Ramadan di Brangsi

“If it is important, you’ll find a way. If it’s not, you’ll find excuse”

Ramadan 1439 H merupakan momen istimewa bagi saya. Bagaimana tidak, sejak saya lulus kuliah tahun 2013, saya sangat jarang pulang. Frekuensi kepulangan saya hanya setahun satu sampai dua kali doang. Itupun hanya beberapa hari. Kalau dulu masih kuliah di ITS Surabaya, masih pulang setidaknya sekali dalam dua sampai tiga bulan. Bahkan, 2014 dan 2015 saya full Ramadan di luar, waktu itu masih bertugas menjadi Pengajar Muda, Indonesia Mengajar. Sedangkan, lanjut, tahun 2016 dan 2017 masih tugas belajar di Inggris. Baru tahun 2018 ini saya dapat menyempatkan untuk melaksanakan ibadah di kampung halaman. Tolong digarisbawahi, MENYEMPATKAN ya! Bukan sekedar menunggu kesempatan, tapi benar-benar berniat menciptakan waktu luang itu sendiri. Saya jadi teringat proverb lawas, kamu akan menemukan jalan apabila kamu menganggapnya penting. sebaliknya, kamu akan selalu menemukan alasan kalau hal itu tidak kamu anggap penting. Delapan tahun terakhir, saya sadar sangat jarang pulang. Berasa durhaka kepada orang tua, HAHAHA. Tolong jangan salahkan Bang Toyib, dia bukanlah sumber inspirasiku tak pulang-pulang.

Nah, selama dua bulan penuh saya menghabiskan waktu di kampung halaman lho! Itu berarti, saya dapat melaksanakan ibadah puasa penuh di rumah! makan sahur dan buka bersama keluarga dengan masakan rumahan yang selama ini jarang saya rasakan. Tentu, saya tak serta merta makan minum tidur dan beribadah doang. Supaya otak ini tidak membeku, saya selalu melakukan sosial eksperimen dan observasi kecil-kecilan. Beberapa sudah saya tuliskan di catatan sebelumnya (buka sosial eksperimen tentang pandangan masyarakat tentang cara berpakaian di kampung sampai observasi qiyamulail). Ada beberapa hal yang ingin saya tuliskan pengalaman ber-Ramadan di kampung halaman, di antaranya adalah:

Masjid Namira KW Super

Apakah kamu pernah mendengar kisah tentang Masjid paling hits di Lamongan yang sempat viral beberapa bulan lalu? Yup, Namira namanya. Masjid yang baru beroperasi penuh kurang dari setahun itu mendapat perhatian warganet karena konsep pemakmuran masjidnya yang luar biasa optimal. Sebagai masjid termegah dan terheboh sepanjang masa di Kota Soto ini, tentu pemasukan dana hibah dari para jamaah pasti tidak kecil. Takmir masjid memastikan setiap bulan saldo tersebut harus menjadi IDR 0 untuk mengadakan berbagai kegiatan pemakmuran masjid dan menarik jamaah. Mulai dari mempercantik tampilan fisik sampai pelaksanaan kajian-kajian dari ustadz hits nasional.

Tak berbeda jauh dari Namira, Masjid Nurul Huda Desa Brangsi, kecamatan Laren Kabupaten Lamongan juga baru selesai pemugaran dua tahun lalu. Bahkan sebelum Ramadan tahun ini, masjid berkubah biru itu menambah kenyamanannya dengan melapisi semua lantai yang terbuat dari batu granit mahal itu dengan karpet hijau mewah dengan total dana yang dihabiskan tak kurang dari IDR 500 juta saja untuk karpetnya, menurut informasi dari takmirnya. Setiap pengunjung manca-desa dan khatib maupun imam Sholat Tarawih selalu takjub dan tak segan mengungkapkan keindahan masjid megah yang dijuluki Namira KW super itu. Pertanyaannya, apakah kemegahan itu hanya sekedar kegagahan fisik saja?  Bagaimana dengan program-programnya, apakah pantas masjid desa saya itu dijuluki Namira KW super?

