Mumpung Masih Muda dan Belum Berkeluarga

“Mas Hanif, mumpung masih muda dan belum berkeluarga, perbanyak qiyamulail dan i’tikaf di masjid ya! mumpung masih diberi kesempatan dan sudah memasuki sepuluh hari terakhir Ramadan. Kalau sudah berumur dan berkeluarga seperti saya, semakin banyak urusan ini itu, susah ibadahnya” Ungkap salah seorang warga desa setelah sholat jamaah terawih di kampung halaman saya. Sepintas, petuahnya sangat menyejukkan dan terlihat bijak. But wait, saya rasa pola pikir manusia satu ini butuh koreksi di beberapa bagian.

“Mumpung masih muda dan belum berkeluarga…” Ingin sekali saya berteriak fakta dari observasi saya selama Ramadan di kampung halaman. Pak, sekedar informasi saja ya, saya membuat observasi pribadi dan sosial eksperimen di manapun saya berada, termasuk liburan Ramadan yang sengaja full-time di kampung halaman. Setiap malamnya, jumlah peserta i’tikaf (ikhwan saja ya, saya tidak mungkin observasi akhwatnya) di Masjid Nurul Huda Desa Brangsi selama Ramadan 1439 H hanya sekitar 80 orang. Dari jumlah tersebut terdapat klasifikasi yang sangat jelas dan saya membaginya menjadi tiga golongan peserta i’tikaf.

Golongan pertama adalah pemuda tanggung usia belasan yang kebanyakan adalah murid SMP-SMA bersekolah di luar desa. Jumlah pemuda tanggung ini mencapai 10%. Sejujurnya, saya agak miris melihat fakta tersebut. Hello…? di mana murid-murid yang sekolah di kampung halaman. Terdapat ketimpangan kesadaran beribadah yang sangat kontras antara anak yang selalu berada di kampung dengan anak yang sudah menyicip sedikit kehidupan di luar. Oia, fakta ini juga didukung oleh hampir semua peserta pemuda tanggung ini anak pondok pesantren. Apakah kamu mau bilang, “Pantas saja lha wong anak pondokan”? Saya rasa kurang tepat, karena perguruan Muhammadiyah Brangsi dari TK-SMA kurikulumnya tak kalah “islami”nya dengan pondok pesantren. Hipotesa awal saya sih memang faktor kesadaran internal dan pendidikan keluarga memiliki peran yang vital. Well, saya tidak berani berargumen lebih karena belum melakukan riset lebih dalam.

Golongan berikutnya adalah para dewasa muda usia 20-an sekian yang kebanyakan adalah anak desa berstatus mahasiswa, salah satunya saya. Golongan kedua ini jumlahnya masih sama dengan yang pertama, hanya 10% dari total peserta. Fakta ini membuat saya semakin miris lagi. Saya melihat ketimpangan yang sangat nyata. Mengapa dewasa muda ini didominasi oleh anak kuliahan? Bukankah setiap orang punya hak yang sama dalam beribadah? Bukankah yang membedakan manusia satu dan yang lainnya di mata Allah hanyalah ketaqwaannya? Mengapa status sosial di bawa-bawa? (mendadak emosi). Menurut opini sok-tahu saya, penyebabnya sih mindset “belok” seperti argumentasi pembukaan artikel ini. Sekedar informasi, mayoritas penduduk kampung saya akan menikah setelah lulus SMA, setelah satu sampai dua tahun bekerja dan tahu rasanya “megang duit”. Setelah menikah, beranak pinak, dan kemudian berargumen yang harusnya khusuk ibadah itu mereka yang masih muda dan single. Sedangkan anak kuliahan setidaknya akan tetap men”jomblo” sampai lulus kuliah dan kemudian bekerja. Paling tidak umumnya menikah usia 25 tahun ke atas. Sehingga orang-orang bermindset “belok” itu membuat “Excuse” karena sudah capek bekerja dan pikiran ruwet mikirin keluarga, boleh lah ya melakukan ibadah sekenanya. HEH? Kalian kira menjadi mahasiswa hanya makan-tidur-belajar dan menjadi linta-darat keluarganya sehingga punya waktu ibadah yang lebih longgar?

Golongan terakhir adalah penduduk kampung dewasa berusia 30 tahun ke atas yang jumlahnya mencapai 80% dari total peserta. Profil mereka rata-rata adalah penduduk yang berdomisili penuh di desa dengan pekerjaan bertani, pendidik (guru MI, SMP, SMA di desa), serta pemilik galangan (toko bangunan). Untuk golongan ini, hampir semuanya sudah menikah dan beranak pinak. Fakta ini membuat saya JAUH LEBIH MIRIS dibanding kedua fakta golongan sebelumnya. MENGAPA? Karena manusia akan terus menua dan harus beregenerasi untuk mempertahankan ideologi dan kebudayaannya. Apabila pemakmur masjid didominasi oleh golongan tua, Bagaimana nasib masjid “megah” kami sepuluh sampai dua puluh tahun lagi? Bukahkah salah satu indikator keberhasilan kaderisasi sebuah kepemimpinan adalah regenerasi untuk generasi berikutnya? Apakah generasi tua gagal memimpin? Apakah generasi muda gagal dikader? Akankah kejayaan “Islam” dan pemakmuran masjid di kampung saya tidak akan bertahan lama lagi? Semoga skeptis ini hanya ada dalam pikiran kemungkinan terburuk saya saja.

