Mental Inlander

gue part time student, full time traveller!

Di sana public transportnya bagus bagus banget! Ga kayak di sini…
Puasa 12 jam sih sudah ga terasa, dulu gue puasa lebih dari 19 jam
Kalau di sana harga daging, susu, keju murah. Rokok mahal. Kalau di Indonesia malah kebalik.
Duh orang Indonesia ini ya, Ga bisa antri. Kalau di UK ga gini nih…
Aduh, kangen ngerasain winter di Scotland
Wah, jadi kangen belanja di Primark
Cobain sekali makanya jadi muslim minoritas
Kalau di sana birokrasinya udah bagus. Ga kaya di sini, bertele-tele dan lama.
Balik ke Indonesia ngapain? Gak dihargai di sana. Mending di sini aja!
Guys, pernah ga sih denger keluhan-keluhan atau ucapan dari anak-anak Indonesia lulusan kuliah di luar negeri seperti  di atas? Lagi happening banget tuh, beberapa hari kemarin serbuan dari hater para awardee LPDP luar negeri di twitter dengan hashtag #ShitLPDPAwardeeSay yang digawangi oleh @pervertauditor. Cuitan itu pun disambut hangat oleh netizen dan akhirnya ramailah dunia pertwitteran bertema #ShitLPDPAwardeeSay seperti beberapa screenshot yang sempet viral di bawah ini. Sungguh, maha benar netizen dengan segala cuitannya.
Iseng-iseng, saya ikutan ngeshare kehebohan isu ini di kedua sosial media tercinta saya, facebook dan instagram. Ternyata, tanggapan unik dan menggelitik dari lingkaran pertemanan saya juga tidak kalah heboh dan bikin ngakaks. Apalagi, circle pertemanan saya lebih dari 60% didominasi oleh teman-teman prestatif yang sempat merasakan kehidupan di luar negeri, bahkan melanjutkan kuliah di negara-negara maju tersebut. Otomatis, komentar mereka pun jadi cukup reflektif, walaupun sebagian malah balik nyinyir, HAHA. satu komentar yang sukses membuat ngabuburit puasa syawal saya ceria adalah komentarnya si Nindya ,”Giliran medok, komene ngene: “kamu udah tinggal di luar negeri kok masih aja medok” Batinku, yo opo urip salah terus.” HAHAHA.
Sebagai bagian dari keluarga besar awardee LPDP, saya senang dengan berbagai macam feedback development (yang mayoritas bernada sarkasm dan nyinyir). Saya akui, memang ada, dan pasti ada, oknum-oknum lulusan kampus-kampus dunia yang secara sengaja maupun tidak, perkataannya membuat bekas luka yang tak kunjung sembuh seperti keluhan-keluhan di atas. Pertanyaannya adalah, apakah adil jika karena nila setitik rusak semua air di belangga? Apakah nyinyiran oknum itu dapat menjeneralisir kalau semua alumni lulusan kampus negara-negara maju seragam? Atau jangan-jangan, tempat nongkrong kita aja yang kurang lebar? Banyak banget lho lulusan-lulusan luar negeri, khususnya awardee LPDP yang saya kenal, stay humble ketika balik ke Indonesia. Kalau menurut mbak Tika We, sebenarnya perkataan-perkataan itu hanyalah sebuah romatisme masa kuliah di luar negeri yang ditangkap berbeda sama orang lain. Dia memberikan contoh, sebagai alumnus kampus teknik di Surabaya, ketika misuh-misuh seperti “janc*k” di kantor Jakarta, apakah bermaksud pamer kalau dia lulusan Surabaya? atau, ketika ada yang bilang “Kangen belanja di Primark” apakah itu pamer lulusan UK? FYI aja ya, Primark, Poundland, Saver dll merupakan toko murah harga grosir untuk masyarakat kelas bawah di UK lho, apa yang mau dibanggakan? Apakah itu pamer? Nggak, itu hanya romantisme belaka! HAHAHA. (Duh, saya jadi kangen belanja mingguan di Poundland, beli cookies £10 saja dapat 10 kotak besar! Haha)