Program Pemakmuran Masjid

Selama sebulan penuh menjalankan ibadah Ramadan di kampung, ada beberapa program yang menarik untuk digarisbawahi. Beberapa di antaranya adalah program-program standar yang sudah rutin dilaksanakan, seperti kuliah shubuh rutin dan khutbah setiap pelaksanaan jamaah sholat Terawih. Menariknya, menurut takmir masjid di awal Ramadan, Selama 20 hari pertama Ramadan, Imam sholat jamaah langsung di datangkan dari Namira. Sedangkan khatib 75% masih akan didominasi oleh da’i lokal. Sebaliknya, 10 hari terakhir akan rutin mendatangkan khatib dari manca-desa, sedangkan imam masjid akan dipimpin oleh mubaligh lokal. Faktanya? hampir sebulan penuh imam masjid didominasi oleh Mas Zakki, hafidz muda dari Namira yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di kampung kami. Kalau saya lihat si Zakki, kadang malu sendiri. saya yang lahir beberapa tahun sebelumnya saja masih belum bisa tilawatil quran dan menghafal banyak ayat Allah. Hampir 80% imam masjid adalah beliau, hanya beberapa kali kesempatan, misalnya dua malam mendatangkan imam dari Mesir (seriusan, Mesir asli hahaha) dan beberapa translator untuk menerjemahkan khutbahnya. Isi khutbahnya masih didominasi oleh ancaman siksa neraka dan iming-iming kecantikan bidadari syurga. Menarique.

Masjid ini juga mengadakan pengajian tafsir Al-Quran 2-4 kali sebulan. Kajian tafsir ini langsung mendatangkan salah satu ustadz kondang dari Ponpes Sedayu, Gresik. Cara penyampaian yang santai dibumbuhi dengan jokes-jokes lokal membuat jamaah pengajian betah mendengarkannya sampai berjam-jam. Pernah nih ya, kajian tafsir diadakan setelah sholat Shubuh, dan baru selesai hampir jam 7 pagi. Saya sampai geleng-geleng, hebat banget nih kiai dalam mendongeng. Adaaaaaa saja perumpamaan dalam penjelasan ayat supaya mudah dipahami masyarakat. Idenya ga abis-abis!

Selain itu, diadakan pula program buka puasa bersama setiap Rabu selama Ramadan. Kegiatan ini diawali dengan khutbah kajian agama sekitar pukul 16.00 WIB, satu jam pasca ibadah Sholat Ashar. Menariknya, kegiatan ini merupakan adaptasi dari program di luar Ramadan, yaitu kajian Islam yang memang diadakan setiap rabu sore juga. Kemudia pada 10 hari terakhir Ramadan, Takmir masjid juga mengadakan program I’tikaf di masjid serta sahur bersama. Catatan penting, masakan yang disajikan selama kegiatan itu lumayan mewah untuk ukuran di kampung. Rasanya juga sangat enak! Saya menikmati setiap masakan yang saya konsumsi di masjid! HAHA.

Qiyamulail

Ngomongin Ramadan tidak afdol rasanya kalau tidak membicarakan ibadah malamnya. Sholat terawih, tadarus Al-Quran setelahnya, kemudian I’tikah pada 10 hari terakhir adalah menu kegiatan utamanya. Saya perhatikan, jumlah jamaah Sholat Terawih itu meningkat sangat signifikan kalau dibandingkan dengan jamaah sholat lainnya (kecuali Idul Fitri & Idul Adha ya tentunya). Jumlah jamaah paling banyak tentu pada tiga hari pertama Ramadan, serta dua hari terakhir menjelang lebaran. Sebaliknya, jamaah paling sedikit adalah pertengahan bulan. Kalau saya perkirakan, pencilan atas mencapai lebih dari lima ratus orang. Hal ini saya asumsikan, warga yang sholat jamaah (barisan ikhwan) mencapai 15 shaf. Apabila satu shaf sekitar 36 orang, maka totalnya adalah 540. Sebaliknya, jumlah paling sedikit pernah hanya mencapai 6.5 shaf, atau totalnya sekitar 234, menyusut hampir 60%. Apakah jumlah itu sudah banyak? Mari kita bandingkan dengan jumlah warga keseluruhan ya!

