Pakaianmu Derajatmu

Pernahkah kamu menyadari bahwa masyarakat secara umum masih memandang pakaian sebagai persepsi pertama? memang sih, ada sebuah pepatah lama yang mengatakan “Don’t judge the book by its cover”. Shakespeare pun pernah bersajak dalam puisinya, apalah arti sebuah nama. Well yeah, tapi ini dunia nyata guys! Tidak semua terjadi seperti ideal kita.

Saya masih ingat dengan jelas, salah satu materi dari Rumah Kepemimpinan (RK), asrama mahasiswa ketika saya kuliah dulu menyatakan, persepsi seorang pemimpin dapat dilihat dari 3A; Appearance (Penampilan), Achievement (Prestasi), Attitude (Akhlak). Bisa dilihat kan, poin pertama adalah PENAMPILAN! penampakan itu sesuatu yang vital, karena itu merupakan hal pertama yang dilihat dari kita.

Nah, terus apa hubungannya dengan tema Ramadan kali ini? Kali ini, saya ingin menuliskan sedikit eksperimen saya terkait penampilan di kampung saya, khususnya tampilan islami dalam beribadah. Sungguh, studi Cultural Policy itu membuat otak ini selalu bertanya-tanya tentang ini dan itu, terutama yang berhubungan dengan adat dan kebudayaan. Dalam sosial eksperimen ini, saya mencoba berbagai gaya pakaian selama melaksanakan ibadah i’tikaf dan sholat shubuh 10 hari terakhir Ramadan. Variabel pakaian yang saya kenakan bisa saya klasifikasikan menjadi 4 tipe. Konfensional, Profesional, Casual, Arabian. FYI, saya sudah merantau sejak tahun 2005 ketika lulus SMP, bahkan lima tahun terakhir kepulangan saya dapat dihitung jari, Bang Toyib mah lewat! Kondisi ini membuat wajah saya kurang familiar dengan warga desa sehingga tiap malam ketika Sholat Tarawih, pasti selalu ada yang menanyakan, “Sampean yogane sinten?”, sampai yang paling ekstrim, “Sampean wong monco ta?”. Tentu keadaan ini membawa benefit bagi sosial eksperimen saya, terutama validasi.

Konvensional

Tipe pakaian ini sangat sederhana, yaitu memakai bawahan sarung (ini mutlak), dengan atasan baju koko, kemeja, atau batik. Oia, agar lebih konvensional lagi, warna atasan saya usahakan berwarna putih, sebagaimana warna kesukaan Rasulullah yang menjadi panutan warna favorit warga desa. Selain itu, tipe konvensional ini juga mutlak memakai penutup kepala dengan berbagai makna. Masyarakat secara umum memakai kopyah hitam, mayoritas polos, beberapa ada yang bercorak biasanya anak muda. Sebagian lagi memakai peci bundar putih, hal ini penanda bagi warga yang sudah pernah berkunjung ke Baitullah, baik itu melaksanakan ibadah haji maupun umroh. Apabila belum melaksanakan Rukun Islam kelima, warga enggan memakai peci putih lho!

Bagaimana tanggapan warga ketika saya mengenakan baju konvensional ini? Tentu sangat senang dan menganggap saya sebagai bagian dari kelompok mereka, karena memang lebih dari 80% bergaya demikian. Terkadang saya memakai kopyah hitam polos, terkadang peci bulat putih. Karena sebagian warga ada yang tahu kalau saya sudah haji, tentu hal ini tidak akan jadi topik ghibah dengan topi saya. kalau boleh saya beri nilai penerimaan warga dari angka 1 sampai 10, saya kasih 9! Bravo gaya kaum sarungan!

Profesional

Gaya busana ini merupakan gaya berpakaian office-look yang dibawa ke masjid. Celana bahan (saya pakai yang slim fit) dan baju kemeja yang kebanyakan dimasukkan ke dalam celana, kemudian memakai ikat pinggang. Terkadang saya memakai kopyah hitam, terkadang tak memakai penutup kepala alias polosan. Terkadang kemeja panjang saya lipat sampai siku, biar kelihatan ala-ala orang kantoran yang lagi istirahat. Hahaham nggaklah, supaya mudah berwudu aja! Ya, secara umum penampilan seperti orang pergi ke kantor lah!

Bagaimana reaksi mereka dengan gaya profesional? FYI, di desa saya ada sebuah istilah “baju masuk”, yaitu gaya berpakaian kemeja yang dimasukkan ke dalam celana. Hal ini menandakan bahwa ia adalah orang sukses (duniawi) dan kuat secara materi (finansial). Beberapa bos besar gaya pakaiannya seperti ini. Tentu, gaya ini adalah favorit kedua warga setelah gaya konvensional. Jadi ketika saya memakai pakaian kantor, banyak warga yang menyapa dan menaruh respect, seperti status sosial saya naik beberapa derajat di mata mereka, HAHA! dari angka 1-10, saya kasih nilai 8 deh untuk penerimaan warga! Hidup Baju Masuk!

Casual

Tipe kasual adalah gaya pakaian anak muda yang kelihatan santai dan sangat nyaman dipakai. Tentu tak ada standar mutlak untuk tipe yang satu ini. Memang, mayoritas pemakai kasual adalah anak muda. Kalau saya perhatikan di masjid, biasanya pemuda-pemuda ini memakai celana jins dan kaos beraneka rupa seperti plagiat gaya distro yang gagal total. Saya pribadi mencoba beberapa gaya; diantaranya memadukan antara trainingelegant casual dengan polo shirt polos, atau memakai kaos polos (putih atau abu-abu) dengan luaran cardigan, atau sweater ketje yang menawan (tentu pilihan terakhir ini salah kostum men! Ini Indonesia Bro, musim panas pula! Bukan musim dingin di negara-negara empat musim). Tentu, gaya saya stay monochrome ya!