Menurut sentilan Iqbal Aji Daryono di kolom Detik.com berjudul “Tentang Para Alumni Luar Negeri yang Genit-genit Itu”, mental inlander para oknum lulusan luar negeri itu setidaknya disebabkan dua hal. Pertama, Sikap rendah diri sebagai manusia poskolonial. Kebanyakan mahasiswa, katanya, yang berangkat studi ke luar negeri masih berbekal rasa minder khas warga dunia ketiga; yaitu menuntut ilmu sebanyak-banyaknya ke negara-negara maju daripada negara asal. Ketika sampai di sana, mereka terngangah-ngangah (ya Allah ini bahasa apa) melihat betapa maju dan futuristiknya negara tersebut. Pokoknya semuanya berasa keren! setiap sudut kota instagrammable! jepret sana, jepret sini, upload sana-sini. Terimakasih kepada bekal minder tersebut, akhirnya segala macam referensi dari luar negeri itu dijadikan acuan untuk semua masalah di Indonesia. seolah-olah, referensi dari negara maju merupakan kebenaran yang haqiqi. Sebenarnya, hal ini di dipicu oleh sebab kedua, yaitu minimnya daya berpikir kritis untuk memahami sesuatu dilihat dari konteks sosial dan historisnya. Jakarta tidak dapat dibandingkan dengan Tokyo, New York, maupun London. Hal itu bukanlah perbandingan apple to apple, tapi apple to mango (yes! I like mango) Karena semua negara punya nilai historis dan kebudayaan yang berbeda. (Simak perbandingan itu di link berikut).

Refleksi seorang Awardee

Sejujurnya, sentilan-sentilan di atas itu membuat saya banyak berfikir. Apakah saya merupakan salah satu “lulusan luar negeri bermental inlander”? Apakah saya masih suka mengeluhkan masyarakat “pribumi” yang seringkali tidak tahu bagaimana cara mengantri di depan kasir atau di toilet umum? Apakah saya masih sering mengumpat kepada “mental pribumi” yang suka membuang sampah sembarangan dan meludah di mana saja? Apakah saya hanya bagian “lulusan luar negeri bermental inlander” yang bisanya cuma mengeluhkan keadaan tanpa membuat perubahan? Apa yang dapat saya lakukan untuk mengedukasi masyarakat, khususnya keluarga dan warga desa saya, untuk membudayakan antri, buang sampah di tempatnya, dan tak meludah sembarangan, dengan cara yang halus dan tak terkesan menggurui? Naudzubillah ya Allah, jauhkan saya dari hal-hal tak berfaedah ya Allah. Ringnkan tangan dan kaki hamba untuk berkarya, tak sekedar nyengir seperti quda. Pertanyaan-pertanyaan tersebut mnggiring saya pada tiga teori pencari ilmu, yaitu efek Dunning-Kruger, fase seorang pencari ilmu Umar bin Khattab RA, serta tipe pengais pengetahuan Imam Syafii.
Effect Dunning-Kruger merupakan bias kognitif yang terjadi apabila ada orang yang tidak memunyai kemampuan memiliki ilusi superioritas. Intinya, si orang yang sok pintar tersebut merasa jauh lebih hebat dari orang kebanyakan gitu deh. Masih menurut Dunning-Kogner, peraih Nobel Prize di bidang psikologi tahun 2000 atas makalahnya “Unskilled and Unaware of it: How difficulties in Recognizing One’s Own incompetence Lead to Inflated Self-assessment”, bias kognitif ini biasanya sih diakibatkan oleh ketidakmampuan orang tersebut secara metakognitif untuk mengetahui segala macam kekurangannya. Dalam penelitiannya, mereka menyatakan kalau orang yang inkompeten (pada skill tertentu) itu:
  1. Cenderung menilai tingkat kemampuan secara berlebih.
  2. Tak mampu mengetahui kemampuan orang lain.
  3. Tak dapat memahami ketidak mampuan diri sendiri dan,
  4. Hanya mau mengakui ketidakmampuannya apabila mereka diharuskan berlatih untuk mendapatkan kemampuan tersebut.
Dapat kita lihat dari diagram efek Dunning-Kruger di atas, seseorang yang kompetensinya masih minim, cenderung sangat percaya diri kalau dirinya tahu segala hal. Ini dapat kita ibaratkan efek psikologis para alumni lulusan luar negeri yang baru kembali ke Indonesia. Tentu tak semua ya! tapi mayoritas rasa ke-AKU-annya sangat tinggi. Merasa lebih hebat dari lulusan dalam negeri. Setelah kembali ke Indonesia serta merasakan kembali realita yang ada, maka ia akan terjatuh kepada lembah kegundahan alias valley of Despair. Biasanya, durasi ini sekitar 6-12 bulan pertama, perasaan ini masih ada. Setelah itu, sedikit demi sedikit para lulusan luar negeri ini akan sadar dan mendapat pencerahan untuk berkontribusi membuat perubahan. Masalahnya, apakah semua alumni akan mencapai fase itu? Jangan-jangan, masih banyak yang terjebak di valley of Despair tanpa mendapatkan enlightment? Atau jangan-jangan lagi, para netizen nyinyir di atas hanya melihat mereka, para awardee yang terjatuh dan tak bisa bangkit lagi, dan menutup mata terhadap awardee lain yang berprogres? Semua kemungkinan itu sangat mungkin terjadi kan? 