Apabila kampung saya terdiri 6 RT, setiap RT terdiri dari sekitar 90 KK, dan setiap KK terdiri dari rata-rata 5 orang, maka jumlah total warga Desa sekitar 2700. Apabila jumlah perantau mencapai 40%, (2700-1100=1600) penduduk pria saya asumsikan 50% (1600-800=800), maka total warga desa pria muslim yang berada di kampung ada 800 orang. Sedangkan, anak usia sekolah Madrasah diwajibkan melaksanakan ibadah di sekolah. Apabila jumlah anak usia MI ke bawah mencapai 100 orang, maka potensi perkiraan kotor jamaah laki-laki muslim yang ke masjid sekitar 700 orang. Jadi, jumlah jamaah terawih paling banyak mencapai 77% dari total seluruh warga desa, sedangkan poin terendah mencapai titik ekstrim 34% lho! Bagaimana persepsi kalian, apakah 77% itu dapat dikatakan partisipatif?

Lain terawih lain tadarus ya! saya hanya memperhatikan masyarakat yang membaca Al-Quran di Masjid. hal ini bukan berarti yang ga baca Quran lho ya! Karena tadarus bisa dilaksanakan di mana saja. Setiap malam, jumlah yang tadarus (ikhwan) hanya sekitar 70 orang atau sekitar 10% jumlah warga. Itupun didominasi oleh para kaum tua (usia 50 tahun ke atas), dan pelajar SMP-SMA yang diwajibkan oleh gurunya. Anak-anak seumuran saya mah ga punya teman kalau mau nyari sebaya ketika tadarus, Hiks! Sedangkan untuk I’tikaf juga jumlahnya tidak jauh dari jumlah tadarus. Seperti yang sudah saya bahas di posting sebelumnya, peserta i’tikaf hanya sekitar 10%.

Infaq dan Sedekah

Ketika khutbah sholat Idul Fitri, diumumkan bahwa jumlah total infaq selama Ramadan mencapai IDR 80 Juta. Sedangkan, infak jamaah sholat Idul Fitri mencapai IDR 18 Juta. Kalau ditotal, hampir mencapai IDR 100 juta. Hal itu belum termasuk sedekah berupa konsumsi selama melakukan berbagai kegiatan pengajian. Terkait sedekah, saya sangat mengapresiasi masyarakat saya atas partisipasinya. Aplikasi surat Al-Maun untuk peduli kepada kaum yang membutuhkan merupakan salah satu ajaran yang dioptimalkan. Jangankan infaq Ramadan, pembangunan masjid yang katanya ditaksir hampir 2M ini saja mayoritas dari swadana masyarakat. Bisa bayangkan ga betapa besar surplusnya daging kurban ketika hari raya Idul Adha? Setiap tahun lebih dari seratus kambing dan tak kurang dari 20 sapi selalu terkumpul dari desa mungil ini. Okey, kita turunkan ke level yang lebih fun deh! bahkan untuk menyemarakkan Bulan Ramadan, ada sebuah RT yang memulai memasang lampu kelap-kelip di pasang di depan rumah, dan semua RT turut berpartisipasi. Alhasil, kampungku terlihat seperti pasar malam HAHAHAHA. Mendadak baper, saya keinget gemerlapnya Ashton line di dekat kampus tempat nongkrong saya dulu. BANGGA!!!
Overall, saya sangat bangga dengan segala macam perubahan positif yang terjadi di kampung halaman saya yang sudah saya tinggal merantau sejak tahun 2005. Namun, kebanggaan ini hanya sekedar kekaguman saja kalau tanpa diimbangi dengan umpan balik. Walaupun banyak perubahan positif, namun masih ada beberapa ganjalan dari opini saya pribadi. Di antara topik penggalnjal itu adalah:

