Lebaran dan Selebrasi Hari “Kapan Kawin?” Nasional

Kapan Kawin?
Selain maaf-maafan, apa yang identik dengan tema lebaran? HARI KEPO NASIONAL! Benar sekali! Hari Kepo Nasional adalah hari-hari yang dihalalkan untuk mencari tahu informasi (alias kepo) urusan pribadi setiap orang. Pertanyaan-pertanyaan standar meliputi kapan lulus? (bagi yang masih kuliah), kapan kawin? (bagi yang masih jomblo), kapan punya anak? (bagi pasangan suami-istri yang belum diamanahi momongan), kapan kakaknya dibuatkan adik? (bagi pasangan beranak satu), sampai KAPAN MATI? Eh tapi, memang itulah budaya masyarakat kita, nggak lega kalau tidak menanyakan hal-hal bersifat pribadi. Subyeknya pun bermacam-macam lho! Mulai dari sanak keluarga, tetangga, teman, driver ojek online, sampai orang yang baru kita kenal di kereta yang kebetulan duduk di sebelah kita tak akan segan bertanya alamat rumah, pekerjaan, anak ke berapa, sampai informasi terdetai keluarga kita. Terkadang, antara basa-basi, peduli, dan kepo itu beda tipis ya! Welcome to Indonesia, tempat orang-orang yang sangat ramah dan suka mengumbar informasi pribadi, serta tidak risih saling bertanya mulai dari kapan lahir sampai kapan mati. Hahaha.

Alhamdulillah wa inalillah, akhirnya kita sampai pada pengujung Bulan Ramadan. Bagi saya pribadi, 1439 Hijriyah alias 2018 Masehi adalah Ramadan yang istimewa karena saya (dengan sengaja) ingin beribadah penuh di kampung halaman tercinta, Desa Brangsi, Lamongan, setelah hampir beberapa tahun terakhir tak dapat jatah berbuka puasa di rumah. Nah, karena sebulan ini saya full di rumah, sampai lebaran juga, jadi saya sudah kebal dengan pertanyaan “KAPAN NIKAH?”. Kalau boleh saya sebutkan, sebayak 139 petuah pernikahan saya dengarkan dari anggota keluarga sampai guru SD di kampung. Beberapa pertanyaan kepo yang saya dapatkan, berikut daftar lima teratas untuk tahun ini:
“Kapan kawin?”
“Kok gendutan?”
“Kok iteman?”
“kapan sekolah lagi?”
“Kapan mudik? kapan balik?”

Kapan Kawin?

Doakan saja ya! Insyaallah besok hari Ahad. tanggal, bulan, dan tahunnya menyusul karena belum ditentukan. Calonnya juga masih belum ketemu. FYI, daripada kalian nanya kapan saya kawin, saya lebih suka ditawari “Bro, kalo ente nikah, saya siap membantu bikin undangan, GRATIS!” atau “Bro, nanti kalau menikah di gedung X saja, biar ane urus semua”, atau yang lebih urgent, “Bro, nih ane kenalin ama cewek yang kriteriamu banget lah.”

Kok gendutan?

menjadi lebih berisi dan perut agak sedikit maju ke depan adalah salah satu tanda kemakmuran, alias kesuksesan materi, setidaknya itu yang saya tangkap dari interaksi di kampung. Untuk pertanyaan satu ini, tidak perlu dijawab. Cukup disenyumin saja. Namun hal itu beda arti bagi perempuan lho! Kok gendutan, artinya KOK KAMU JELEKAN? Hahahaha. Suka main fisik memang tetangga saya.

Kok Iteman?

Saya bingung dengan pertanyaan satu ini. Kalau ditanya kok iteman, apakah itu berarti saya pernah lebih putih? Sepanjang ingatan saya, kulit saya dari dulu begini-begini aja. Namun ada teman yang sempat berkata, “Bro tahun lalu pas ente pulang dari UK putih banget lho, tapi pas pulang dari ibadah haji gosong banget! Sekarang sih sudah mendingan. Ga seitem pas pulang dari Saudi, namun juga tak seputih pulang Skotlandia,”. Well yeah, tak dapat dipungkiri masyarakat Indonesia mendifinisikan keindahan fisik itu identik dengan kulit putih. Sehingga tak heran iklan kecantikan pemutih kulit tak ada habisnya berseliweran di berbagai media. Kalau ditanya kok iteman, itu artinya KAMU TAMBAH JELEK! hal ini berlaku baik untuk pria maupun wanita. 

Kapan berangkat sekolah lagi?

Hmmm, om-tante mbas-mbak kakak-adik tercinta, saya baru menyelesaikan studi saya Bulan November 2017. Artinya, saya baru sedikit bernafas lega dan terbebas dari jeratan jurnal internasional beberapa bulan. Saya paham, imej saya di kampung itu “nerd” banget lah. Seorang pemuda desa pecinta sekolah sampai lupa status jomblonya. Tapi yang gitu-gitu juga kali! Mau lanjut studi doktoral itu butuh persiapan yang sangat matang guys! Mbok kiro nyiapno proposal penelitian disertasi iku gampang? Mbok kiro nggolek sponsor beasiswa sekolah iku ga angel ta? Mosok lagek istirahat diluk ae wes diuber-uber dikongkon sekolah mane. Ck Ck Ck.

Kapan Mudik? Kapan Balik?

Bagi saya, pertanyaan terakhir ini adalah pertanyaan sangat tidak penting dan super annoying! Apa urusan mereka nanya-nanya kapan saya pulang sampai harus balik lagi ke parantauan? FYI Tahun 2017 kemarin saya masih menempuh studi di Britania Raya, tahun 2016 masih menyelesaikan kerjaan dan persiapan studi serta keperluan beasiswa, 2014 & 2015 masih bertugas di Indonesia Mengajar. Masih tega kah kalian mengusir “Bang Toyib” dengan pertanyaan sindiran “kapan balik?”. Bingung saya, lha wong saya pulang juga ke rumah saya, makan juga bersama keluarga, mengapa orang lain ikut campur!