Counter-Argument

Nah, kita kembali lagi ke topik utama, sebuah pesan singkat dari jamaah sholat di samping saya. “Mas Hanif, mumpung masih muda dan belum berkeluarga . . . Kalau sudah tua, apalagi berkeluarga seperti saya, semakin banyak urusan ini itu, susah ibadahnya”. Hasil observasi saya yang menghasilkan pengelompokan pemakmur masjid saat i’tikaf jelas mematahkan argumentasi orang tersebut. Ada dua poin utama dalam “counter-argument” saya:

Usia

Katanya mumpung masih muda, lebih mudah dalam beribadah. Faktanya, 80% peserta i’tikaf itu golongan tua lho! itu bukan angka prosentase yang kecil. Memang benar, idealnya semakin muda, tubuh lebih sehat dan tenaga masih kuat untuk beribadah. Namun, apakah nikmat usia ini penentu utama dalam beribadah? Bukankah masih banyak faktor lainnya seperti motivasi dan kesadaran akan penghambaan? Jelas si orang tersebut otaknya terjadi distorsi pola pemikiran. Saya kasihan kepadanya yang sibuk mencari pembenaran.

Status Pernikahan

Katanya, mumpung masih single, tidak banyak urusan dan pikiran keluarga, maka ibadah lebih dimudahkan. Faktanya, 85% peserta i’tikaf adalah berstatus suami orang lho! jumlah ini didapat dari 80% golongan tua serta 5% golongan dewasa muda yang sebagian sudah menikah. Dari observasi saya, golongan berstatus keluarga ini malah membawa istrinya ikutan i’tikaf juga lho! Saya dapat mengatakan demikian karena saya melihat sendiri, terutama ketika waktu sahur bersama tiba, beberapa orang makan dengan keluarganya. Jadi, apakah benar status pernikahan itu semakin membuat manusia jadi “susah” (atau lebih tepatnya malas?) beribadah seperti pola pikir orang tersebut di atas? Bukankah sebagai seorang yang sudah penuh, bukan setengah-setengah, karena separuh agamanya sudah terpenuhi, hal itu harusnya malah dijadikan motivasi untuk beribadah lebih baik lagi? Sekali lagi, saya semakin kasihan dengan orang tersebut.

Lucunya, setelah saya mengeluarkan argumentasi berdasarkan hasil observasi, ada yang masih nyletuk, “Wah, ternyata banyak sekali yang i’tikaf, mencapai 80 orang”. Hello….? Saya masih belum percaya kalau dia menyatakan hal itu adalah jumlah yang banyak. Saya kembali berargumentasi berdasarkan fakta. Kampung saya tercinta, Desa Brangsi Kecamatan Laren Kabupaten Lamongan, adalah sebuah desa kecil yang berpenduduk kurang dari 1600 jiwa. Jumlah ini saya perkirakan dari asumsi; Terdapat enam RT di Brangsi, apabila satu RT terdapat sekitar 90 KK, dan setiap KK terdapat 5 orang (tentu ini asumsi paling kecil, karena sepasang warga biasanya dapat beranak antara 5-10 orang. Saya, bahkan, anak ke-6 dari 7 bersaudara. Hanya golongan muda yang melek “KB” yang merencanakan keturunan sekitar 1-3anak saja), maka jumlah keseluruhan warga yang semuanya ber-KTP Islam setidaknya ada 2700 orang. Apabila 40% warga desa merantau (2700-1100=1600) dan jumlah penduduk pria diasumsikan 50%, (50%x1600=800) maka 80 peserta i’tikaf dari total semua penduduk laki-laki di kampung yang berjumlah 800 orang itu adalah jumlah yang SANGAT KECIL! hanya 10% penduduk yang sadar akan keutamaan Ramadan dan berlomba-lomba mengejar lailatul qodar. Menurut persepsi saya, jumlah 10% itu masih sangat kecil lho. MIRIS ya Allah! (NB, belakangan saya ketahui bahwa jumlah zakat fitrah Desa Brangsi diperoleh dari sekitar 1600 jiwa. YES! perkiraan saya tepat!)

Sungguh, hal ini semakin memperkuat keyakinan saya bahwa keterbukaan hati dan pintu kesadaran jiwa adalah mutlak milik Allah azza wa jallah. Apabila memang belum terbuka, sungguh, alas itu luas, tapi tak seluas alasan mereka. Telah kering qalam atas ilmu Allah sebagai qodar masing-masing makhluqnya. Semoga kita senantiasa mendapat perlindungan-Nya dan diringankan kaki-tangannya dalam melaksanakan ibadah. Bukan sebaliknya, hidup hanya disibukkan dalam mencari “pembenaran” diri, bukan kebenaran haqiqi.
If it is important to you, you will find a way

If not, you'll find an excuse!