Kalau Saya ada di posisi mana dalam diagram itu?
Hahahaha, bahkan saya masih memposisikan diri masih hanya beranjak beberapa milimeter dari angka 0: know-nothing at the lowest confidence :((( Kasiahan ya saya! Kamu ada di posisi mana?
“Ilmu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahap pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua ia akan tawadhu. Dan jika memasuki tahapan ketiga, ia akan merasa dirinya tidak tahu apa-apa.” Umar bin Khattab RA
Berbeda dengan terori Effect Dunning-Kruger yang mengaitkan pencari ilmu dengan persepsi diri dan rasa percaya diri, Sahabat Rasul SAW, Umar bin Khattab RA membuat teori pencari ilmu berdasarkan kebijaksanaan yang ia dapat. Secara garis besar pembagian tiga fase ini menarik, mulai dari fase sombong, humble, sampai tersadar kalau dirinya tak tahu apa-apa. Ilustrasi di atas merupakan teori beliau yang saya kaitkan antara knowledge dan wisdom itu ternyata adalah sebanding. Semakin banyak pengetahuan seseorang, maka ia akan semakin bijak. Sebagaimana ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk.

Poin analisa yang dapat saya kaitkan antara teori fase pencari ilmu dengan para lulusan luar negeri adalah; Semakin banyak ilmu pengetahuan, maka ia akan semakin sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Artinya? Ketika ada lulusan luar negeri yang komentar-komentar negatif tanpa solusi seperti fatwa netizen di atas, bisa jadi ilmunya belum cukup untuk mencapai kebijaksanaan yang haqiqi, sehingga ia menyeombongkan diri. Merasa dirinya paling pintar dan lebih tinggi dari orang lain. Simple! Ya Allah, Jauhkan hamba dari sikap sombong sok-pintar itu.
Pisau bedah ketiga adalah dari teori 4 tipe pencari ilmu versi Imam Syafi’i:
  1. Orang yang tahu kalau dirinya tahu (terbaik)
  2. Orang yang tahu kalau dirinya tak tahu
  3. Orang yang tak tahu kalau dirinya tahu
  4. Orang yang tak tahu kalau dirinya tahu (terburuk)
Analisa saya terkait oknum si mental inlander para lulusan luar negeri apabila dikaitkan dengan teorinya om Imam Syafii ini sederhana. Mereka para penyinyir jelas adalah tipe terakhir, yaitu mereka tak tahu kalau mereka tak tahu. Maksudnya, mereka merasa pintar dan lebih tinggi dari masyarakat lokal. Mereka menyinyir prilaku-prilaku buruk masyarakat yang sebenarnya adalah korban sistem. Mereka tak tahu kalau dirinya juga masih bagian dari sistem. Sudah tak sadar kalau mereka bagian dari sistem, bisanya pun cuma nyinyir tanpa solusi. Artinya, mereka memang tak tahu mau berbuat apa kecuali nyinyir. Mereka ga tahu cara untuk berkontribusi. Mereka takpunya ladang bermain. Kasian oknumnya :(((. Semoga kita semua terhindar dari jebakan batman tipe 4. Tipe yang lain, silahkan dinalar sendiri ya! sederhana sekali kok teori om syafii ini.