Regenerasi

Seperti yang saya bahas di atas, 90% khatib dan imam jamaah Terawih, serta kuliah shubuh, adalah dari ustadz manca-desa. Semakin kaget dengan fakta bahwa imamnya, Mas Zakki, adalah seorang pemuda belum genap 25 tahun yang sedang berjuang menyelesaikan kuliahnya dan magang di Masjid Namira. Saya cuma berfikir, Kemana semua pemuda desa? Bagaimana regenerasi para pemakmur masjid? Apakah program kepemudaan untuk melanjutkan tongkat estafet berjalan lancar? Saya semakin sedih lagi ketika melihat peserta tadaruz Al-Quran dan I’tikaf. 80% adalah golongan tua lho! (baca analisa saya pada tulisan sebelumnya). Kesedihan itu bertambah lagi ketika saya hanya bisa mengkritisi tanpa berbuat sesuatu yang berarti, karena saya merupakan bagian dari 40% penduduk desa yang merantau itu. Paling cuma bisa nyumbang infaq yang tidak seberapa dan juga memberi motivasi di Madrasah Ibtidaiyah serta Masrasah Diniyah supaya adik-adik tetap semangat mengejar mimpinya. 

Project Management Skill

Saya sudah menjelaskan di atas, betapa mewahnya masjid Namira KW super yang menghabiskan dana sekitar dua miliyar ini. Saya senang ketika melihat pemasangan karpet, empuk dan nyaman untuk beribadah. Namun mendadak kemampuan Project Management yang pelajari di kuliah dulu keluar. Masjid megah ini dibangun dengan ubin marmer granit yang sangat mahal. Lalu, kenapa harus dilapisi lagi dengan karpet yang tak kalah mahalnya? Maksud saya, pilih salah satu saja untuk menekan biaya. Apabila mau dilapisi karpet mewah, kenapa harus dipasang granit super mahal? Sebenarnya masih banyak hal minor, termasuk posisi masjid dan juga beberapa penggunaan material seperti cat. Tapi saya tak akan terlalu banyak berkomentar karena saya juga tidak dapat memberi input apapun.

Keterbukaan

Ada cerita lucu dalam proses pengecatan dan dekorasi masjid. Pihak takmir secara sengaja langsung meminta para tukangnya untuk segera menuliskan lambang Muhammadiyah di kubah tengahnya. “Supaya semua orang tahu Mas, kalau masjid ini adalah masjid Muhammadiyah’” So What! Hahahahaa, tak dapat dipungkiri, sebagai warga perantau yang jarang pulang, beberapa gesekan antara warga Muhammadiyah (yang sebelumnya semua warga desa adalah satu ormas) dengan teman-teman salafy (gerakan dari warga perantau beberapa tahun silam yang semakin lama semakin membesar dan berani menampakkan diri). Well, saya tidak bilang benar-salah atau apalah, yang saya cermati adalah, penerimaan warga terkait pandangan lain selain pandangan mayoritas adalah salah itu bikin hati nyesss. Coba baca tulisan saya tentang pakaian di postingan sebelumnya. Bisa di bayangkan kan? perbedaan pakaian aja masih menjadi konflik identitas, apalagi perbedaan aliran. Ya Allah, ngelus dada. 

Regenerasi, Project Management, dan Keterbukaan, memang hal major yang sangat terlihat di mata saya selaku perantau. Tentu, masih banyak hal minor yang tak akan habis apabila saya tuliskan semua. Namun, bukankah semua manusia memang selalu dalam proses belajar? Saya sangat yakin, kampung saya akan semakin berkembang ke depan, sehingga ketiga isu di atas menjadi isu minor yang tertutupi dengan persatuan. Saya tak sabar melihat masa itu. Apakah itu masa di mana saya menjadi Hokage berikutnya? Who knows!
Each one of us can make a difference. Together we make change