya sudah sampai dg selamat pas waktunya berbuka puasa. Terimakasih wahai pemuda misterius

***
Alhamdulillah, 30 hari sudah menjalankan ibadah bulan suci di tanah Serasan Sekundang. Sedih, senang bercampur seperti adonan. Kupakai baju koko putihku dan bergegas ke musola talang untuk melaksanakan ibadah sholat Idul Fitri bersama warga. “Bapak pilih mana, jadi khatib atau imam sholat, atau keduanya?” Seorang warga senior bertanya. Hvft, benar-benar tak terprediksi, padahal saya sengaja datang agak siang, tapi ternyata mereka masih menungguku. Salah seorang warga memberiku kitab tua berisi kumpulan khutbah sambil tersenyum, kemudian kembali ke kerumunan. Pertama kalinya menjadi khatib hari raya tanpa persiapan, tak ada kata yg dapat mengekspresikannya Haha.

Kulihat warga yg datang sangat banyak. Hitungan kasar saya, mungkin hampir mencapai tiga kali dari jumlah keseluruhan warga talang. Hampir 60% wajah baru. Saya pikir itu wajar, soalnya di kampung halaman saya Lamongan, ketika lebaran hari raya, para perantau mudik sejenak sampai jumlahnya membludak dua kali lipat. Mereka sampai menggelar tikar di pelataran musola. Mereka semua tampak cerah, bahagia, dengan pakaian serba putih dan senyum lebar penuh kehangatan. Saya bahagia, mereka antuasias menyambut khutbah dadakanku. Ketika pelaksanaa shalat Ied, bunyi “Amin” setelah imam membaca Al-Fatihah sangat ramai. Hal itu bukan lagi hal yang horor seperti malam terawih sebelumnya yang ramai oleh makmum tak kasat mata.

Sepulang pelaksanaan Sholat Idul Fitri, saya bertanya kepada seorang warga dengan polosnya, “Banyak sekali ya warga yg datang sampai menggelar tikar di luar”
“Bapak ngacau ah. Musola kan cukup menampung jumlah warga, mana mungkin sampai gelar tikar di luar”
Saya terdiam. “Lalu, siapa tadi puluhan wajah baru yang meramaikan solat kemenangan?” gumam saya dalam hati.
Sungguh, 1435 H adalah salah satu Ramadan terbaik bagi saya. Terimakasih buat yang sudah menghibur saya meramaikan bulan suci di penempatan.
Anak kecil pengantar mandi di sungai
Suara garukan dinding sebagai alarm alami qiyamul lail
Tangan mungil yang membantu membersihkan musola
Gemuruh “Amin”an makmum tak kasat mata
Pemuda misterius pengantar saya dari desa
serta jamaah sholat idul fitri yang tak tak diketahui identitasnya.