Hasil Intropeksi

Ada beberapa kesimpulan dan dapat saya kaitkan dari cuitan para netizen dan ketiga teori pencari ilmu di atas:
  1. Kompetensi yang nyata dapat melemahkan kepercayaan diri, karena orang-orang yang kompeten bisa saja salah mengira bahwa orang lain memiliki pemahaman yang sama. Fakta ini berujung pada analisa bahwa semakin pandai seseorang, maka otomatis ia akan semakin humble. Kata pepatah orang Indonesia, seperti ilmu padi semakin berisi semakin merunduk. Kata Shakespeare dalam masterpiecenya As You Like It, orang bodoh merasa dirinya bijak, tetapi orang bijak merasa dirinya bodoh. Hal ini juga didukung oleh ajaran Konfusius yang menyatakan bahwa pengetahuan sejati berguna untuk mengetahui tingkat ketidaktahuan seseorang. Semakin bijak, maka ia semakin merasa tidak tahu apa-apa.
  2. Kesalahan dalam menilai orang yang inkompeten berawal dari kesalahan menilai diri sendiri. Sedangkan kesalahan dalam menilai orang yang sangat kompeten berawal dari kesalahan menilai orang lain. Bahasanya ribet ya! Sederhananya seperti ini, seorang inlander lulusan luar negeri nyinyir prilaku pribumi yang tak tahu cara mengantri. Ia merasa pintar, kompeten, dan pernah merasakan kehidupan terstruktur dengan masyarakat penuh kesadaran di negara-negara maju. Ia tak sadar, dari mana ia berasal. Ia belum mengkaji, darimana sumber dari mindset “tak mau ngantri” itu berawal. Ia belum menelaah kajian budaya dan histori prilaku tersebut. Ia tak menyadari kalau mereka semua pun korban dari sebuah sistem. Pada akhirnya, ia mengecap prilaku pribumi itu inkompeten, padahal itu kembali kepada ketidak-potensi-an dirinya untuk mencoba merubah sistem. Ia tak sadar kalau ia bagian dari sistem. Saya sedih, kata-kata saya muter-muter mulu di poin ini :(
  3. Sebaliknya, Poin pertama dan poin kedua itu juga berlaku bagi masyarakat umum yang mengkambinghitamkan semua awardee/lulusan alumni kampus luar negeri karena nyinyiran sebagian oknumnya :((( Maksudnya, kompetensi yang nyata dapat melemahkan kepercayaan diri empunya. Nah, si netizen yang tak-diketahui kompetensinya dengan PD-nya nyinyir para alumni luar negeri. Saya jadi penasaran, sepintar apa mereka sampai berani nyinyir macam-macam. Apakah mereka juga sudah berkontribusi untuk ibu pertiwi. Poin kedua pun berlaku, masyarakat kita pada umumnya juga menaruh EKSPEKTASI SANGAT BERLEBIHAN kepada para lulusan luar negeri tanpa mengetahui kompetensi mereka itu di bidang apa. Kesalahan persepsi ini juga mengakibatkan kesalahan nilai diri sendiri. Mereka over ekspektasi kepada potensi lulusan luar negeri, dan menganggap dirinya tidak lebih pintar, tapi tanpa mereka sadari kenyinyiran itu adalah bentuk kesombongan kalau mereka merasa alumni luar negeri punya tanggung jawab lebih untuk memperbaiki sistem. Mereka ga sadar, mereka pun bagian dari sistem. 

“The Fool doth thinks he is wise, but the wise man knows himself to be a fool”
William Shakespeare, As You Like It