Penasaran dengan reaksi warga? Saya pernah duduk diam di shaf tiga depan, kemudian DIUSIR! DISURUH PINDAH KE BELAKANG! oleh orang tua tak dikenal. Tidak hanya itu, bahkan ibu saya pun beberapa kali berkomentar, “Cung, gantio klambi sing pantes kanggo na Mejid” WHAT??? Baju yang pantas untuk ke masjid itu seperti apa? Bukankah kita disuruh memakai pakaian terbaik (versi kita) untuk menghadap Tuhan? Pakaian itu salah satu baju favorit saya, Mak! polo shirt hitam branded yang mengharuskan saya puasa beberapa hari setelah membelinya, serta celana training dari rumah desain terkemuka di UK! ya Allah! Fiks, saya hanya memberi nilai 5 dari 10 untuk gaya berpakaian kasual ini! Hiks!

Arabian

Nah, apa yang ada di benak kalian ketika mendengar gaya berpakaian orang Arab? Jubah dan kopyah! Putih! Apalagi? Hahaha! saya tak perlu panjang lebar melakukan deskripsi produknya ya! Terkadang saya memakai jubah putih polos dan kopyah putih. Saya juga pernah memakai gaya Arab kasual, yaitu jubah coklat keemasan elegan (lebih mirip jubah kurung orang Pakistan yang agak blink blink), tanpa mengenakan penutup kepala. Hasilnya, ada beberapa pengurus masjid yang dulunya adalah guru saya ketika masih sekolah di Desa, mereka menyapa “Wah, kirain sampean itu Ustadz dari Namirah lho Mas!”. Saya masih penasaran, apakah ini murni pujian atau sebuah sarkasm? Setelah saya observasi lebih lanjut, serta berdiskusi dengan beberapa orang, termasuk kakak ipar saya yang merupakan salah satu ustadz di kampung saya menemukan beberapa fakta. Mayoritas warga tidak terlalu suka dengan gaya berpakaian kearab-araban, kecuali kalian adalah ustadz beneran! Dari sini, saya mengintepretasikannya menjadi dua hal: Masyarakat ingin membentengi kebudayaan lokal (gaya konvensional) dengan menyerang gaya ke-arab-an. Bagi mereka, Ini adalah Indonesia, bukan Saudi Arabiyah! kedua, hal ini bukan berarti warga mutlak tidak menyukai model baju jubah panjang ala syeh, tapi malah menganggap hanya ustadz “beneran” yang patut penyandang gaya pakaian tersebut. Nah lho! standar ganda lagi kan bro! untuk gaya ini, saya beri nilai 5 deh, karena ambiguitasnya.

Adab Berpakaian (Bagi Laki-Laki) ketika ke Masjid

Sebenarnya, ujung dari sosial eksperimen yang saya lakukan tersebut adalah ingin mengingatkan diri sendiri tentang adab berpakaian, khususnya bagi pria, ketika melaksanakan ibadah sholat. Mengapa demikian? Karena saya ingin mencoba menarik benang merahnya langsung dari tuntunan Islam, bukan sekedar nilai adat belaka. Karena syarat dalam adab berpakaian ketika beribadah secara umum hanya dua; Menutup aurat dan memakain pakaian terbaik kita. Sebagaimana Firman Allah SWT “Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid).” (Q.S Al-A’raf:31). Sedangkan aurat laki-laki juga sudah sangat gambalang dijelaskan dari pusar sampai lutut.

So, bagaiamana kita mengukur kepantasan berpakaian ketika ke masjid? Sudah tentu menggunakan dua variabel di atas lah! menutup aurat dan pakaian terbaik menurut kemampuan. Kita coba bedah empat variabel di atas:
Konvensional: menutup aurat, dan pakaian paling ketje bagi sebagian besar warga kampung saya!
Profesional: menutup aurat, dan gaya paling trendy bagi orang “sukses” warga kampung. Monggo!
Kasual; menutup aurat, dan gaya paling nyaman bagi pemuda jaman now, Go for it!
Arabian, menutup aurat, pakaian standar orang Arab, dan (seharusnya) siapapun berhak saja memakainya, orang Jawa sekali pun! Silahkan guys ke masjid pakai Jubah!


Menurut sebuah hadits Jabir (Shahih), Rasulullah menyuruh laki-laki untuk menutup auratnya ketika ke masjid serta menutup kedua pundaknya hingga ke dua lututnya ketika sholat. Kecuali jika ia tidak memiliki pakaian kecuali sehelai kain yang sempit, maka ia bersarung dengan kain tersebut yang menutup antara kedua lutut dan pusarnya; dan membiarkan bagian atasnya terbuka. See? yang bikin ruwet dalam adab perpakaian itu masyarakat sendiri kok! Masyarakat yang suka membuat peraturan sendiri. So, silahkan pergi ke masjid dengan pakaian terbaikmu (yang menutup aurat). Tentu, bukan berarti kamu boleh sholat telanjang dada atau hanya pakai kaos kutang! GA SOPAN! Hahahaha
Appearance can be deceptive
First appearance deceive many