Well, sebenarnya saya malas komentar hal tersebut, apalagi di sosial media. Karena hal ini tak ada faedahnya, hanya menimbulkan debat kusir tanpa ujung. Bagi saya pribadi, ini saya mengingatkan diri sendiri lho ya!, setidaknya ada beberapa lapis layer yang harus saya tembus sebelum bertanya macam-macam kepada orang. Kita ambil contoh; KAPAN KAWIN? Apakah saya akan mempertenyakan hal itu ke orang lain? Apabila pertanyaan itu lolos dari saringan berikut, maka halal bagi saya menanyakannya. Berikut contoh layer refleksi kapan kawin menurut logika saya:

Apakah Pertanyaan itu Baik?

Ini adalah layer pertama, tentang baik-buruk sebuah pertanyaan. Memang, hal tersebut tergantung dari perspektif masing-masing individu. IMHO, ukuran penggaris saya ikut Islam. baik di sini lebih ke arah niat dan tujuan penanya. Selama lebaran saya ditanya tidak kurang dari 139 orang “kapan nikah?” yang terdiri dari 85% hanya sekedar basa-basi, 15% kepo maksimal tanpa aksi, dan hanya 5% yang benar-benar menunjukkan kepedulian. So, dalam kasus saya, hanya 5% lah penanya yang bertanya hal yang baik. Satu pertanyaan bisa jadi baik atau buruk tergantung niat individu. Ada sebuah hadits riwayat Muslim mengatakan bahwa Rasulullah pernah bersabda barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka berkatalah yang baik, atau diam. Well, kalau tidak dapat menanyakan hal baik, lebih baik tutup mulut aja ya guys!
“Barang siapa beriman kepada Allah SWT dan hari akhir, maka berkatalah yang baik, atau diam” (HR Muslim)

Apakah Kamu Yakin Pertanyaan itu Baik?

Apabila ada hitam dan putih, tentu ada pula abu-abu. Dalam kasus pertanyaan “kapan nikah?” saya misalnya, 5% berniat baik, 80% hanya basa-basi. Tentu, 80% ini lebih baik diam. Lalu bagaimana dengan 15% kepo yang tak tahu arah pertanyaan mereka, apakah baik atau buruk? Dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi, Rasulullah pernah bersabda bahwa ia menyeru kepada umatnya untuk meninggalkan sesuatu yang meragukan. Kalau kita merujuk kepada hadits tersebut, saya dapat mengatakan sebaiknya 15% orang tersebut juga ikut diam seperti 80% lainnya.
“Tinggalkanlah sesuatu yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukan (HR Tirmidzi)

Apakah Hal itu Bermanfaat?

Nah, layer ketiga adalah bagi 5% penanya yang punya niatan baik dan benar-benar yakin kalau pertanyaan itu baik. Layer ini merupakan refleksi mendalam, apakah pertanyaan itu dapat membawa manfaat baik bagi penanya maupun orang yang ditanya? Apabila memang memberi dampak positif kepada semua stakeholders, silahkan ditanyakan. Namun apabila dirasa tidak bermanfaat, atau jatuhnya malah jadi basa-basi doang, lebih baik tinggalkan ya guys!
“Merupakan tanda baiknya Islam seseorang, dia meninggalkan sesuatu yang tidak berguna” (HR Tirmidzi)

Apakah Doi Merasa Nyaman?

Ini adalah layer terakhir, tentang kenyamanan. Ada sebuah hadits riwayat Muslim mengatakan bahwa salah satu ciri muslim yang baik adalah mereka yang mampu menjaga tangan dan lisannya. Maksudnya, ia membuat rasa aman bagi orang-orang di sekitarnya. Dalam kaitan pertanyaan “kapan nikah?” ini, layer terakhir bagi 5% orang tersebut adalah kenyamanan bagi obyek yang ditanya. Jangan sampai deh, Naudzubillah, orang lain merasa tidak nyaman ke kita karena ketajaman lisan kita nanyain hal-hal personal semacam kapan nikah. 
“Seorang muslim adalah orang yang muslim lainnya merasa aman dari gangguan tangan dan lidahnya (HR Muslim)

Kesimpulannya adalah, sebelum menanyakan hal-hal personal, mari kita berfikir dulu ya guys! Apakah pertanyaan itu baik bagi kita semua? Apakah pertanyaan itu dapat memberi dampak positif? dan Apakah yang ditanya juga merasa nyaman. Jangan sampai ke-kepo-an kita membuat saudara kita tidak nyaman dengan keberadaan kita ya! Kalau bagi saya pribadi, apabila kamu bukan keluarga inti maupun sahabat yang sangat dekat, jangan pernah sekali kali menanyakan hal personal semacam “Kapan Nikah?”.  Bukan berarti saya ga mau kawin lho! Sebagai manusia normal yang juga punya dorongan nafsu untuk berkembang biak, tentu saya juga memerlukan partner untuk beranak pinak. Saya masih manusia, bukan amoeba! Hahaha. Dan kalau boleh ngasih saran, lebih baik pertanyaan-pertanyaan personal ga penting seperti itu diganti dengan pertanyaan yang lebih berfaedah. Misalnya tentang karya dan aktivitas selama ini, rencana ke depan, dan lain-lain. Dan mumpung sudah memasuki bulan Syawal, Mohon maaf lahir batin ya guys! 
Taqobbalallahu Minna Wa Minkum, Taqobbal ya Kariim